Rabu, 17 June 2026 11:00 UTC

Ilustrasi: Fokus di Era Digital. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Kebiasaan digital kini berperan besar dalam menentukan kualitas belajar mahasiswa. Hampir seluruh aktivitas akademik, mulai dari mencari referensi, mengikuti kuliah, mengerjakan tugas, hingga berdiskusi dengan dosen dan teman, berlangsung melalui perangkat digital.
Namun kemudahan tersebut tidak selalu berujung pada hasil belajar yang lebih baik. Banyak mahasiswa justru merasa lebih mudah terdistraksi karena harus berhadapan dengan notifikasi, media sosial, dan berbagai bentuk hiburan yang tersedia dalam perangkat yang sama.
Kondisi ini membuat kemampuan mengelola kebiasaan digital menjadi semakin penting. Bukan hanya untuk meningkatkan produktivitas, tetapi juga untuk menjaga fokus dan kualitas pemahaman terhadap materi yang dipelajari.
Mahasiswa Menghabiskan Banyak Waktu di Dunia Digital
Penggunaan teknologi di kalangan generasi muda terus menunjukkan angka yang tinggi. Laporan DataReportal 2025 mencatat rata-rata pengguna internet global menghabiskan sekitar 6 jam 38 menit per hari secara online.
Kelompok usia mahasiswa termasuk kategori yang paling aktif menggunakan internet untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pendidikan hingga hiburan.
Di Indonesia, data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) periode 2024–2025 menunjukkan penetrasi internet telah mencapai 79,5 persen dari total populasi. Kelompok usia muda menjadi salah satu pengguna terbesar dalam ekosistem digital nasional.
Angka tersebut menunjukkan bahwa dunia digital telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mahasiswa. Karena itu, kualitas kebiasaan digital akan sangat memengaruhi efektivitas proses belajar.
Mengurangi Gangguan Digital Memberi Dampak Nyata
Salah satu tantangan terbesar saat belajar adalah distraksi. Penelitian dari University of California, Irvine menemukan bahwa setelah mengalami gangguan digital, seseorang membutuhkan rata-rata sekitar 23 menit untuk kembali sepenuhnya fokus pada pekerjaan yang sedang dilakukan.
Bagi mahasiswa, gangguan kecil seperti notifikasi pesan atau media sosial dapat memecah konsentrasi berkali-kali dalam satu sesi belajar.
Akibatnya, waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas menjadi lebih panjang dibanding yang seharusnya.
Karena itu, banyak mahasiswa produktif mulai menerapkan kebiasaan sederhana seperti menonaktifkan notifikasi saat belajar, menggunakan mode fokus, atau meletakkan ponsel di luar jangkauan selama mengerjakan tugas penting.
Langkah sederhana tersebut sering memberikan dampak yang lebih besar daripada sekadar menambah jam belajar.
Membuat Sistem Belajar Digital yang Terorganisasi
Banyak mahasiswa merasa kesulitan bukan karena kurang belajar, melainkan karena informasi yang dimiliki tidak tersusun dengan baik.
Materi kuliah, file tugas, jurnal, catatan, dan dokumen kelompok sering tersebar di berbagai perangkat dan aplikasi. Kondisi tersebut membuat waktu belajar habis untuk mencari dokumen yang dibutuhkan.
Penelitian dalam bidang produktivitas digital menunjukkan bahwa sistem pengelolaan informasi yang rapi membantu mengurangi beban kognitif dan meningkatkan efisiensi kerja.
Karena itu, mahasiswa yang terbiasa mengelompokkan dokumen, memberi nama file secara konsisten, dan menyimpan catatan secara terstruktur biasanya lebih mudah mengakses informasi ketika dibutuhkan.
Kebiasaan ini terlihat sederhana, tetapi manfaatnya terasa besar dalam jangka panjang.
Belajar Aktif Lebih Efektif daripada Sekadar Mengonsumsi Konten
Era digital membuat mahasiswa memiliki akses ke jutaan video, artikel, dan materi pembelajaran. Namun banyaknya konten tidak selalu sejalan dengan kualitas pembelajaran.
Penelitian pendidikan yang dipublikasikan dalam berbagai jurnal akademik menunjukkan bahwa metode active learning atau pembelajaran aktif menghasilkan pemahaman yang lebih baik dibanding hanya membaca atau menonton secara pasif.
Dalam praktiknya, mahasiswa dapat menerapkan kebiasaan seperti membuat ringkasan sendiri, mencatat poin penting, menjelaskan ulang materi dengan kata-kata sederhana, atau mendiskusikannya bersama teman.
Teknologi seharusnya digunakan untuk mendukung proses tersebut, bukan menggantikannya.
Belajar aktif membantu informasi tersimpan lebih lama dalam ingatan sekaligus meningkatkan kemampuan berpikir kritis.
Keseimbangan Digital Menjadi Kunci
Meski teknologi memberikan banyak manfaat, penggunaan yang berlebihan tetap perlu dihindari. Laporan OECD mengenai pendidikan digital menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi memberikan hasil terbaik ketika digunakan secara proporsional dan sesuai kebutuhan pembelajaran.
Artinya, semakin lama berada di depan layar tidak selalu berarti semakin produktif. Mahasiswa tetap membutuhkan waktu untuk beristirahat, berinteraksi secara langsung, berolahraga, dan menjalani aktivitas di luar dunia digital.
Keseimbangan tersebut membantu menjaga kesehatan fisik maupun mental yang pada akhirnya mendukung performa akademik secara keseluruhan.
Pada akhirnya, kebiasaan digital yang membantu belajar lebih efektif bukan ditentukan oleh aplikasi atau perangkat yang digunakan. Faktor yang paling berpengaruh justru terletak pada cara mahasiswa mengelola perhatian, menyusun informasi, dan memanfaatkan teknologi secara sadar.
Di tengah derasnya arus digital, kemampuan menjaga fokus menjadi salah satu keterampilan belajar yang paling berharga.
