Hormati Bulan Ramadan, Umat Buddha Ponorogo Tunda Rayakan Waisak

Gayuh Satria Wicaksono

Minggu, 19 Mei 2019 - 11:22

JATIMNET.COM, Ponorogo – Toleransi antar umat beragama di Desa Gelang Kulon, Kecamatan Sampung, Kabupaten Ponorogo sangat kental. Hal ini disebabkan karena sepertiga dari jumlah penduduk desa tersebut beragama Buddha.

Desa yang terletak di ujung barat kota Ponorogo ini berada di atas pegunungan dengan jumlah penduduk hanya 482 jiwa. Dari jumlah itu 143 jiwa lainnya adalah pemeluk Buddha, sedangkan sisanya beragama Islam.

Tahun ini umat Buddha di Desa Gelang Kulon sengaja menunda pelaksanaan Waisak. Hal ini untuk menghormati umat Islam yang tengah menjalankan ibadah puasa. Meskipun di desa tersebut mayoritas penduduknya beragama Buddha.

BACA JUGA: Ramadan, Santri Ponorogo Berselawat dan Menabuh Bedug Usai Tarawih

“Seperti tahun sebelumnya, ketika Hari Raya Waisak bersamaan dengan bulan Ramadan, kami memilih untuk menunda anjangsana (silaturahmi, red),” kata Penyuluh Agama Buddha Kementerian Agama (Kemenag) Jawa Timur Suwandi Cittapanno (45), Minggu 19 Mei 2019.

Suwandi menjelaskan jika anjangsana lebih mirip dengan silaturahmi yang dilakukan umat Islam, ketika merayakan Idul Fitri. Alasanya, penundaan anjangsana sebenarnya tidak lain adalah untuk menghormati umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa.

Ia menuturkan anjangsana akan dilakukan umat Buddha Di Gelang Kulon berbarengan dengan umat Islam merayakan hari raya Idul fitri. Selain itu, sudah menjadi adat masyarakat Jawa jika ada orang bertamu pasti akan dibuatkan minuman atau makanan. Hal inilah yang membuat umat Buddha memilih menunda anjangsana.

“Selain bersilaturahmi ke sesama umat Buddha, otomatis kami juga akan bersilaturahmi ke rumah saudara kami yang beragama Islam,” tuturnya.

BACA JUGA: Ada Warok dan Jathil Bagi-bagi Takjil

Selain itu, di Desa Gelang Kulon ini juga terdapat vihara yang terlatak di dusun Sodong. Vihara dengan nama Dharma Dwipa ini di dalamnya terdapat patung Buddha Rupang yang telah disiapkan untuk peringatan hari raya Waisak.

“Tahun 1950 umat Budha masuk ke desa ini, kemudian tahun 1969 vihara ini baru resmi dibangun dengan swadaya masyarakat,” imbuhnya.

Suwandi sekaligus Ketua Vihara Dharma Dwipa mengaku jika tahun ini perayaan Waisak dilakukan dengan pelepasan satwa ikan di sungai, yaitu ikan nila dan lele. Sebelum acara pelepasan satwa juga dilakukan perenungan, pembacaan pesan-pesan Waisak hingga meditasi selama satu jam. Berlanjut dengan sungkeman kepada sesepuh dan kedua orang tua.

“Makna dari pelepasan ikan ini supaya semua mahkluk hidup bisa hidup sesuai dengan alamnya tanpa adanya kekangan,” pungkasnya.

Baca Juga

loading...