Kamis, 18 June 2026 04:00 UTC

Seorang produsen tempe di Mojokerto sedang memproses pembuatan komoditas yang biasa dijadikan lauk. Foto: Wanto
JATIMNET.COM, Mojokerto – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang membuat kurs tembus Rp17.779 turut memberi tekanan bagi pelaku usaha kecil yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Salah satunya dirasakan perajin tempe di Desa Banjaragung, Dusun Gedang Klutuk, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto. Di tengah kenaikan harga kedelai yang terus terjadi, keluarga Sunoto dan Misayatin tetap mempertahankan usaha tempe yang telah berjalan sejak 1979.
Bagi pasangan tersebut, membuat tempe bukan sekadar aktivitas ekonomi. Usaha rumahan itu merupakan warisan keluarga yang telah mereka jalani hampir setengah abad.
"Pertama kali produksi tempe tahun 1979. Saya belajar dari keluarga," ujar Sunoto saat ditemui di tempat produksinya.
Selama puluhan tahun, usaha tersebut memproduksi tiga jenis tempe, yakni tempe iris, tempe kapas, dan tempe Kopti. Produk itu kemudian dipasarkan ke sejumlah pelanggan di wilayah Mojokerto.
Namun, perjalanan usaha keluarga ini tidak selalu mudah. Mereka pernah melewati berbagai situasi sulit, mulai dari krisis moneter 1998, pandemi Covid-19, hingga kondisi saat ini ketika harga kedelai kembali tertekan akibat pelemahan rupiah.
Misayatin mengatakan, kenaikan harga kedelai menjadi tantangan terbesar yang harus dihadapi perajin tempe saat ini.
Jika sebelumnya harga kedelai masih berada di kisaran Rp7.500 hingga Rp8.000 per kilogram, kini harganya naik menjadi sekitar Rp11.500 per kilogram.
"Kenaikannya cukup tinggi. Dulu harga kedelai sekitar Rp7.500 sampai Rp8.000, sekarang sudah Rp11.500 per kilogram," kata Misayatin.
Meski biaya produksi meningkat, keluarga tersebut memilih tidak menaikkan harga jual. Strategi yang dilakukan adalah mengurangi ukuran tempe agar harga tetap bisa dijangkau konsumen.
"Untuk menyiasati kenaikan harga kedelai, kami tidak menaikkan harga. Yang dikurangi ukurannya," ungkapnya.
Saat ini, tempe produksi Sunoto dan Misayatin dijual dengan harga Rp4.000 per bungkus untuk semua jenis. Ukurannya sekitar 5 sentimeter x 18 sentimeter dengan ketebalan kurang lebih 5 sentimeter.
Menurut Misayatin, kenaikan harga bahan baku berdampak langsung terhadap pendapatan usaha. Omzet yang sebelumnya bisa mencapai ratusan ribu rupiah per hari kini ikut menurun.
"Kalau dulu sebelum harga kedelai naik, omzet saya minimal Rp500 ribu sehari. Sekarang sudah tidak bisa seperti itu," ujarnya.
Meski keuntungan semakin tipis, keluarga Sunoto dan Misayatin tetap memilih bertahan. Bagi mereka, usaha tempe tersebut sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup yang tidak mudah ditinggalkan.
Di tengah tekanan ekonomi dan harga bahan baku yang belum stabil, mereka berharap kondisi pasar segera membaik agar pelaku usaha kecil tetap mampu bertahan.
"Yang penting usaha tetap jalan dan pelanggan tetap bisa membeli," pungkas Misayatin.
