Logo

Kaki Berkeringat Bisa Memicu Masalah Kulit

Menjaga kaki tetap kering merupakan kebiasaan kecil yang membantu mempertahankan kenyamanan kulit sepanjang hari.
Reporter:,Editor:

Sabtu, 26 September 2026 05:00 UTC

Kaki Berkeringat Bisa Memicu Masalah Kulit

Ilustrasi: Jaga Kaki Tetap Kering. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Kaki berkeringat merupakan kondisi yang mudah terjadi setelah beraktivitas dengan sepatu tertutup selama berjam-jam. Keringat sebenarnya bagian normal dari mekanisme tubuh, tetapi lingkungan kaki yang terus lembap dapat menciptakan kondisi yang mendukung masalah kulit.

Perhatian terhadap kulit bukan perkara kecil. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO memperkirakan kondisi kulit memengaruhi sekitar 1,8 miliar orang pada suatu waktu. Penyakit kulit juga termasuk di antara 10 penyebab disabilitas teratas secara global. 

Salah satu gangguan yang dapat muncul pada kaki adalah tinea pedis atau athlete's foot, yaitu infeksi jamur pada kulit kaki. Kondisi lembap, penggunaan alas kaki tertutup, dan kebiasaan membiarkan kaki basah terlalu lama dapat menciptakan lingkungan yang disukai jamur.

Masalahnya, kaki sering menjadi bagian tubuh yang baru diperhatikan setelah muncul gatal, bau, kulit mengelupas, atau rasa tidak nyaman.

 

Kaki Berkeringat Menciptakan Lingkungan Lembap

Telapak kaki memiliki banyak kelenjar keringat. Ketika aktivitas meningkat atau suhu lingkungan terasa hangat, produksi keringat dapat ikut meningkat.

Sepatu tertutup membuat kelembapan lebih sulit menguap. Kaus kaki kemudian menyerap sebagian keringat, tetapi dapat tetap lembap jika digunakan terlalu lama.

Kondisi tersebut tidak otomatis berarti seseorang akan terkena infeksi jamur. Namun, lingkungan hangat dan lembap dapat membantu dermatofita, kelompok jamur penyebab tinea, bertahan dan berkembang.

WHO menyebut infeksi jamur kulit diperkirakan dialami lebih dari 650 juta orang pada suatu waktu di seluruh dunia. Ringworm atau tinea menyumbang lebih dari separuh kasus tersebut. 

Angka global itu mencakup berbagai bentuk tinea dan bukan hanya tinea pedis. Meski demikian, skalanya menunjukkan bahwa infeksi jamur kulit merupakan persoalan yang sangat umum.

 

Sepatu dan Kaus Kaki Perlu Mendapat Perhatian

Kebiasaan memakai sepatu yang sama setiap hari terasa praktis. Namun, bagian dalam sepatu bisa membutuhkan waktu untuk benar-benar kering setelah digunakan seharian.

Terlebih bagi pekerja lapangan, pengendara, petugas layanan, atau siapa pun yang harus memakai sepatu tertutup dalam durasi panjang.

Kaus kaki juga berperan dalam mengelola kelembapan. Mengganti kaus kaki yang sudah sangat lembap dapat membantu kaki kembali terasa kering dan nyaman.

Setelah beraktivitas, sepatu sebaiknya diletakkan di tempat dengan sirkulasi udara baik. Hindari langsung memasukkan alas kaki yang masih lembap ke ruang penyimpanan tertutup.

Memiliki rotasi dua pasang sepatu juga bisa menjadi pilihan praktis bagi orang yang menggunakannya setiap hari. Tujuannya bukan mengikuti tren, melainkan memberi waktu agar bagian dalam alas kaki mengering.

Kebiasaan sederhana ini semakin relevan karena WHO menempatkan penyakit kulit sebagai persoalan kesehatan masyarakat global. Pada Mei 2025, World Health Assembly ke-78 bahkan mengadopsi resolusi yang menetapkan penyakit kulit sebagai prioritas kesehatan masyarakat global. 

 

Bau Kaki dan Infeksi Jamur Bukan Hal yang Sama

Kaki berkeringat sering langsung dikaitkan dengan jamur. Padahal, bau kaki, produksi keringat berlebih, iritasi, dan infeksi jamur merupakan kondisi berbeda.

Bau dapat muncul ketika keringat berinteraksi dengan mikroorganisme pada kulit. Karena itu, aroma tidak sedap saja belum cukup untuk memastikan adanya infeksi jamur.

Tinea pada kulit umumnya dapat menimbulkan rasa gatal, kemerahan, atau perubahan pada permukaan kulit. Pada kaki, keluhan dapat muncul di sela jari maupun bagian kulit lainnya.

WHO mencatat infeksi tinea biasanya tidak mengancam jiwa, tetapi dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan mudah menyebar. Infeksi sekunder oleh bakteri juga dapat terjadi ketika kulit mengalami kerusakan. 

Karena gejalanya bisa menyerupai masalah kulit lain, penggunaan obat antijamur secara sembarangan bukan pilihan ideal. Keluhan yang menetap lebih aman diperiksa agar penyebabnya diketahui.

 

Kebiasaan Sederhana Membantu Kaki Tetap Kering

Merawat kaki tidak membutuhkan rutinitas panjang. Setelah mandi, keringkan telapak dan sela-sela jari sebelum mengenakan kaus kaki atau sepatu.

Hindari menggunakan kaus kaki yang masih lembap. Setelah aktivitas panjang, menggantinya dengan pasangan bersih bisa membuat kaki lebih nyaman.

Handuk pribadi juga sebaiknya tidak digunakan bergantian ketika ada anggota keluarga yang mengalami infeksi kulit. WHO menjelaskan tinea dapat menyebar melalui kontak langsung maupun benda yang terkontaminasi. 

Kebiasaan berjalan tanpa alas kaki di area bersama yang lembap juga perlu diperhatikan. Kamar mandi komunal, ruang ganti, dan area kolam renang merupakan contoh tempat yang membuat kulit lebih sering bersentuhan dengan permukaan basah.

Pada 2026, WHO kembali memperkuat perhatian terhadap penyakit jamur dengan menerbitkan panduan global untuk meningkatkan respons terhadap penyakit jamur dan resistensi antijamur. Lembaga tersebut menilai penyakit jamur masih kerap kurang dikenali, kurang terdiagnosis, dan kekurangan sumber daya penanganan di banyak sistem kesehatan. 

Artinya, menjaga kaki bukan semata perkara menghindari aroma tidak sedap. Kulit kaki juga bagian dari pertahanan tubuh yang perlu dijaga kondisinya.

Kaki berkeringat tetap merupakan proses alami. Yang perlu diperhatikan adalah kelembapan yang bertahan terlalu lama, kebersihan alas kaki, serta perubahan kulit yang terus muncul.

Mengeringkan sela jari, mengganti kaus kaki, dan memberi sepatu waktu untuk mendapatkan sirkulasi udara merupakan langkah sederhana. Kebiasaan tersebut membantu kaki tetap nyaman sekaligus mengurangi kondisi lembap yang mendukung masalah kulit.