Logo

Gaya Hidup Minimalis Semakin Diminati Anak Muda

Reporter:,Editor:

Sabtu, 13 June 2026 00:00 UTC

Gaya Hidup Minimalis Semakin Diminati Anak Muda

Ilustrasi: Hidup lebih sederhana. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Gaya hidup minimalis tidak lagi identik dengan rumah serba putih atau tren dekorasi media sosial.  Dalam beberapa tahun terakhir, konsep ini berkembang menjadi cara pandang baru terhadap konsumsi, pengelolaan uang, hingga cara seseorang menentukan prioritas hidup.

 

Di kota-kota besar seperti Surabaya, semakin banyak anak muda mulai mempertanyakan kebiasaan membeli barang yang sebenarnya jarang digunakan.

 

Mereka juga mulai menyadari bahwa banyak pengeluaran muncul bukan karena kebutuhan, melainkan dorongan sesaat dari tren, promosi, atau kebiasaan mengikuti gaya hidup orang lain.

 

Fenomena ini muncul ketika biaya hidup terus meningkat sementara masyarakat semakin terpapar budaya konsumsi digital.

 

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama ekonomi Indonesia dengan pertumbuhan sekitar 4,94 persen sepanjang 2024.

 

Di saat yang sama, masyarakat terus dibanjiri berbagai pilihan produk dan layanan yang mendorong konsumsi harian. 

 

 

Minimalisme Bukan Sekadar Mengurangi Barang

 

Banyak orang masih menganggap minimalisme sebagai gaya hidup yang mengharuskan seseorang membuang sebagian besar barang miliknya. Padahal, esensi utamanya justru terletak pada kesadaran memilih.

 

Minimalisme membantu seseorang memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Dengan cara itu, keputusan membeli barang menjadi lebih terukur dan tidak hanya didasarkan pada dorongan emosional.

 

Bagi mahasiswa, pekerja muda, maupun penghuni kos, pendekatan ini terasa semakin relevan. Ruang tinggal yang terbatas membuat setiap barang harus memiliki fungsi yang jelas.

 

Karena itu, minimalisme lebih dekat dengan efisiensi dibanding pengorbanan. Tujuannya bukan hidup serba kekurangan, melainkan mengurangi hal yang tidak memberikan manfaat nyata.

 

 

Budaya Konsumsi Membuat Banyak Orang Mulai Berbenah

 

Perkembangan e-commerce dan media sosial membuat proses belanja menjadi sangat mudah. Dalam hitungan menit, seseorang dapat membeli barang tanpa harus meninggalkan tempat duduknya.

 

Kemudahan ini memang membantu aktivitas sehari-hari. Namun di sisi lain, muncul fenomena pembelian impulsif yang sering kali tidak direncanakan.

 

Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan timbulan sampah Indonesia pada 2024 mencapai sekitar 33,79 juta ton.

 

Sebanyak 50,8 persen berasal dari rumah tangga. Angka tersebut menggambarkan bagaimana pola konsumsi masyarakat memiliki dampak langsung terhadap lingkungan. 

 

Bagi sebagian anak muda, fakta tersebut menjadi alasan tambahan untuk mulai mengurangi pembelian yang tidak diperlukan. Mereka tidak hanya ingin menghemat uang, tetapi juga mengurangi limbah dari barang yang akhirnya tidak terpakai.

 

 

Dampak Positif bagi Keuangan Pribadi

 

Salah satu alasan mengapa gaya hidup minimalis semakin populer adalah manfaatnya terhadap kondisi finansial. Saat seseorang lebih selektif dalam berbelanja, pengeluaran bulanan cenderung lebih terkendali. Uang yang sebelumnya habis untuk kebutuhan konsumtif dapat dialihkan ke dana darurat, pendidikan, atau investasi.

 

Data pengeluaran rumah tangga yang dihimpun BPS melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) menunjukkan bahwa konsumsi makanan dan nonmakanan masih mendominasi penggunaan pendapatan masyarakat.

 

Informasi tersebut memperlihatkan pentingnya kemampuan mengelola prioritas pengeluaran agar kondisi keuangan tetap sehat. 

Minimalisme membantu proses tersebut karena setiap pembelian dipertimbangkan berdasarkan fungsi, frekuensi penggunaan, dan nilai jangka panjangnya.

 

Kebiasaan sederhana seperti membuat daftar belanja, menunda pembelian selama beberapa hari, atau mengevaluasi barang yang sudah dimiliki sering kali memberikan dampak besar terhadap pengeluaran tahunan.

 

 

Ruang Hidup yang Lebih Ringan dan Nyaman

 

Selain soal uang, banyak orang merasakan manfaat psikologis dari lingkungan yang lebih rapi dan teratur. Kamar kos yang terlalu penuh sering membuat aktivitas sehari-hari terasa tidak nyaman. Barang yang menumpuk juga menyulitkan proses membersihkan dan menata ruangan.

 

Sebaliknya, ruang yang lebih sederhana menciptakan suasana yang lebih lega. Aktivitas bekerja, belajar, maupun beristirahat menjadi lebih nyaman karena distraksi visual berkurang.

 

Di Surabaya, tren hunian kompak dan kamar kos modern turut mendorong munculnya pola pikir ini. Banyak penghuni memilih menyimpan barang secukupnya agar ruang tetap fungsional tanpa kehilangan kenyamanan.

 

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa minimalisme bukan hanya tren media sosial, melainkan respons logis terhadap perubahan gaya hidup perkotaan yang semakin dinamis.

 

 

Minimalisme Menjadi Cara Baru Menentukan Prioritas

 

Pada akhirnya, gaya hidup minimalis bukan tentang berapa banyak barang yang dimiliki seseorang. Yang lebih penting adalah kemampuan menentukan apa yang benar-benar bernilai dalam hidup.

 

Sebagian orang menemukan manfaatnya melalui pengelolaan keuangan yang lebih baik. Sebagian lainnya merasakan rumah yang lebih nyaman, pikiran yang lebih tenang, atau waktu yang lebih banyak untuk aktivitas yang bermakna.

 

Di tengah derasnya arus konsumsi modern, gaya hidup minimalis menawarkan cara sederhana untuk kembali pada kebutuhan yang paling penting.

 

Bukan untuk menolak kemajuan, tetapi untuk memastikan bahwa setiap keputusan konsumsi benar-benar memberi manfaat bagi kehidupan sehari-hari.