Logo

Gandeng IGTKI, Batik Omah Laweyan Kenalkan Teknik Colet kepada Siswa PAUD dan TK

Reporter:,Editor:

Sabtu, 18 April 2026 09:00 UTC

Gandeng IGTKI, Batik Omah Laweyan Kenalkan Teknik Colet kepada Siswa PAUD dan TK

Batik Omah Laweyan bersama Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI) gelar lomba Fashion Show dan membatik bagi anak anak usia dini, Sabtu, 18 April 2026. Foto: Januar.

JATIMNET.COM, Surabaya - Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI) bersama Batik Omah Laweyan memperluas edukasi membatik kepada anak usia dini.

Bila sebelumnya, lebih banyak fokus pada fashion show batik, kini juga melakukan praktik langsung membatik. Tujuannya, mengenalkan nilai budaya di balik kain batik.

Direktur Utama Batik Omah Laweyan Bagas Wijianto Nugraha mengatakan bahwa pengenalan teknik membatik merupakan bagian dari kegiatan tahunan yang digelar produsen batik tersebut.

Dalam praktik membatik, para peserta dikenalkan dengan teknik colet yang dinailai aman dan mudah diterapkan kepada anak-anak PAUD dan TK.

Dengan metode tersebut, anak-anak dapat merasakan pengalaman membatik tanpa harus berinteraksi langsung dengan malam panas yang biasa digunakan dalam proses batik tulis tradisional.

“Sekarang, mereka juga sudah bisa mencoba langsung teknik membatik seperti teknik nyolet atau colet,” ujarnya, Sabtu, 18 April 2026.

Selain meningkatkan pemahaman anak, kegiatan tersebut juga berdampak positif terhadap keterlibatan orang tua dan sekolah.

Antusiasme peserta disebut meningkat dari tahun ke tahun, bahkan proses seleksi peserta menjadi semakin ketat karena tingginya minat dari berbagai lembaga pendidikan TK.

“Kegiatan ini levelnya sudah nasional, jadi murid-murid lain juga terpacu ingin ikut di tahun berikutnya. Ini menjadi sesuatu yang positif karena batik tidak lagi dianggap kuno, tapi menjadi bagian dari gaya hidup anak-anak,” ungkap Bagas.

Ia menambahkan, salah satu tantangan utama industri batik saat ini adalah regenerasi perajin yang memahami batik secara menyeluruh. Mulai dari filosofi hingga teknik produksi. Oleh karena itu, pengenalan sejak usia dini dinilai menjadi strategi jangka panjang yang penting.

Sementara, dalam kegiatan fashion show batik anak yang digelar, para peserta mengenakan seragam batik nasional yang sama.

Penilaian difokuskan pada aspek kepercayaan diri, penguasaan panggung, serta keluwesan peserta dalam menampilkan busana batik.

Pendekatan ini dinilai efektif karena memberikan ruang ekspresi kepada anak-anak untuk berkreasi melalui aksesori sederhana. Mulai dari hiasan rambut atau gaya penampilan yang tetap selaras dengan identitas batik sebagai busana budaya.

Bagas berharap kegiatan kolaboratif antara Batik Omah Laweyan dan IGTKI dapat terus berlanjut secara berkelanjutan sehingga membentuk ekosistem pembelajaran budaya yang kuat sejak usia dini.

“Kalau kegiatan seperti ini dilakukan secara rutin oleh banyak pihak, saya yakin batik akan benar-benar menjadi budaya yang hidup di generasi muda, bukan sekadar warisan yang dikenang,” ujarnya.

Melalui sinergi tersebut, Batik Omah Laweyan tidak hanya berperan sebagai produsen seragam batik pendidikan.

Namun, juga sebagai mitra strategis dalam memperkuat pendidikan karakter berbasis budaya, khususnya dalam menanamkan kecintaan terhadap batik sebagai identitas bangsa sejak usia dini.