Logo

Pelihara Kucing Bukan Cuma Soal Sayang

Hewan yang hidup bersama manusia membutuhkan kasih sayang yang diterjemahkan menjadi perawatan dan tanggung jawab.
Reporter:,Editor:

Minggu, 04 October 2026 01:00 UTC

Pelihara Kucing Bukan Cuma Soal Sayang

Ilustrasi: Sayang juga berarti merawat. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Memelihara kucing sering bermula dari hal sederhana. Seekor kucing datang ke teras, diberi makan, kembali keesokan hari, lalu perlahan menjadi bagian dari rumah.

Kedekatan semacam itu mudah membuat orang melihat hewan peliharaan sebagai teman. Namun, membawa kucing ke dalam kehidupan keluarga sebenarnya juga berarti menerima tanggung jawab terhadap kesehatan, kebersihan, keamanan, dan interaksinya dengan lingkungan.

Persoalan ini penting karena hubungan manusia dengan hewan juga bersinggungan dengan kesehatan masyarakat. Kementerian Kesehatan mencatat 185.359 kasus gigitan hewan penular rabies di Indonesia sepanjang 2024, disertai 122 kematian akibat rabies pada manusia. Hingga 7 Maret 2025, tercatat lagi 13.453 kasus gigitan dan 25 kematian.  

Angka tersebut tentu tidak berarti setiap kucing berbahaya. Justru data itu mengingatkan bahwa memelihara hewan perlu dilakukan dengan pengetahuan yang memadai, bukan hanya berdasarkan rasa suka.

 

Kucing di Rumah Tetap Membutuhkan Perawatan

Kucing yang terlihat sehat belum tentu tidak membutuhkan pemeriksaan. Pemilik tetap perlu memperhatikan pola makan, kondisi kulit dan bulu, kebersihan telinga dan gigi, perubahan perilaku, hingga jadwal pemeriksaan kesehatan.

Vaksinasi juga menjadi bagian penting dari pemeliharaan yang bertanggung jawab. Rabies memang lebih sering diasosiasikan dengan anjing, tetapi kucing termasuk hewan yang dapat terinfeksi.

Data Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan memperlihatkan hal tersebut. Pada laporan Januari 2026, misalnya, kasus rabies pada hewan yang dilaporkan terdiri atas 42 kasus pada anjing dan tiga pada kucing. Pada Juni 2026, tercatat 24 kasus pada anjing dan satu kasus pada kucing.  

Karena itu, memelihara kucing sebaiknya tidak berhenti pada menyediakan makanan. Pemilik perlu mengetahui status kesehatan hewan dan berkonsultasi dengan dokter hewan mengenai vaksinasi yang diperlukan sesuai usia, kondisi, serta wilayah tempat tinggal.

 

Jawa Timur Bebas Rabies, tetapi Kewaspadaan Tetap Penting

Ada kabar baik bagi masyarakat Jawa Timur. Dalam Surat Edaran Kementerian Kesehatan tentang kewaspadaan rabies, Jawa Timur termasuk 12 provinsi yang berstatus bebas rabies dari total 38 provinsi di Indonesia. Sebaliknya, 26 provinsi masih dikategorikan sebagai wilayah endemis rabies.  

Status bebas rabies merupakan capaian penting, tetapi bukan alasan mengabaikan kesehatan hewan peliharaan. Mobilitas manusia dan hewan antardaerah membuat pengawasan tetap diperlukan.

Kewaspadaan juga tidak identik dengan ketakutan terhadap kucing atau anjing. Pendekatan yang lebih tepat adalah memastikan hewan mendapatkan perawatan, vaksinasi sesuai kebutuhan, serta tidak dilepas tanpa pengawasan.

Jika terjadi gigitan atau cakaran yang berisiko, pemilik maupun korban juga tidak seharusnya menganggapnya sebagai kejadian sepele. Pemeriksaan ke fasilitas kesehatan menjadi penting, terutama bila status kesehatan hewan tidak diketahui.

 

Sayang Kucing Juga Berarti Mengatur Lingkungannya 

Ada kebiasaan yang terlihat sebagai bentuk kasih sayang tetapi sebenarnya belum tentu baik bagi hewan. Memberikan makanan manusia secara sembarangan adalah salah satunya.

