Logo

Kerja Bakti sebagai Kebiasaan Baik Menjaga Lingkungan

Gang yang bersih sering dimulai dari pekerjaan sederhana yang dilakukan bersama, bukan menunggu lingkungan telanjur kotor.
Reporter:,Editor:

Selasa, 11 August 2026 11:00 UTC

Kerja Bakti sebagai Kebiasaan Baik Menjaga Lingkungan

Ilustrasi: Minggu Pagi Bersih-Bersih. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Kerja bakti warga terasa semakin akrab ketika Agustus datang. Di Surabaya, akhir pekan menjelang 17 Agustus kerap diisi suara sapu lidi, gunting tanaman, gerobak sampah, dan obrolan tetangga sejak pagi.

Ada yang membersihkan selokan. Sebagian mengecat pagar atau merapikan tanaman. Warga lain mengangkut daun kering dan barang bekas yang lama terselip di sudut gang.

Aktivitas semacam ini mudah dianggap rutinitas tahunan menjelang kemerdekaan. Padahal, bila melihat volume sampah yang harus ditangani kota setiap hari, kerja bakti sebenarnya bersentuhan dengan persoalan perkotaan yang jauh lebih besar.

Surabaya Menghasilkan Sekitar 1.800 Ton Sampah Sehari Bayangkan sekitar 1.800 ton sampah muncul setiap hari dari satu kota.
Itulah kisaran timbulan sampah harian Surabaya yang disampaikan Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya pada Januari 2026. Angka tersebut mencakup sampah organik dan anorganik yang dihasilkan dari aktivitas kota.

Catatan Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) memberikan gambaran lebih terukur untuk 2024. Timbulan sampah Surabaya tercatat mencapai 660.946,82 ton dalam setahun.

Dari volume tersebut, pengurangan sampah dari sumber mencapai 49.090,68 ton per tahun, setara 7,43 persen. Sementara penanganan sampah mencapai 606.171,07 ton per tahun.

Skalanya membuat urusan sampah rumah tangga yang terlihat kecil menjadi relevan. Satu kantong daun hasil membersihkan halaman mungkin tidak terasa berarti. Begitu pula beberapa botol plastik setelah acara warga. Namun, semuanya akan masuk ke sistem pengumpulan yang sama bersama sampah dari jutaan aktivitas lain sepanjang hari.


Surabaya pada 2024 memiliki 191 tempat penampungan sementara (TPS). Untuk melayani pengangkutan, DLH antara lain memiliki 81 kendaraan compactor, 26 dump truck, dan 54 armroll dengan berbagai kapasitas.

Jadi, ketika gang dibersihkan, pekerjaan sebaiknya tidak berhenti pada memindahkan sampah dari depan rumah ke ujung jalan.

 

Selokan Layak Mendapat Giliran Pertama

Ada satu bagian kampung yang sering baru diperhatikan ketika air mulai sulit mengalir: Di banyak permukiman Surabaya, saluran berada tepat di depan rumah. Sebagian terbuka, sebagian tertutup beton dengan lubang kontrol pada beberapa titik. Daun kering, plastik kecil, endapan tanah, dan sisa material bisa berkumpul tanpa terlalu terlihat.

Kerja bakti memberi kesempatan untuk memeriksanya sebelum muncul masalah. Pada kegiatan kerja bakti massal di kawasan Kalimas Timur pada 2024, misalnya, Pemerintah Kota Surabaya menjadikan sampah jalan, saluran, serta perantingan pohon sebagai beberapa sasaran pembersihan.

Enam dump truck dan tiga alat berat dikerahkan. Hingga pukul 10.00, sekitar 20 rit dump truck telah membawa hasil pembersihan menuju TPA; kapasitas satu dump truck disebut sekitar 6 meter kubik.

Pemandangan dalam skala kampung tentu berbeda. Biasanya hanya ada cangkul, pengki, sapu, karung, dan gerobak. Namun logikanya sama: saluran perlu dibersihkan sebelum sampah di dalamnya menjadi lebih sulit ditangani.

Pagi juga menjadi waktu yang masuk akal untuk pekerjaan semacam ini di Surabaya. Matahari belum terlalu tinggi dan aktivitas kendaraan di gang biasanya belum sepadat menjelang siang.

 

Jangan Campurkan Semua Hasil Kerja Bakti

Ini bagian yang sering membuat pekerjaan terasa cepat: semua dimasukkan ke satu tumpukan. Daun bercampur botol plastik. Kardus basah masuk bersama ranting. Pecahan material bangunan bertemu sampah rumah tangga. Begitu tercampur, barang yang sebenarnya masih dapat dipilah menjadi lebih merepotkan untuk ditangani.

