Logo

Kalori di Smartwatch Tak Perlu Dikejar Mati-matian

Teknologi bisa memperkirakan energi yang keluar, tetapi tubuh tidak bekerja setepat angka pada layar.
Reporter:,Editor:

Kamis, 20 August 2026 11:00 UTC

Kalori di Smartwatch Tak Perlu Dikejar Mati-matian

Ilustrasi: Kalori bukan skor. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Kalori di smartwatch punya daya pikat tersendiri. Seusai jalan cepat atau berolahraga, satu angka langsung muncul dan seolah memberikan nilai pada usaha yang baru dilakukan. “420 kcal.”

Bagi sebagian pengguna, angka tersebut terasa memuaskan. Ada pula yang memperpanjang olahraga beberapa menit karena ingin mencapai 500 kalori. Makanan kemudian mulai dihitung dengan logika yang sama: sepiring makan siang perlu “dibayar” dengan sekian kalori latihan.

Di sinilah fitur yang sebenarnya berguna untuk memantau aktivitas dapat berubah menjadi sasaran yang terlalu serius. Penelitian terhadap perangkat wearable menunjukkan bahwa estimasi energi memang belum memiliki ketepatan yang sama dengan beberapa metrik lain.

 

Menghitung Kalori Ternyata Lebih Sulit

Smartwatch tidak benar-benar melihat kalori terbakar keluar dari tubuh. Perangkat membuat estimasi menggunakan sejumlah informasi yang tersedia, seperti detak jantung, gerakan, durasi aktivitas, serta data pribadi yang dimasukkan pengguna. Masalahnya, pengeluaran energi manusia dipengaruhi banyak variabel.

Berat dan komposisi tubuh, usia, jenis aktivitas, intensitas, tingkat kebugaran, hingga efisiensi gerakan dapat membuat dua orang mengeluarkan energi berbeda meski melakukan olahraga yang terlihat sama.

Gambaran mengenai keterbatasan wearable terlihat dalam tinjauan sistematis yang diterbitkan JMIR mHealth and uHealth pada 2020. Peneliti menelaah 158 publikasi yang menguji sembilan merek perangkat wearable komersial.

Hasilnya cukup kontras. Sejumlah perangkat mampu mengukur langkah dengan baik dalam kondisi laboratorium, sementara pengukuran detak jantung menunjukkan akurasi yang bervariasi. Untuk estimasi pengeluaran energi, peneliti menyimpulkan tidak ada merek yang terbukti akurat secara konsisten.

Temuan tersebut bukan berarti angka kalori di smartwatch tidak berguna sama sekali. Posisi yang lebih masuk akal adalah memperlakukannya sebagai perkiraan, bukan hasil pengukuran metabolisme yang presisi.

 

Selisihnya Bisa Cukup Besar

Sebuah studi terhadap 30 orang dewasa muda, terdiri dari 15 laki-laki dan 15 perempuan dengan usia rata-rata sekitar 23,5 tahun, pernah membandingkan estimasi pengeluaran energi dari Apple Watch dan Fitbit Charge HR 2 dengan sistem pengukuran metabolik saat peserta menjalani protokol treadmill.

Pada keseluruhan peserta, tingkat kesalahan relatif estimasi energi tercatat sekitar 24,3 persen pada Apple Watch dan 20,1 persen pada Fitbit.

Perbedaan juga muncul menurut jenis kelamin. Dalam penelitian tersebut, Apple Watch cenderung melebihkan estimasi energi pada perempuan dan merendahkannya pada laki-laki, sedangkan Fitbit cenderung memberikan estimasi lebih rendah pada kedua kelompok.

Penelitian yang lebih baru belum membuat persoalan itu sepenuhnya hilang. Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis yang terbit pada 2025 mengevaluasi akurasi Apple Watch dengan menggabungkan 56 studi dan 270 effect sizes untuk pengeluaran energi, detak jantung, serta jumlah langkah.

Sebanyak 71 effect sizes berkaitan dengan pengeluaran energi. Para peneliti menemukan variasi yang cukup lebar pada hasil estimasinya, sementara pengukuran detak jantung dan langkah secara umum menunjukkan performa yang lebih baik.

Bagi pengguna sehari-hari, implikasinya sederhana. Ketika smartwatch menampilkan 500 kalori setelah latihan, angka sebenarnya tidak harus persis 500.

 

Jalan Sore di Surabaya Tidak Harus “Membakar Makan Siang”

Kebiasaan mengejar kalori juga dapat mengubah alasan seseorang berolahraga. Seseorang selesai makan rawon, penyetan, atau camilan sore, lalu merasa perlu berjalan sekian kilometer karena smartwatch memperkirakan makanan tadi memiliki energi tertentu.

