Sabtu, 19 September 2026 02:40 UTC

Bupati Mojokerto Muhammad Al Barra dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa Gelar Salat Istisqa di Pendopo Grahaaja Tama. Jumat, 18 September 2026. Foto: Wanto
JATIMNET.COM, Mojokerto – Kemarau panjang mulai memicu persoalan ketersediaan air di sejumlah wilayah Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Pemerintah Kabupaten Mojokerto pun menggelar salat istisqa sebagai salah satu ikhtiar menghadapi kondisi tersebut.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Bupati Mojokerto Muhammad Al Barra atau Gus Barra mengikuti salat istisqa di halaman Pendopo Graha Maja Tama (GMT), Jumat, 18 September 2026. Sejumlah pejabat pemerintah, ulama, dan tokoh agama turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Khofifah mengatakan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memprediksi kemarau panjang yang berlangsung di sejumlah wilayah. Karena itu, pemerintah menjalankan berbagai langkah, baik secara spiritual maupun teknis, untuk menghadapi dampaknya.
Pemerintah, kata Khofifah, telah menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sejak 3 September 2026. Tim melakukan penyemaian garam terhadap awan yang dinilai memiliki potensi menghasilkan hujan berdasarkan informasi dari BMKG.
"Ini memang kemarau panjang. Kondisi ini sudah diprediksi dan BMKG juga sudah berkali-kali mengingatkan. Namun, ikhtiar yang kita lakukan sudah maksimal. Saya menyebut maksimal karena sejak 3 September lalu kita sudah melakukan Operasi Modifikasi Cuaca," ujar Khofifah.
Menurut Khofifah, pelaksanaan OMC telah memicu hujan dengan intensitas ringan hingga sedang di sejumlah wilayah. Namun, pemerintah tetap mencari sumber air baru untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di daerah yang mengalami kekeringan.
Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui pengeboran sumur. Akan tetapi, kondisi geografis di setiap wilayah membuat proses pencarian sumber air tidak selalu membuahkan hasil.
"Ada yang berhasil dan ada yang belum berhasil. Bahkan, ada pengeboran yang sudah mencapai kedalaman 200 meter tetapi masih menemukan batu, hingga mata bornya putus sebanyak 19 kali," jelasnya.
Pemprov Jatim juga memetakan sejumlah titik yang berpotensi menjadi sumber air bagi masyarakat. Salah satunya untuk memenuhi kebutuhan warga di Kecamatan Kunjorowesi.
Pemerintah sempat mempertimbangkan sumber air dari kawasan Trawas untuk dialirkan ke Kunjorowesi. Namun, debit sumber tersebut belum mencukupi kebutuhan sehingga belum dapat dimanfaatkan untuk memasok air ke wilayah tersebut.
Khofifah mengatakan pemerintah juga harus memastikan kualitas air sebelum menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Sebab, beberapa sumber air yang ditemukan pada kedalaman sekitar 125 meter memiliki kandungan minyak atau kadar garam yang tinggi.
"Kalau kandungan garam terlalu tinggi itu tidak sehat, terutama bagi ibu hamil, bayi, balita," katanya.
Kondisi kekeringan sendiri dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Kabupaten Mojokerto, termasuk Kunjorowesi dan Pungging. Situasi tersebut menjadi salah satu pertimbangan pemerintah memilih Mojokerto sebagai lokasi pelaksanaan salat istisqa.
Bupati Mojokerto Muhammad Al Barra menyambut koordinasi Pemprov Jatim yang menunjuk Kabupaten Mojokerto sebagai lokasi pelaksanaan salat istisqa. Ia menyebut sejumlah wilayah di daerahnya masih menghadapi persoalan kekurangan air akibat kemarau panjang.
"Di daerah kami juga banyak daerah-daerah yang kekeringan air, daerah Kunjorowesi, daerah Pungging dan lain sebagainya, banyak yang kekeringan karena musim kemarau ini begitu panjang," ujar Gus Barra.
Menurut Gus Barra, salat istisqa menjadi bagian dari ikhtiar bersama antara pemerintah dan masyarakat untuk menghadapi kemarau. Ia berharap hujan segera turun sehingga masyarakat kembali mendapatkan pasokan air yang cukup.
"Kami berharap dengan dilaksanakan salat istisqa pada siang hari ini akan segera turun hujan, tapi hujan yang membawa berkah, tidak hujan yang kemudian menimbulkan bencana," pungkasnya.
Selain salat istisqa, pemerintah tetap menjalankan sejumlah langkah teknis untuk mengatasi dampak kemarau panjang. Upaya tersebut meliputi operasi modifikasi cuaca, pencarian sumber air, hingga pengeboran sumur di sejumlah wilayah.
Pemerintah berharap berbagai ikhtiar tersebut dapat membantu menjaga ketersediaan air sekaligus mengurangi dampak kekeringan yang dirasakan masyarakat Mojokerto.