Padahal Surabaya sudah memiliki infrastruktur pengolahan organik. Data Pemerintah Kota Surabaya pada Januari 2026 mencatat terdapat 27 rumah kompos. Pengolahan sampah organik melalui fasilitas tersebut disebut mampu menghemat biaya pengangkutan sekitar Rp6,73 miliar per tahun.

Bagi warga, tidak perlu menerjemahkan angka itu menjadi sistem pemilahan yang rumit saat kerja bakti. Setidaknya buat beberapa kelompok sederhana: daun dan ranting, barang anorganik yang masih bernilai, residu, serta material besar. Bila ada pecahan kaca atau benda tajam, pisahkan agar tidak membahayakan petugas maupun warga yang mengangkut.

Cara tersebut juga membuat hasil kerja lebih terlihat. Tumpukan daun dapat diarahkan untuk pengolahan organik, sementara botol dan kardus bersih punya peluang masuk jalur daur ulang.

Ada perbedaan besar antara membersihkan dan sekadar memindahkan sampah.

 

Kerja Bakti Besar Butuh Sedikit Koordinasi

Semangat warga ternyata dapat menghasilkan masalah baru ketika volume hasil pembersihan jauh lebih banyak daripada biasanya.
Menjelang HUT ke-80 RI pada Juli 2025, kerja bakti serentak di sejumlah wilayah Surabaya sempat membuat DLH kewalahan menangani tumpukan sampah.

Pemerintah kota menemukan ada RW yang belum melaporkan jadwal kegiatan melalui sistem Surabaya Bergerak sehingga hasil pembersihan tidak langsung terangkut.

Pelajarannya cukup praktis untuk Agustus berikutnya. Kalau kegiatan hanya melibatkan beberapa rumah, penanganannya mungkin sederhana. Namun kerja bakti satu RT atau RW yang mencakup pemangkasan pohon, pembersihan saluran, dan pembongkaran barang lama bisa menghasilkan volume jauh lebih besar.

Koordinasi pengangkutan sebaiknya dilakukan sebelum sapu mulai bergerak. Hal serupa berlaku pada pembagian pekerjaan. Tidak semua orang harus membersihkan selokan. Warga lanjut usia bisa memilah barang ringan. Ada yang menyiapkan air minum, mengatur karung, menyapu, atau memastikan hasil pembersihan tidak menghalangi jalan. Kerja bakti tidak perlu dibuat seperti acara formal agar berjalan teratur.


Budaya Bersih Surabaya Punya Skala yang Menarik

Pada Maret 2026, ada gambaran cukup menarik tentang besarnya partisipasi warga di kota ini. Kegiatan pembersihan Sungai Kalimas yang digelar bersama Kementerian Lingkungan Hidup melibatkan 7.269 peserta.

Sebanyak 5.316 orang tersebar pada delapan titik dari kawasan Monumen Kapal Selam hingga Kampung Gemblongan, sedangkan 1.953 peserta berada di lokasi utama sebelum mengikuti kegiatan.

Menteri Lingkungan Hidup saat itu juga menyoroti kinerja Surabaya dalam pengelolaan sekitar 1.800 ton sampah per hari. Tentu, kebersihan kota tidak bisa bergantung pada kerja bakti massal. Jalan dan sungai yang dibersihkan hari Minggu dapat kembali dipenuhi sampah bila kebiasaan pada Senin hingga Sabtu tidak berubah.

Justru skala kecil lebih menentukan dalam keseharian. Tidak meletakkan kantong sampah sembarangan di ujung gang. Membersihkan daun sebelum masuk selokan. Memisahkan barang yang masih dapat dimanfaatkan. Menegur dengan wajar ketika ada titik yang mulai berubah menjadi tempat pembuangan liar.

Saat Agustus datang, kerja bakti warga memang membuat gang Surabaya terlihat lebih siap menyambut perayaan. Bendera lebih enak dipandang ketika saluran bersih dan sudut jalan tidak dipenuhi tumpukan barang. Namun, setelah umbul-umbul diturunkan, selokan tetap berada di tempat yang sama.

Mungkin itu ukuran paling sederhana apakah kerja bakti benar-benar menjadi kebiasaan: lingkungan masih terurus ketika tidak ada perayaan yang sedang ditunggu.