Ada nama Asterix dan Yoda

LIPI Berhasil Deskripsikan Ratusan Jenis Kumbang di Hutan Sulawesi

David Priyasidharta

Sabtu, 16 Maret 2019 - 11:23

JATIMNET.COM, Cibinong - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berhasil mendeskripsikan 103 jenis baru dari kumbang Trigonopterus di jurnal open access Zookeys. Deskripsi ini dipublikasikan melalui Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) dan Museum Natural History Karlsruhe, Jerman.

Salah satunya kumbang moncong (Coleoptera: Curculionidae), dari genus Trigonopterus yang baru ditemukan satu jenis di Sulawesi sejak 1885.

Di antara 103 kumbang Trigonopterus yang dideskripsikan tersebut, ada nama-nama jenis yang menggunakan nama karakter fiksi seperti Asterix, Obelix dan Idefix dari komik ”The Adventures of Asterix“ serta Yoda dari film “Star Wars”.

BACA JUGA: Alam Kandung Pesona Keindahan Tulungagung

“Penamaan jenis kumbang ini juga diberikan kepada tokoh-tokoh yang berjasa di bidang biologi seperti penemu teori evolusi Charles Darwin serta penemu struktur DNA, Francis Crick dan James Watson,” ujar peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI, Raden Pramesa Narakusumo dalam laman LIPI, Kamis 14 Maret 2019.

Deskripsi kumbang-kumbang Trigonopterus ini menggunakan pendekatan taksonomi modern yang dibantu dengan teknik DNA barcoding. Metode ini membantu para peneliti untuk menemukan dan mendeskripsikan jenis-jenis yang demikian banyak dalam waktu relatif cepat.

“Kumbang-kumbang ini memiliki kesamaan morfologi satu sama lain dan sukar dibedakan secara langsung,” jelas Pramesa.

BACA JUGA: Avengers, Ada Kematian Kapten Amerika di Endgame?

Ia menjelaskan, kumbang Trigonopterus kebanyakan hanya dapat ditemui di habitat hutan hujan tropis yang kondisinya masih baik dan dengan sebaran yang tidak begitu luas.

“Temuan kami menunjukkan bahwa, 79 dari 103 jenis Trigonopterus di Sulawesi hanya dapat ditemukan di satu lokasi saja, 15 diantaranya dapat dijumpai pada kawasan dalam radius di bawah 30 kilometer dan delapan jenis lainnya dalam radius di bawah 90 kilometer,” jelas Pramesa.

Menurutnya, tingkat endemisitas kumbang ini menunjukkan pentingnya perlindungan dan konservasi kawasan hutan.

BACA JUGA: Banyuwangi Kembangkan Destinasi Wisata Arsitektur

Pramesa menjelaskan, penemuan 103 jenis baru kumbang Trigonopterus ini belum menunjukkan gambaran lengkap dari keseluruhan kumbang Trigonopterus di kawasan Wallace.

“Sulawesi memiliki kompleksitas geologi yang tinggi dan belum banyak mengungkap keberadaan fauna-fauna berukuran kecil seperti kumbang Trigonopterus,” ujarnya.

Alexander Riedel, kurator Museum Natural History Karlsruhe mengungkapkan kolaborasi ini akan terus berlanjut. “Studi kumbang Trigonopterus membuahkan hasil yang sangat baik. Kolaborasi ini akan kami teruskan di masa depan,” tutupnya.

Baca Juga

loading...