Rabu, 10 June 2026 06:00 UTC

Pegawai SPBU di Kabupaten Tuban sedang mengisi kendaraan dengan BBM jenis Pertalite Rabu, 10 Juni 2026. Foto: Zidni Ilman.
JATIMNET.COM, Tuban – Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi per hari ini, Rabu, 10 Juni 2026.
Penerapan harga baru untuk Pertamax dan Pertamax Green dinyatakan telah dievaluasi pemerintah dan sesuai regulasi yang berlaku. Pertamina Patra Niaga menyebut kenaikan harga BBM ini sebagai penyesuaian.
Namun demikian, dampaknya langsung dirasakan warga secara nasional. Di Tuban, misalnya, pemilik kendaraan bermotor yang sebelumnya menggunakan Pertamax harus beralih ke Pertalite.
Pilihan itu karena harga Pertamax mengalami kenaikan Rp3.950 per liter. Sebelumnya, Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter.
"Kalau dihitung-hitung selisih kenaikannya itu banyak. Jadi ya kerasa sekali, apalagi pekerja seperti saya yang setiap hari harus riwa-riwi ke berbagai tempat," ungkap Kholis, warga Desa Compreng, Kecamatan Widang.
Sebelumnya, dia selalu mengisi tangki BBM Yamaha NMax untuk sarana mobilitas dengan Pertamax. Sebab, dinilai lebih sesuai dengan spesifikasi mesin motor yang membutuhkan bahan bakar beroktan tinggi.
Menurut Kholis, biaya transportasi menjadi salah satu pengeluaran rutin yang sulit ditekan. Karena itu, selisih harga hampir Rp4.000 per liter dianggap cukup memberatkan bagi masyarakat yang mobilitasnya tinggi.
Hal serupa dirasakan Afif, warga Desa Jenggolo, Kecamatan Jenu. Pemilik mobil Suzuki Ertiga tersebut mengaku selama ini lebih nyaman menggunakan Pertamax. Namun, kondisi saat ini membuatnya setengah hati beralih ke Pertalite.
"Saya sebenarnya trauma dengan Pertalite karena dulu pernah ada kasus BBM tercampur air yang katanya sampai merusak mesin kendaraan di Tuban. Tapi, kalau kondisinya begini ya mau bagaimana lagi. Naiknya cukup banyak itu," tuturnya.
Meski demikian, Afif mengaku belum mengetahui apakah perpindahan ke Pertalite akan dilakukan secara permanen atau hanya sementara sambil melihat perkembangan harga BBM dalam beberapa waktu ke depan.
Pilihan serupa juga diambil Niam, warga Kelurahan Latsari, Kecamatan Tuban. Pengguna mobil Honda BR-V itu mengaku terpaksa mengikuti langkah sebagian besar konsumen lainnya dengan beralih ke Pertalite demi mengurangi beban pengeluaran harian.
"Secara kualitas memang beda sih saya rasa (antara Pertamax dan Pertalite), tapi mau gimana lagi ya, kita gak punya pilihan. Kebutuhan juga semakin mahal, jadi harus ikut menghemat," katanya sambil tersenyum.
Perubahan pola konsumsi masyarakat tersebut turut dirasakan oleh sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kabupaten Tuban.
Salah seorang petugas SPBU di Kecamatan Jenu yang enggan disebutkan namanya mengatakan jumlah konsumen Pertamax mengalami penurunan drastis pada hari pertama kenaikan harga.
"Kalau hari ini yang isi Pertamax masih ada, tapi sedikit sekali. Kalau dihitung mungkin tidak sampai sepuluh kendaraan. Tidak seperti hari-hari biasanya yang cukup banyak," katanya.
Ia menyebut mayoritas konsumen yang datang ke SPBU memilih beralih ke Pertalite karena mempertimbangkan selisih harga yang cukup jauh.