Kucing memiliki kebutuhan nutrisi berbeda dari manusia. Pemilik sebaiknya tidak menjadikan sisa makanan keluarga sebagai menu utama hanya karena kucing menyukainya.

Air minum bersih juga perlu tersedia dan diganti secara rutin. Wadah makanan sebaiknya dicuci, sementara tempat membuang kotoran perlu dijaga kebersihannya.

Perhatian berikutnya adalah ruang hidup. Rumah tidak harus luas untuk menjadi tempat yang nyaman bagi kucing. Yang lebih penting ialah tersedianya area aman untuk beristirahat, makan, minum, bermain, dan membuang kotoran.

Lingkungan rumah juga perlu diperiksa dari benda-benda yang berpotensi membahayakan. Kabel terbuka, obat manusia, cairan pembersih, benda tajam, atau tanaman tertentu tidak semestinya mudah dijangkau hewan.

Pemilik juga perlu mempertimbangkan sterilisasi melalui konsultasi dengan dokter hewan. Pengendalian reproduksi membantu mencegah kelahiran yang tidak direncanakan dan bertambahnya hewan yang akhirnya terlantar.

 

Jangan Sampai Sayang Berakhir dengan Menelantarkan

Persoalan lain muncul ketika keputusan memelihara dibuat secara impulsif. Anak meminta kucing karena lucu, keluarga menyetujuinya, tetapi beberapa bulan kemudian tidak ada lagi yang bersedia membersihkan kotoran atau mengeluarkan biaya perawatan.

Hewan peliharaan berbeda dari barang yang bisa disimpan ketika pemilik bosan. Sebelum membawa kucing ke rumah, keluarga sebaiknya membicarakan siapa yang akan memberi makan, membersihkan tempat kotoran, membawa ke dokter hewan, serta menanggung kebutuhan rutinnya.

Pertimbangkan pula perubahan kehidupan beberapa tahun ke depan. Pindah rumah, kelahiran anak, perubahan pekerjaan, atau keterbatasan ekonomi dapat memengaruhi kemampuan merawat hewan.

Keputusan memelihara karena itu membutuhkan perspektif jangka panjang. Seekor kucing dapat hidup bertahun-tahun bersama keluarga yang sama.

Mengadopsi hewan terlantar juga tidak otomatis menyelesaikan persoalan. Adopsi baru benar-benar bermanfaat ketika keluarga mampu memberikan kehidupan yang lebih aman daripada kondisi sebelumnya.

 

Dari Hewan Peliharaan Menuju Kepedulian Bersama

Hubungan manusia dan hewan sebenarnya merupakan bagian dari persoalan kesehatan yang lebih luas. Penyakit yang dapat berpindah antara hewan dan manusia menunjukkan bahwa kesehatan keduanya saling berhubungan.

Kementerian Pertanian bahkan menempatkan pengendalian rabies sebagai agenda kolaboratif lintas sektor menuju target Indonesia bebas rabies pada 2030. Vaksinasi disebut sebagai instrumen penting dalam pencegahan penyakit tersebut. Kesadaran itu bisa dimulai dari rumah.

Pemilik mengenali kondisi hewannya, menjaga kebersihan, memberikan makanan dan air yang layak, mengikuti rekomendasi vaksinasi, mengendalikan reproduksi, serta tidak membuang hewan ketika tidak lagi menginginkannya.

Anak-anak pun dapat dilibatkan. Memberi air, membantu menyiapkan makanan, atau belajar memperlakukan hewan tanpa menyakitinya dapat menjadi pengalaman sederhana tentang tanggung jawab.

Pada akhirnya, memelihara kucing bukan cuma soal memiliki teman berbulu yang menggemaskan. Kasih sayang baru mempunyai arti ketika manusia bersedia merawat makhluk yang telah dibuat bergantung kepadanya.

Itulah bentuk paling sederhana dari memelihara kucing secara bertanggung jawab: bukan sekadar menyayangi ketika lucu, tetapi tetap merawat ketika membutuhkan waktu, tenaga, perhatian, dan biaya.