JATIMNET.COM, Ponorogo – Dalam pesta pernikahan biasanya menggunakan adat jawa atau modern. Namun, berbeda dengan pernikahan yang terjadi di Ponorogo ini, seperti dilakukan dari keluarga Sudirman.

Dia menikahkan anaknya, Santi Prameswari, 23 tahun dengan pujaannya, Muhammad Taufik Hidayat, berusia 33 tahun asal Kabupaten Nganjuk ini masih menggunakan tradaisi adat Ponorogan yang merupakan adat khas Ponorogo yang tidak ada ditempat lain.

Adat itu sendiri seperti, kedua mempelai itu terlihat berdampingan rapi dari depan dan didampingi dengan dua sesepuh masih menggunakan pakaian penadon sebagai penunjuk jalan. Kemudian mempelai pria diapit dengan kedua orang tuanya, diiringi dengan grup sesepuh berpakaian muslim sembari membaca salawat.

Selain itu, ada juga pengiring yang membawa baskom seserahan atau lebih dikenal dengan istilah sebutan mbecek. Serta ada kesenian reog jaman dulu, ada penari jathil laki-laki, perempuan dan 3 dadap merak sekaligus yang tampil khas dengan musiknya.

Prosesi pernikahan menggunakan adat Ponorogan yang ada di Ponorogo.
Prosesi pernikahan menggunakan adat Ponorogan yang ada di Ponorogo.

Menurut Sudirman, pernikahan yang digelar untuk anaknya itu ingin menunjukan dan mengenalkan seni adat budaya di Ponorogo. “Adat pernikahan Ponorogo yang saya lakukan ini agar tidak punah. Seperti pas waktu masih kecil, saya sering melihat prosesi pernikahan yang dikenal dengan sebutan Ponorogan,” kata Sudirman, Selasa, 4 September 2018.

Dalam prosesi pernikahan adat Ponorogan tempat duduk pengantin masih menggunakan khas jaman dulu, yakni kuade. Kemudian, juga ada penampilan seni tari bujangganong dilakukan oleh dua anak kecil, tarian jathil obyok dilakukan sama 6 remaja putri, tarian jathil oleh 2 orang putra seperti jaman dulu, tarian warok oleh 5 putra dan 3 dadap merak yang bergantian beratraksi.

Prosesi pernikahan menggunakan adat Ponorogan yang ada di Ponorogo.
Prosesi pernikahan menggunakan adat Ponorogan yang ada di Ponorogo.

“Untuk prosesi ada pernikahan ini saya melibatkan 110 seniman, baik bertugas sebagai penampil ataupun pemain musik. Saya pun berharap di tempat lain juga ada yang mau melestarikan adat pernikahan khas Ponoragan, karena sekarang ini sudah dipastikan tidak ada yang seperti ini,” katanya.