Logo

Harga Bukan Lagi Masalah? Alasan Orang Indonesia Belum Beralih ke Motor Listrik

Ketika harga mulai mendekat, pertanyaan yang muncul bukan lagi soal murah atau mahal, melainkan soal keyakinan.
Reporter:,Editor:

Jumat, 29 May 2026 13:00 UTC

Harga Bukan Lagi Masalah? Alasan Orang Indonesia Belum Beralih ke Motor Listrik

Ilustrasi: Harga Bukan Segalanya. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Motor listrik semakin mendapat perhatian dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah kembali menyiapkan insentif pembelian sekitar Rp5 juta per unit pada 2026, sementara pilihan produk di pasar terus bertambah. Jika dilihat sekilas, kondisi tersebut seharusnya membuat masyarakat semakin mudah beralih dari motor bensin ke kendaraan listrik.

 

Namun kenyataan di lapangan menunjukkan gambaran yang lebih kompleks. Polling Kumparan yang diikuti 247 responden memperlihatkan bahwa hanya 15,38 persen yang langsung tertarik membeli motor listrik jika tersedia subsidi Rp5 juta.

 

Sebaliknya, 34,01 persen menyatakan tetap memilih motor bensin. Sebanyak 29,55 persen menganggap nilai subsidi tersebut masih kurang, sedangkan 21,05 persen mengaku masih mempertimbangkan berbagai aspek sebelum membuat keputusan.

 

Data tersebut menunjukkan bahwa harga bukan lagi satu-satunya isu yang dibicarakan calon konsumen. Banyak faktor lain yang kini menjadi pertimbangan utama sebelum seseorang benar-benar beralih ke kendaraan listrik.

 

 

Harga Sudah Semakin Kompetitif

Salah satu hambatan terbesar kendaraan listrik pada masa awal adalah harga jual yang relatif tinggi dibandingkan motor konvensional.

 

Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah sebelumnya memberikan bantuan pembelian motor listrik sebesar Rp7 juta per unit. Program tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong peningkatan penjualan kendaraan listrik nasional.

 

Data Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI) menunjukkan penjualan motor listrik pada 2024 mencapai 63.146 unit. Jumlah ini meningkat sekitar 447 persen dibandingkan 11.532 unit pada 2023.

 

Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa harga memang memiliki pengaruh besar terhadap minat konsumen. Ketika biaya pembelian menjadi lebih terjangkau, pasar merespons secara positif.

 

Namun, peningkatan penjualan itu juga menunjukkan satu hal lain. Setelah hambatan harga mulai berkurang, muncul pertanyaan baru yang tidak bisa dijawab hanya dengan memberikan subsidi tambahan.

 

 

Konsumen Mulai Menghitung Biaya Jangka Panjang

 

Membeli kendaraan tidak sama dengan membeli barang konsumsi harian. Sebagian besar masyarakat mempertimbangkan penggunaan kendaraan untuk jangka waktu bertahun-tahun. Karena itu, keputusan pembelian sering kali didasarkan pada total biaya kepemilikan, bukan sekadar harga awal saat transaksi.

 

Pada motor listrik, perhatian terbesar biasanya tertuju pada komponen baterai. Banyak calon pengguna ingin mengetahui berapa lama usia pakai baterai, bagaimana prosedur penggantian ketika performanya menurun, serta berapa biaya yang harus disiapkan di masa depan.

 

Selain itu, konsumen juga mempertimbangkan kemudahan memperoleh layanan servis dan ketersediaan suku cadang. Faktor-faktor tersebut sangat penting karena kendaraan digunakan setiap hari untuk bekerja, sekolah, dan berbagai aktivitas lainnya.

 

Selama informasi tersebut belum dipahami secara luas oleh masyarakat, sebagian calon pembeli cenderung mengambil posisi menunggu.

 

 

Kebiasaan Lama Masih Sulit Digantikan

 

Indonesia merupakan salah satu negara dengan populasi sepeda motor terbesar di dunia. Menurut data AISMOLI, jumlah sepeda motor yang beroperasi di Indonesia telah melampaui 130 juta unit.

 

Setiap tahun jumlah tersebut bertambah sekitar enam juta unit. Angka tersebut menunjukkan betapa kuatnya ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan roda dua. Selama puluhan tahun, pengguna terbiasa mengisi bahan bakar dalam hitungan menit dan memperoleh layanan perawatan hampir di setiap daerah.

 

Motor listrik hadir dengan pendekatan yang berbeda. Pengguna harus mulai memahami pola pengisian daya, karakteristik baterai, serta kebiasaan penggunaan yang tidak selalu sama dengan kendaraan berbahan bakar minyak.

 

Perubahan kebiasaan ini sering kali membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan perubahan teknologi itu sendiri.

 

 

Pasar Menunjukkan Minat, Tetapi Belum Sepenuhnya Yakin

 

Menariknya, hasil polling Kumparan memperlihatkan bahwa masyarakat tidak sepenuhnya menolak kendaraan listrik. Sebanyak 21,05 persen responden mengaku subsidi Rp5 juta cukup membantu tetapi masih perlu mempertimbangkan banyak hal. Kelompok ini menunjukkan adanya minat yang nyata terhadap motor listrik.

 

Sinyal serupa juga terlihat dari aktivitas industri. Data Sertifikat Registrasi Uji Tipe (SRUT) yang disampaikan AISMOLI mencatat 3.565 unit motor listrik pada Januari 2026 dan 3.066 unit pada Februari 2026.

 

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang masing-masing berada di level 2.103 unit dan 2.158 unit.

 

Peningkatan SRUT menunjukkan produsen masih aktif menghadirkan produk baru dan melihat peluang pertumbuhan pasar dalam jangka panjang.

 

Artinya, masalah yang dihadapi bukan ketiadaan minat. Tantangan utamanya adalah mengubah minat tersebut menjadi keputusan pembelian yang nyata.

 

 

Kepercayaan Menjadi Faktor Penentu

 

Dalam setiap perubahan teknologi besar, ada fase ketika masyarakat membutuhkan waktu untuk membangun rasa percaya. Fase ini juga sedang dialami pasar motor listrik Indonesia.

 

Konsumen ingin melihat lebih banyak pengalaman pengguna, kepastian layanan purna jual, perkembangan teknologi baterai, serta konsistensi kebijakan pemerintah sebelum mengambil keputusan.

 

Polling Kumparan memperlihatkan bahwa mayoritas responden belum menjadikan subsidi Rp5 juta sebagai alasan yang cukup untuk langsung membeli. Hal ini bukan berarti masyarakat menolak kendaraan listrik. Sebaliknya, banyak orang masih berada dalam tahap mencari kepastian.

 

Karena itu, masa depan motor listrik di Indonesia kemungkinan tidak akan ditentukan oleh harga semata. Harga yang semakin kompetitif memang penting, tetapi faktor yang lebih menentukan adalah rasa aman dan keyakinan bahwa kendaraan tersebut mampu memenuhi kebutuhan mobilitas sehari-hari tanpa menimbulkan kekhawatiran baru.

 

Ketika kepercayaan itu terbentuk, subsidi akan menjadi pendorong tambahan yang efektif. Namun sebelum itu terjadi, harga murah saja belum tentu cukup untuk membuat mayoritas masyarakat meninggalkan motor bensin yang telah menjadi bagian dari kehidupan mereka selama bertahun-tahun.