Aktivitas fisik akhirnya terasa seperti transaksi: makan masuk, kalori harus keluar. Padahal tubuh menggunakan energi sepanjang waktu, termasuk ketika sedang beristirahat.

Energi dibutuhkan untuk mempertahankan fungsi dasar tubuh, sementara aktivitas fisik menjadi salah satu komponen dari total pengeluaran energi. Olahraga juga menawarkan manfaat yang jauh lebih luas daripada angka kalori setelah sesi selesai.

WHO merekomendasikan orang dewasa melakukan sekitar 150–300 menit aktivitas aerobik intensitas sedang per minggu, atau 75–150 menit aktivitas berat, maupun kombinasi keduanya. Aktivitas penguatan otot yang melibatkan kelompok otot utama dianjurkan setidaknya dua hari setiap minggu.

Rekomendasi tersebut berbicara dalam bahasa durasi, intensitas, dan jenis aktivitas. Tidak ada kewajiban membakar jumlah kalori tertentu setiap hari.

Itu memberi ruang yang lebih luas untuk bergerak. Berjalan sore selama setengah jam di lingkungan rumah, bersepeda, berenang, latihan kekuatan, atau jogging sebelum matahari Surabaya terasa menyengat tetap mempunyai nilai meski layar jam tidak menunjukkan angka spektakuler.

 

Lebih Berguna untuk Membandingkan Rutinitas Sendiri

Lalu untuk apa fitur kalori di smartwatch dipakai? Salah satu penggunaannya adalah melihat kecenderungan aktivitas pribadi. Misalnya, latihan yang biasanya berlangsung 20 menit berkembang menjadi 35 menit. Atau seseorang menyadari hari kerjanya jauh lebih pasif dibanding akhir pekan.

Dalam konteks seperti itu, angka dari perangkat yang sama masih dapat memberikan gambaran relatif, meskipun tidak seharusnya dianggap sebagai pengukuran laboratorium.

Pengguna juga perlu memastikan data profil yang diminta perangkat sudah diperbarui. Berat badan yang berubah tetapi tidak pernah diperbarui, misalnya, dapat memengaruhi algoritma yang digunakan untuk membuat estimasi.

Jenis aktivitas ikut berpengaruh. Gerakan tangan saat berjalan dan berlari relatif mudah ditangkap sensor gerak, sedangkan latihan beban, bersepeda, atau aktivitas dengan pola gerakan berbeda menghadirkan tantangan pengukuran tersendiri.

Lebih penting lagi, jangan menggunakan angka kalori dari wearable sebagai satu-satunya dasar untuk mengubah pola makan secara agresif. Kebutuhan energi manusia tidak dapat diringkas hanya dari angka “kalori aktif” yang muncul setelah olahraga.

 

Kebugaran Punya Ukuran yang Lebih Menarik

Obsesi pada kalori kadang membuat indikator kemajuan yang lebih terasa justru terlewat. Dulu berjalan dua kilometer sudah membuat napas berat, sekarang terasa nyaman.

Tangga kantor tidak lagi terlalu melelahkan. Beban latihan perlahan meningkat. Tidur terasa lebih teratur. Seseorang mulai mampu berolahraga tiga kali seminggu tanpa harus memaksa diri. Kemajuan seperti itu sulit diringkas menjadi satu angka.

Konteks aktivitas fisik global juga membuat fokus pada kebiasaan bergerak jauh lebih penting. WHO melaporkan sekitar 31 persen orang dewasa dunia, atau sekitar 1,8 miliar orang, tidak memenuhi rekomendasi aktivitas fisik pada 2022. Jika tren tersebut berlanjut, proporsinya diproyeksikan mencapai 35 persen pada 2030.

Persoalan besarnya bukan apakah seseorang membakar 380 atau 450 kalori ketika berjalan. Jauh lebih banyak orang masih membutuhkan kesempatan dan kebiasaan untuk bergerak secara rutin.

Maka, kalori di smartwatch tetap boleh dilihat. Ia bisa menjadi bagian menarik dari catatan olahraga dan membantu mengenali perbedaan aktivitas dari hari ke hari.

Hanya saja, tak perlu berjalan memutari kompleks sekali lagi pada pukul sembilan malam semata-mata karena layar masih menunjukkan 487 dan targetnya 500.

Tubuh tidak tahu angka bulat. Smartwatch yang menyukainya.