Jumat, 29 May 2026 05:00 UTC

Ilustrasi: Menunggu Harga Terbaik. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Motor listrik kembali menjadi perhatian setelah pemerintah mengkaji pemberian subsidi sekitar Rp5 juta per unit pada 2026. Namun sebelum kebijakan tersebut resmi berjalan, pasar menghadapi fenomena yang cukup unik. Banyak calon pembeli justru memilih menunda transaksi sambil menunggu kepastian insentif.
Dalam dunia bisnis, kondisi ini dikenal sebagai hold buying. Konsumen yang sebenarnya berminat membeli memilih menunggu karena memperkirakan harga akan lebih murah setelah kebijakan baru berlaku. Akibatnya, aktivitas transaksi melambat meskipun minat terhadap produk masih ada.
Fenomena tersebut tidak hanya terjadi pada kendaraan listrik. Pasar properti, elektronik, hingga otomotif sering mengalami pola serupa ketika muncul ekspektasi adanya diskon, insentif, atau kebijakan baru yang berpotensi menguntungkan pembeli.
Ketika Konsumen Memilih Menunggu
Fenomena menunggu pembelian mulai menjadi perhatian pelaku industri motor listrik dalam beberapa bulan terakhir.
Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI), Budi Setiyadi, menyebut banyak calon konsumen menahan keputusan pembelian karena menunggu kepastian insentif pemerintah. Menurutnya, kepastian kebijakan menjadi faktor penting agar pasar dapat bergerak normal kembali.
Perilaku tersebut cukup mudah dipahami. Ketika muncul informasi mengenai kemungkinan subsidi Rp5 juta, sebagian masyarakat akan menghitung ulang rencana pembelian mereka. Jika kendaraan yang diincar berpotensi lebih murah dalam beberapa bulan ke depan, keputusan yang dianggap paling rasional adalah menunggu.
Secara psikologis, konsumen berusaha memaksimalkan nilai dari uang yang mereka keluarkan. Selisih beberapa juta rupiah pada kendaraan roda dua dianggap cukup besar untuk memengaruhi keputusan pembelian.
Data Penjualan Menunjukkan Dampaknya
Efek hold buying terlihat dari data industri motor listrik dalam dua tahun terakhir. Menurut data yang disampaikan AISMOLI, penjualan motor listrik nasional mencapai 63.146 unit sepanjang 2024. Angka tersebut melonjak sekitar 447 persen dibandingkan 11.532 unit pada 2023.
Lonjakan tersebut terjadi ketika program bantuan pembelian motor listrik masih berjalan dan memberikan insentif kepada konsumen yang memenuhi syarat. Program tersebut berhasil meningkatkan daya tarik kendaraan listrik di pasar domestik.
Namun situasi berubah ketika insentif baru belum tersedia. Pada semester pertama 2025, penjualan motor listrik dilaporkan hanya berada di kisaran 1.000 unit. Pelaku industri menilai perlambatan tersebut salah satunya dipengaruhi oleh sikap konsumen yang memilih menunggu kepastian kebijakan baru.
Data tersebut menunjukkan bahwa subsidi memiliki dampak nyata terhadap keputusan pembelian. Namun pada saat yang sama, ketidakpastian mengenai kelanjutan program juga dapat menahan aktivitas pasar.
Harga Bukan Satu-satunya Pertimbangan
Meskipun insentif terbukti berpengaruh, keputusan membeli motor listrik ternyata tidak semata-mata ditentukan oleh harga. Polling Kumparan yang diikuti 247 responden memperlihatkan bahwa hanya 15,38 persen responden yang langsung tertarik membeli motor listrik jika tersedia subsidi Rp5 juta.
Sebaliknya, 34,01 persen menyatakan tetap memilih motor bensin. Sebanyak 29,55 persen menilai subsidi tersebut masih kurang, sementara 21,05 persen mengaku masih mempertimbangkan berbagai faktor lain.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa potongan harga bukan satu-satunya variabel yang diperhitungkan masyarakat. Banyak calon pengguna masih mempertanyakan umur baterai, biaya penggantian komponen, ketersediaan bengkel resmi, jaringan pengisian daya, hingga nilai jual kembali kendaraan.
Selama pertanyaan-pertanyaan tersebut belum terjawab dengan baik, subsidi berapa pun tidak selalu otomatis mengubah keputusan pembelian.
Pasar Sebenarnya Masih Bertumbuh
Di balik perlambatan transaksi, sejumlah indikator menunjukkan bahwa industri motor listrik belum kehilangan momentum. AISMOLI mencatat penerbitan Sertifikat Registrasi Uji Tipe (SRUT) motor listrik pada Januari 2026 mencapai 3.565 unit dan Februari 2026 sebanyak 3.066 unit. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, jumlahnya masing-masing 2.103 unit dan 2.158 unit.
Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas produksi dan distribusi kendaraan listrik masih berjalan. Produsen tetap melihat peluang pertumbuhan pasar dalam jangka panjang.
Selain itu, Indonesia memiliki basis pengguna sepeda motor yang sangat besar. Data AISMOLI menyebut populasi sepeda motor nasional telah melampaui 130 juta unit dengan penambahan sekitar enam juta unit setiap tahun.
Besarnya pasar tersebut menjadi alasan mengapa banyak produsen tetap optimistis terhadap masa depan kendaraan listrik di Indonesia, meskipun proses adopsinya berlangsung secara bertahap.
Menunggu Bisa Menjadi Strategi, Tetapi Ada Risikonya
Bagi konsumen, menunda pembelian memang dapat menjadi keputusan yang masuk akal ketika ada peluang memperoleh harga yang lebih rendah. Namun strategi ini juga memiliki konsekuensi.
Kepastian waktu pelaksanaan kebijakan tidak selalu dapat diprediksi secara pasti. Selain itu, harga kendaraan, biaya produksi, hingga kondisi pasar dapat berubah sebelum program resmi berjalan.
Di sisi lain, sebagian konsumen justru kehilangan manfaat yang sebenarnya sudah bisa dinikmati lebih awal, seperti biaya operasional yang lebih rendah dibandingkan kendaraan berbahan bakar bensin.
Fenomena hold buying menunjukkan bahwa keputusan membeli kendaraan bukan hanya soal kemampuan finansial, melainkan juga soal ekspektasi terhadap masa depan. Ketika masyarakat yakin harga akan menjadi lebih murah, mereka cenderung menunggu. Ketika kepastian sudah tersedia, keputusan pembelian biasanya bergerak lebih cepat.
Karena itu, keberhasilan program subsidi motor listrik tidak hanya ditentukan oleh besarannya. Yang sama penting adalah kepastian informasi dan konsistensi kebijakan.
Ketika masyarakat mengetahui aturan yang jelas dan memiliki keyakinan terhadap manfaat kendaraan listrik, proses transisi menuju teknologi baru akan berlangsung lebih alami tanpa harus terus-menerus menunggu momentum yang dianggap paling tepat.
