Senin, 19 January 2026 02:30 UTC

Jembatan gantung yang menghubungkan Dusun Beji dengan Dusun Banjar, Desa Banjarsari, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo rusak akibat diterjang banjir bandang pada Sabtu, 17 Januari 2026. Foto: Zulalif.
JATIMNET.COM, Probolinggo – Banjir yang melanda sebagian wilayah Kabupaten Probolinggo pada akhir pekan lalu mengakibatkan rusaknya sejumlah infrastruktur.
Salah satunya adalah jembatan gantung yang menghubungkan Dusun Beji dan Dusun Banjar, Desa Banjarsari, Kecamatan Sumberasih.
Kondisi jembatan dengan panjang sekitar 20 meter dan lebar 4 meter itu hancur dan tidak dapat dilalui. Fondasi penyangga dan badan jembatan rusak setelah diterjang derasnya arus banjir pada Sabtu, 17 Januari 2026. Akibatnya, akses utama warga antardusun terputus total.
Kerusakan jembatan dengan konstruksi besi ini tidak hanya mengganggu aktivitas ekonomi warga, tetapi juga berdampak besar pada dunia pendidikan.
Puluhan siswa mulai dari jenjang PAUD, TK, SD hingga SMP yang selama ini mengandalkan jembatan tersebut untuk berangkat ke sekolah kini harus mencari jalur alternatif.
BACA: Warga Terdampak Banjir di Probolinggo Membutuhkan Bantuan Logistik
Pascajembatan hancur, para siswa terpaksa diantar orang tua dengan memutar sejauh kurang lebih 2 kilometer untuk bisa sampai ke sekolah masing-masing. Kondisi ini dinilai cukup memberatkan, terutama bagi warga yang tidak memiliki kendaraan.
Fitria, salah seorang warga Dusun Beji mengaku sangat prihatin dengan kondisi jembatan yang rusak tersebut. “Jembatan ini akses utama kami, terutama anak-anak sekolah. Sekarang sudah tidak bisa dilewati sama sekali, jadi anak-anak harus memutar jauh,” ujar Fitria, Senin, 19 Januari 2026.
SDN Banjarsari II menjadi salah satu sekolah yang terdampak langsung. Puluhan siswanya, diketahui tinggal di Dusun Beji atau berada di seberang jembatan yang kini hancur.
Salah satu siswa SDN Banjarsari II, Silviana, mengaku sedih karena tidak bisa lagi melewati jembatan yang biasa digunakannya untuk berangkat ke sekolah.
“Sedih, biasanya lewat jembatan itu sama teman-teman. Sekarang jembatannya putus, jadi harus memutar jauh dan capek,” ungkap Silviana.
BACA: Tujuh Wilayah Kecamatan Terdampak Banjir Bandang di Probolinggo
Dari catatan Koordinator Wilayah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Sumberasih Maini Yudiningsih, pascaambruknya jembatan tersebut tercatat sebanyak tujuh siswa tidak masuk sekolah karena terkendala akses.
“Ada tujuh siswa yang tidak masuk sekolah karena kesulitan akses setelah jembatan ambruk. Kami berharap segera ada penanganan agar aktivitas belajar mengajar bisa kembali normal,” jelasnya.
Diketahui, jembatan gantung tersebut dibangun pada tahun 2018 lalu menggunakan anggaran Dana Desa sebesar Rp277 juta.
Namun derasnya banjir membuat jembatan yang selama ini menjadi akses vital warga dan siswa tersebut hancur.
