Logo

Kesalahan Umum Backpacker Saat Perjalanan Pertama

Pengalaman perjalanan yang berharga sering lahir dari kesalahan yang berhasil dipelajari.
Reporter:,Editor:

Senin, 08 June 2026 11:00 UTC

Kesalahan Umum Backpacker Saat Perjalanan Pertama

Ilustrasi: Belajar dari perjalanan. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Kesalahan backpacker pemula hampir selalu menjadi bagian dari perjalanan pertama. Semangat untuk menjelajah tempat baru sering membuat banyak orang terlalu fokus pada destinasi, tetapi kurang memperhatikan aspek perencanaan yang sebenarnya sangat menentukan kenyamanan selama perjalanan.

 

Fenomena ini bukan hal yang mengherankan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah perjalanan wisatawan nusantara mencapai sekitar 1,02 miliar perjalanan sepanjang 2024. Seiring meningkatnya minat masyarakat untuk bepergian, semakin banyak pula traveler baru yang mencoba konsep backpacking untuk pertama kalinya.

 

Bagi sebagian orang, backpacking identik dengan perjalanan murah. Padahal esensi sebenarnya bukan sekadar menghemat biaya, melainkan mengelola sumber daya secara lebih efisien agar pengalaman perjalanan menjadi lebih maksimal.

 

Karena itu, memahami kesalahan yang sering terjadi sejak awal dapat membantu backpacker pemula menikmati perjalanan dengan lebih nyaman dan percaya diri.

 

 

Membawa Barang Terlalu Banyak

 

Salah satu kesalahan paling umum adalah membawa barang melebihi kebutuhan. Rasa khawatir sering membuat traveler memasukkan berbagai perlengkapan "untuk berjaga-jaga" ke dalam tas. Akibatnya, beban bawaan menjadi terlalu berat dan menyulitkan mobilitas.

 

Banyak panduan perjalanan internasional menyarankan prinsip packing ringan karena sebagian besar wisatawan ternyata hanya menggunakan sebagian kecil dari barang yang mereka bawa selama perjalanan.

 

Tas yang terlalu berat tidak hanya membuat tubuh cepat lelah. Mobilitas di terminal, stasiun, transportasi umum, maupun penginapan juga menjadi lebih sulit.

 

Backpacker berpengalaman biasanya lebih memilih pakaian multifungsi dan perlengkapan yang benar-benar diperlukan.

 

 

Jadwal Perjalanan Terlalu Padat

 

Kesalahan berikutnya adalah membuat itinerary yang terlalu ambisius. Banyak backpacker pemula berusaha mengunjungi sebanyak mungkin destinasi dalam waktu singkat.

 

Mereka ingin memanfaatkan setiap jam perjalanan tanpa jeda. Sayangnya, pendekatan tersebut sering berujung pada kelelahan.

 

Menurut Organisasi Pariwisata Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN Tourism), kualitas pengalaman wisata tidak hanya dipengaruhi jumlah destinasi yang dikunjungi, tetapi juga kenyamanan dan keterlibatan wisatawan selama perjalanan.

 

Ketika jadwal terlalu padat, wisata berubah menjadi aktivitas mengejar waktu. Alih-alih menikmati suasana tempat yang dikunjungi, traveler justru sibuk berpindah dari satu lokasi ke lokasi berikutnya.

 

 

Mengabaikan Riset Transportasi Lokal

 

Banyak orang merencanakan destinasi dengan detail, tetapi lupa mempelajari sistem transportasi di lokasi tujuan. Akibatnya, waktu terbuang untuk mencari rute, berpindah moda transportasi secara tidak efisien, atau membayar biaya perjalanan yang sebenarnya bisa dihemat.

 

Data BPS menunjukkan bahwa transportasi merupakan komponen pengeluaran terbesar wisatawan domestik Indonesia pada 2024, dengan rata-rata sekitar Rp513 ribu per perjalanan.

 

Fakta tersebut menunjukkan bahwa keputusan transportasi memiliki pengaruh langsung terhadap total anggaran perjalanan.

 

Backpacker yang memahami jaringan transportasi lokal biasanya mampu bergerak lebih cepat sekaligus mengurangi pengeluaran.

Persiapan sederhana sebelum berangkat sering memberikan manfaat yang jauh lebih besar selama perjalanan berlangsung.

 

 

Terlalu Bergantung pada Internet

 

Teknologi memang membuat traveling menjadi lebih mudah. Peta digital, aplikasi pemesanan tiket, dan informasi wisata kini tersedia dalam genggaman.

 

Namun, banyak backpacker pemula terlalu bergantung pada koneksi internet tanpa menyiapkan alternatif. Ketika sinyal lemah, baterai habis, atau perangkat mengalami gangguan, mereka kesulitan mengakses informasi penting.

 

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) bahkan menyarankan wisatawan menyimpan informasi penting dalam bentuk cadangan, baik secara digital maupun fisik, untuk mengantisipasi situasi darurat.

 

Langkah sederhana seperti menyimpan alamat penginapan atau jadwal transportasi secara offline dapat sangat membantu ketika kondisi tidak berjalan sesuai rencana.

 

 

Mengabaikan Kondisi Fisik dan Kesehatan

 

Semangat menjelajah sering membuat sebagian backpacker melupakan kebutuhan dasar tubuh. Kurang tidur, makan tidak teratur, dan kurang minum sering dianggap hal biasa selama perjalanan.

 

Padahal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa dehidrasi ringan sekalipun dapat memengaruhi konsentrasi, stamina, dan performa fisik seseorang.

 

Dalam perjalanan yang melibatkan banyak aktivitas berjalan kaki, menjaga kondisi tubuh menjadi faktor yang sangat penting. 

 

Backpacker berpengalaman memahami bahwa kesehatan adalah aset utama selama perjalanan. Tidak ada itinerary yang dapat dinikmati dengan baik jika tubuh sudah kelelahan sejak awal.

 

 

Menganggap Semua Pengeluaran Bisa Diprediksi

 

Banyak traveler pemula menyusun anggaran yang terlalu ketat. Mereka menghitung biaya transportasi, akomodasi, dan makanan secara rinci tanpa menyediakan dana cadangan.

 

Padahal, perjalanan selalu mengandung unsur ketidakpastian. Perubahan jadwal, biaya tambahan bagasi, kebutuhan kesehatan, hingga cuaca buruk dapat memunculkan pengeluaran yang tidak direncanakan.

 

Karena itu, para backpacker berpengalaman hampir selalu menyisihkan dana darurat selama perjalanan. Dana cadangan bukan tanda perencanaan yang buruk. Justru sebaliknya, itu menunjukkan kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan yang bisa terjadi.

 

Kesalahan backpacker pemula sebenarnya sangat wajar terjadi, terutama saat perjalanan pertama. Namun sebagian besar kesalahan tersebut dapat dihindari melalui persiapan yang lebih matang dan ekspektasi yang lebih realistis.

 

Backpacking bukan kompetisi untuk mengunjungi tempat terbanyak atau mengeluarkan biaya paling sedikit. Yang terpenting adalah menciptakan pengalaman perjalanan yang aman, nyaman, dan memberi cerita yang layak dikenang setelah perjalanan berakhir.