Logo

Alasan Mahasiswa Memilih Belajar di Kafe

Tempat belajar yang nyaman sering kali sama pentingnya dengan materi yang dipelajari.
Reporter:,Editor:

Sabtu, 20 June 2026 05:00 UTC

Alasan Mahasiswa Memilih Belajar di Kafe

Ilustrasi: Belajar sambil ngopi. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Belajar di kafe kini menjadi pemandangan yang semakin umum di berbagai kota pendidikan dan kawasan perkotaan.

 

Di Surabaya, misalnya, tidak sulit menemukan mahasiswa yang mengerjakan tugas, menyusun presentasi, atau berdiskusi kelompok di kedai kopi modern.

 

Fenomena ini sering dianggap sekadar mengikuti tren. Namun jika diamati lebih dalam, ada berbagai faktor yang membuat kafe menjadi pilihan alternatif bagi mahasiswa untuk menjalani aktivitas akademik.

 

Perubahan gaya belajar, kebutuhan ruang sosial, hingga keterbatasan lingkungan belajar di tempat tinggal turut membentuk kebiasaan tersebut.

 

Karena itu, belajar di kafe bukan sekadar soal kopi, melainkan juga tentang bagaimana generasi muda mencari ruang yang mendukung produktivitas.

 

 

Lingkungan Belajar Berpengaruh terhadap Konsentrasi

 

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa lingkungan fisik memiliki pengaruh terhadap kemampuan seseorang dalam mempertahankan fokus.

 

Menurut penelitian yang dipublikasikan oleh University of Chicago, tingkat kebisingan sedang sekitar 70 desibel dapat membantu meningkatkan pemikiran kreatif dibandingkan suasana yang terlalu sunyi maupun terlalu bising.

 

Kondisi ini menjelaskan mengapa banyak mahasiswa merasa lebih nyaman belajar di kafe dibandingkan di kamar kos yang sempit atau lingkungan yang penuh gangguan.

 

Suara mesin kopi, percakapan ringan, dan aktivitas pelanggan lain sering menciptakan suasana yang cukup hidup tanpa terasa mengganggu.

 

Bagi sebagian orang, kondisi tersebut justru membantu menjaga konsentrasi dalam jangka waktu lebih lama. Tidak mengherankan jika banyak mahasiswa memilih berpindah tempat ketika menghadapi tugas yang membutuhkan fokus tinggi.

 

 

Keterbatasan Ruang di Tempat Tinggal Mahasiswa

 

Fenomena belajar di kafe juga berkaitan dengan realitas kehidupan mahasiswa perkotaan. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa jumlah mahasiswa Indonesia telah melampaui 9 juta orang dalam beberapa tahun terakhir.

 

Sebagian besar di antaranya tinggal di rumah sewa, kontrakan, atau kos selama masa studi. Banyak kamar kos dirancang untuk kebutuhan dasar dengan luas terbatas.

 

Ruang belajar yang nyaman tidak selalu tersedia. Akibatnya, mahasiswa mencari alternatif yang memungkinkan mereka bekerja lebih leluasa. Kafe menyediakan meja yang lebih besar, pencahayaan yang baik, serta suasana yang mendukung aktivitas akademik.

 

Selain itu, sebagian mahasiswa juga merasa lebih termotivasi ketika berada di lingkungan yang memperlihatkan orang lain sedang bekerja atau belajar.

 

 

Internet Menjadi Faktor Penting

 

Akses internet menjadi salah satu alasan utama meningkatnya popularitas belajar di kafe.  Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan tingkat penetrasi internet Indonesia telah mencapai lebih dari 79 persen populasi pada 2024.

 

Hampir seluruh aktivitas akademik modern kini bergantung pada koneksi internet. Mulai dari mengakses jurnal, mengirim tugas, mengikuti kelas daring, hingga melakukan riset literatur.

 

Karena itu, keberadaan jaringan Wi-Fi yang stabil menjadi nilai tambah yang sangat besar bagi mahasiswa. Banyak kedai kopi memahami kebutuhan tersebut dan menjadikannya sebagai bagian dari layanan utama.

 

Dalam praktiknya, internet yang cepat sering kali menjadi daya tarik yang sama pentingnya dengan kualitas kopi yang disajikan.

 

 

Kafe Menjadi Ruang Kolaborasi yang Fleksibel

 

Aktivitas kuliah saat ini semakin banyak menekankan kerja kelompok dan kolaborasi. Laporan World Economic Forum mengenai keterampilan masa depan menunjukkan bahwa kemampuan bekerja sama, komunikasi, dan pemecahan masalah menjadi kompetensi yang semakin dibutuhkan di dunia kerja modern.

 

Kebutuhan tersebut mulai terbentuk sejak bangku kuliah. Mahasiswa sering mengerjakan proyek bersama, menyusun presentasi kelompok, atau berdiskusi mengenai berbagai ide.

 

Kafe menawarkan fleksibilitas yang sulit diperoleh di ruang kelas formal. Mahasiswa dapat berdiskusi lebih santai tanpa tekanan suasana akademik yang terlalu kaku.

 

Tidak sedikit pula komunitas kampus yang memanfaatkan kedai kopi sebagai lokasi pertemuan rutin karena suasananya dianggap lebih terbuka dan inklusif.

 

 

Ada Nilai Sosial yang Tidak Ditemukan di Ruang Belajar Biasa

 

Selain faktor akademik, belajar di kafe juga memiliki dimensi sosial yang menarik. Generasi muda saat ini hidup di tengah mobilitas tinggi dan interaksi digital yang sangat intens.

 

Dalam kondisi seperti itu, ruang tatap muka tetap memiliki nilai penting. Kafe menjadi tempat di mana mahasiswa bisa bertemu teman, memperluas jaringan pergaulan, dan membangun koneksi baru tanpa harus mengikuti acara formal.

 

Fenomena ini sejalan dengan konsep third place atau ruang ketiga yang banyak dibahas dalam studi perkotaan. Ruang tersebut berfungsi sebagai titik temu antara kehidupan pribadi dan aktivitas akademik atau pekerjaan.

 

Karena itu, kehadiran kafe sering kali memenuhi kebutuhan yang lebih luas dibandingkan sekadar tempat belajar.

 

 

Belajar di Kafe Bukan Sekadar Tren

 

Jika dilihat secara menyeluruh, alasan banyak mahasiswa memilih belajar di kafe tidak hanya berkaitan dengan gaya hidup modern.

Lingkungan yang mendukung konsentrasi, keterbatasan ruang tinggal, akses internet yang baik, serta kebutuhan kolaborasi menjadi faktor yang saling melengkapi.

 

Bagi sebagian mahasiswa, kafe menawarkan kombinasi kenyamanan dan produktivitas yang sulit ditemukan di tempat lain. Sementara bagi yang lain, kafe menjadi ruang sosial yang membantu menjaga keseimbangan antara aktivitas akademik dan kehidupan sehari-hari.

 

Karena itulah fenomena belajar di kafe terus bertahan hingga sekarang. Di tengah perubahan cara belajar dan bekerja, kedai kopi modern telah berkembang menjadi salah satu ruang yang paling dekat dengan kehidupan mahasiswa masa kini.