Logo

Jeda Singkat di Tempat Kerja Membantu Menjaga Konsentrasi

Produktivitas bukan ditentukan oleh lamanya bekerja, melainkan kemampuan menjaga fokus dari awal hingga akhir hari.
Reporter:,Editor:

Minggu, 02 August 2026 14:30 UTC

Jeda Singkat di Tempat Kerja Membantu Menjaga Konsentrasi

Ilustrasi jeda sejenak dari pekerjaan. Foto: -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Jeda singkat saat bekerja sering dianggap sebagai penghambat produktivitas. Tidak sedikit orang memilih terus duduk di depan komputer selama berjam-jam dengan harapan pekerjaan selesai lebih cepat. Padahal, tubuh dan otak memiliki batas kemampuan untuk mempertahankan konsentrasi dalam waktu lama.

 

International Labour Organization (ILO) memperkirakan lebih dari 2,93 juta orang meninggal setiap tahun akibat kecelakaan kerja dan penyakit yang berkaitan dengan pekerjaan di seluruh dunia.

 

Sebagian besar kasus tersebut berkaitan dengan penyakit akibat kerja, sementara sisanya berasal dari kecelakaan kerja. Angka tersebut menunjukkan pentingnya menciptakan lingkungan kerja yang tidak hanya produktif, tetapi juga mendukung kesehatan pekerja.

 

Di ruang kerja modern, menjaga fokus tidak selalu berarti bekerja tanpa henti. Memberi kesempatan tubuh bergerak sejenak justru menjadi bagian dari kebiasaan kerja yang semakin banyak diterapkan.

 

 

 

Otak Membutuhkan Waktu untuk Mengatur Ulang Perhatian

 

Ketika seseorang mengerjakan tugas yang sama selama berjam-jam, kemampuan otak untuk mempertahankan perhatian akan menurun secara bertahap.

 

Kondisi ini membuat pekerjaan yang sebenarnya sederhana terasa lebih berat dan meningkatkan kemungkinan terjadi kesalahan.

Banyak perusahaan kini mulai mendorong budaya kerja yang lebih seimbang. Bukan dengan mengurangi tanggung jawab, melainkan memberi ruang bagi pekerja untuk berdiri, berjalan sebentar, atau sekadar mengalihkan pandangan dari layar komputer.

 

Kebiasaan sederhana tersebut membantu mata beristirahat dan memberi kesempatan otot leher, bahu, serta punggung untuk kembali rileks sebelum melanjutkan pekerjaan berikutnya.

 

 

 

Bergerak Sejenak Memberi Manfaat bagi Tubuh

 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan orang dewasa melakukan 150 hingga 300 menit aktivitas fisik intensitas sedang setiap minggu, atau 75 hingga 150 menit aktivitas fisik intensitas tinggi, ditambah latihan penguatan otot sedikitnya dua kali dalam seminggu.

 

Rekomendasi tersebut menjadi pengingat bahwa aktivitas duduk dalam waktu lama perlu diimbangi dengan gerakan tubuh secara berkala. Berjalan menuju dispenser, menaiki tangga beberapa lantai, atau melakukan peregangan ringan sudah menjadi bentuk aktivitas yang bermanfaat.

 

Di sejumlah gedung perkantoran Surabaya, area komunal kini dirancang lebih terbuka sehingga pekerja memiliki ruang untuk bergerak tanpa harus meninggalkan lingkungan kerja. Koridor yang lapang, area duduk santai, hingga balkon terbuka mulai menjadi bagian dari desain kantor modern.

 

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa kenyamanan bekerja tidak hanya bergantung pada meja dan kursi, tetapi juga pada kesempatan tubuh untuk tetap aktif sepanjang hari.

 

 

 

Jeda Tidak Sama dengan Menunda Pekerjaan

 

Masih ada anggapan bahwa beristirahat berarti mengurangi waktu bekerja. Padahal jeda singkat berbeda dengan menunda pekerjaan.

 

Jeda dilakukan dengan tujuan mengembalikan fokus agar pekerjaan berikutnya dapat diselesaikan dengan kualitas yang tetap baik. Durasinya pun relatif singkat, biasanya hanya beberapa menit sebelum kembali melanjutkan aktivitas.

 

Penelitian ergonomi di berbagai negara menunjukkan bahwa pergantian posisi tubuh secara berkala membantu mengurangi ketegangan otot yang muncul akibat posisi duduk statis.

 

Karena itu, banyak panduan keselamatan kerja menganjurkan pekerja kantor untuk tidak berada pada posisi yang sama selama berjam-jam.

 

Kebiasaan ini juga semakin mudah diterapkan karena berbagai aplikasi pengingat kini dapat membantu pekerja mengatur waktu untuk berdiri atau melakukan peregangan ringan.

 

 

 

Produktivitas Berasal dari Ritme Kerja yang Seimbang

 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk bekerja di Indonesia mencapai 145,77 juta orang pada Agustus 2024. Angka tersebut menunjukkan bahwa kualitas lingkungan kerja menjadi isu yang semakin penting karena menyangkut jutaan pekerja dari berbagai sektor.

 

Jeda singkat di tempat kerja bukan sekadar waktu berhenti bekerja. Kebiasaan ini menjadi bagian dari ritme kerja yang membantu menjaga energi, konsentrasi, dan kenyamanan tubuh sepanjang hari.

 

Saat tubuh diberi kesempatan bergerak dan pikiran memperoleh jeda sejenak, pekerjaan dapat diselesaikan dengan perhatian yang tetap terjaga.

 

Produktivitas pun lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten, bukan semata-mata dari lamanya waktu yang dihabiskan di depan meja kerja.