Kenaikan UMK Tidak Pengaruhi Investasi di Surabaya

Baehaqi Almutoif

Senin, 26 November 2018 - 11:50

JATIMNET.COM, Surabaya - Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Surabaya Jamhadi memastikan kenaikan UMK tidak berpengaruh kepada iklim investasi di kota pahlawan. Ia memprediksi jumlah investasi tetap mengalami peningkatan di tahun depan.

"Saya yakin justru di Indonesia pada umumnya orang lebih senang investasi, karena ada kepastian,” ujar Jamhadi saat ditemui Jatimnet.com, Senin 26 November 2018.

Kepastian yang dimaksud adalah tentang standard upah dan stabilnya keadaan. Para pengusaha mendapat kepastian mengenai kenaikan upah. Hitungannya pun jelas, pertumbuhan ekonomi ditambah tingkat inflasi di daerah. Sehingga para buruh yang berdampak langsung tidak berdemo.

Kondisi seperti itu dipercaya Jamhadi, tak akan mempengaruhi investasi di Surabaya. Bahkan ia optimis tahun 2019 mengalami kenaikan 10 persen dari perolehan tahun ini, yang sampai Oktober kemarin telah mencatat Rp51,7 Trilliun.

“Total investasi di Surabaya pada 2017 Rp43 Trilliun. Diperkirakan akhir tahun nanti bisa bertambah menjadi Rp 52 Trilliun. Hingga Oktober lalu sudah mencapai Rp 51,7 Trilliun,” ungkapnya.

Investasi bidang industri di Surabaya pada tahun depan masih tetap dikuasai barang dan jasa yang mencapai 49 persen. Sementara industri pengolahan ada di kisaran 17 persen. Sisanya berada di titik lain. “Angka itu didapat dari PDRB Surabaya,” tuturnya.

“Jadi, bank dan perusahaan jasa lainnya itu yang ada di Surabaya,” ungkapnya. Jamhadi mengatakan mereka tidak berpindah dari Surabaya. Banyak perbankan yang tetap membuka kantornya di Kota Pahlawan. Karena untuk Jawa Timur justru kebalikannya. Sebanyak 30 persen industri pengolahan dan 17 persen perdagangan. “Itu yang membedakan,” tadanya.

Seperti diberitakan, Gubernur Jawa Timur Soekarwo telah menetapkan kenaikan upah minimum kabupaten/kota (UMK) Surabaya sebesar 8 persen. Dari sebelumnya  Rp 3.583.312 menjadi Rp 3.871.053.

 

Baca Juga

loading...