Dua negara mendanai tiga riset penelitian senilai Rp 31 miliar

Gandeng Inggris, Ristekdiki Berkolaborasi Biayai Riset Kebencanaan di Indonesia

Dyah Ayu Pitaloka
Dyah Ayu Pitaloka

Kamis, 7 Februari 2019 - 13:58

JATIMNET.COM, Surabaya – Pemerintahan Indonesia dan Inggris berkolaborasi mendanai tiga penelitian tentang kebencanaan yang berkaitan dengan air maupun lahan. Kerjasama yang berlangsung antara Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti) dan Departemen Bisnis, Energi dan Strategi Industri Inggris melalui Newton Fund itu menyiapkan anggaran sebesar Rp 31 miliar untuk tiga penelitian selama 2019-2021.

"Ada tiga proposol terpilih yang didanai bersama dengan total dana Rp 31 miliar selama tiga tahun," kata Menteri Ristekdikti Mohamad Nasir dalam konferensi pers peluncuran kerja sama riset kebencanaan Indonesia dan Inggris melalui Program Newton Fund di Gedung D Kementerian Ristekdikti, Jakarta, Kamis 7 Februari 2019. Tiga penelitian terpilih berasal dari 23 proposal yang dinilai oleh pihak Indonesia dan Inggris sebelumnya. Proses pemillihan dilakukan secara terbuka, transparan dan kompetitif.

Tiga penelitian terpilih tersebut antaralain riset yang berjudul "Mitigating hydro meteorological hazard impacts through transboundary river management in the Ciliwung River basin". Riset ini ditujukan untuk meningkatkan pengelolaan badan sungai Ciliwung dan kepedulian masyarakat terhadap ancaman banjir. Peneliti utama dari Indonesia adalah Harkunti Rahayu dari Institut Teknologi Bandung dan dari Inggris adalah Richard Haigh dari University of Huddersfield.

BACA JUGA: Ratusan Warga Bangkalan Mengungsi akibat Banjir

Riset kedua berjudul "Java Flood One". Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan prediksi banjir jangka menengah di beberapa pusat kota pulau Jawa, termasuk Jakarta, Bandung dan Surakarta. Peneliti utama dari Indonesia adalah Agus Mochamad Ramdhan dari Institut Teknologi Bandung dan dari Inggris adalah Simon Mathias dari Durham University.

Penelitian ke tiga berjudul "Extreme rainfall and its effects on flood risk in Indonesia". Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengidentifikasi penyebab utama banjir di Indonesia dan strategi-strategi utama untuk memitigasi resiko bencana. Peneliti utama dari Indonesia adalah Suroso dari Universitas Jenderal Soedirman dan dari Inggris adalah Chris Kilsby dari Newcastle University.

Dijelaskan Nasir, ilmuwan dua negara akan berkolaborasi dalam riset berstandar tinggi dengan tujuan menghasilkan terobosan dalam kebencanaan. Terutama dalam memahami dampak bencana terkait dengan air maupun lahan.

Hasil kolaborasi akan meningkatkan ketahanan dan kesiapan Indonesia dalam menangani perubahan iklim, termasuk melalui intervensi kebijakan maupun komunikasi potensi bencana yang efektif.

BACA JUGA: Ribuan Jiwa Terdampak Banjir di Gorontalo

Sementara itu, Duta Besar Inggris untuk Indonesia, ASEAN dan Timor Leste Moazzam Malik mengatakan kolaborasi berskala internasional dan komitmen pendanaan akan memberikan dampak signifikan baik secara sosial maupun ekonomi. Newton Fund, dalam kemitraannya dengan Kementerian Ristekdikti berkomitmen untuk mendanai riset-riset kolaborasi berskala internasional untuk memberikan kontribusi positif baik secara sosial maupun ekonomi. Dalam kolaborasi pendanaan ini, Iggris berkontribusi sebesar 87 persen dari total Rp 31 miliar.

Inggris ikut terlibat dalam riset sebab bencana banjir dan longsor tidak hanya mengancam keberlangsungan hidup masyarakat, namun juga perkembangan ekonomi Indonesia. "Ilmuwan terbaik Inggris dan Indonesia bekerjasama dan saling belajar agar bisa membuat suatu perubahan besar, serta menginspirasi generasi ilmuwan muda berikutnya," kata Moazzam.

Saat ini Bidang sains dan riset Inggris menempati posisi kedua dunia. Sebanyak 54 persen hasil penelitiannya masuk dalam kategori terbaik dunia. Kemudian, 38 persen peraih Nobel memilih untuk bersekolah di Inggris. (Ant)

Baca Juga

loading...