Rabu, 26 August 2026 09:02 UTC

Petugas Dinsos Kota dan Dinsos Kabupaten Mojokerto mendatangi lokasi dua remaja yang kabur dari pondok di Mushola Terminal Mojokerto, Rabu, 26 Agustus 2026. Foto : Wanto
JATIMNET.COM, Mojokerto – Dua remaja penyandang tunanetra, SBA (16) asal Kabupaten Wonogiri dan OS (14) asal Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, tiba di Mojokerto setelah meninggalkan tempat pendidikan mereka di Yogyakarta.
Keduanya sebelumnya tinggal dan menempuh pendidikan di lingkungan Yaketunis (Yayasan Kesejahteraan Tuna Netra Islam), Jalan Parangtritis Nomor 46, Mantrijeron, Kota Yogyakarta. Mereka memilih meninggalkan pondok karena merasa tidak nyaman dan mengaku mendapat perlakuan yang mereka anggap sebagai perundungan.
Keduanya juga mengaku mendapat tudingan terkait kedekatan dalam pertemanan. SBA mengatakan mereka kerap beraktivitas bersama karena saling membantu sebagai sesama penyandang tunanetra.
Menurut SBA, kondisi penglihatan mereka membuat keduanya perlu saling mendampingi, terutama saat membeli makanan atau bepergian.
“Kan kalau saya beli jajan berdua, sering dituduh yang enggak-enggak. Padahal cuma nemenin. Saya kan enggak bisa lihat, dia masih ada sisa penglihatan,” ujar SBA.
Mengaku Mendapat Perundungan di Lingkungan Pendidikan
Sementara itu, OS mengaku mengalami tekanan selama berada di lingkungan pendidikan. Ia menyebut pernah mendapat perkataan yang membuatnya merasa minder dan tidak nyaman untuk kembali ke sekolah maupun pondok.
“Di SMA saya sering dibully. Saya juga sering dikatai, ngapain sekolah kalau enggak bisa lihat. Saya sebenarnya ingin berubah, tetapi tetap saja dituduh macam-macam,” ungkap OS.
SBA kembali menjelaskan bahwa kedekatan mereka muncul karena kebutuhan untuk saling membantu. Namun, kebersamaan itu justru memunculkan berbagai tudingan dari orang-orang di lingkungan sekitar.
OS juga mengaku masih menghadapi stigma yang berkaitan dengan persoalan masa lalu. Ia mengatakan sudah berusaha memperbaiki diri, tetapi merasa lingkungan sekitar masih memberikan penilaian buruk terhadap dirinya.
“Saya enggak suka kalau mereka menjauhkan saya. Saya sering dibully. Emang saya salah kalau saya mau berubah, tapi tetap saya dituduh,” katanya.
Tinggalkan Yogyakarta dan Tiba di Mojokerto
Setelah memutuskan meninggalkan Yogyakarta, keduanya menggunakan bus Trans Jogja menuju Terminal Giwangan. Dari terminal tersebut, mereka melanjutkan perjalanan hingga tiba di Mojokerto sekitar pukul 04.05 WIB, Rabu, 26 Agustus 2026.
Awalnya, keduanya berencana menuju Lampung. Namun, rencana itu batal karena mereka harus terlebih dahulu memesan tiket perjalanan. Keduanya kemudian memilih Mojokerto sebagai tujuan sementara.
Selama berada di Yogyakarta, keduanya menempuh pendidikan dalam sistem yang berbeda. OS tinggal di lingkungan pondok dan mengikuti pendidikan di madrasah yang masih berada dalam satu kompleks. Sementara itu, SBA bersekolah di SMA negeri reguler yang lokasinya berbeda dari pondok.
Saat meninggalkan tempat tinggal, keduanya tidak membawa seluruh barang milik mereka. Mereka hanya membawa sejumlah barang yang dianggap penting dan meninggalkan barang lainnya.
Setibanya di Mojokerto, keduanya belum memiliki tujuan tempat tinggal berikutnya. Mereka berharap mendapat tempat yang aman, baik melalui pondok maupun panti sosial yang dapat menerima dan mendampingi mereka.
“Saya enggak tahu nanti mau di pondok atau di panti yang menerima saya. Pokoknya saya sama OC,” ujar SBA.
Kedatangan dua remaja tersebut menjadi perhatian karena keduanya masih berstatus pelajar sekaligus penyandang disabilitas netra. Kondisi itu membuat mereka membutuhkan tempat tinggal yang aman, pendampingan, dan perlindungan yang memadai.
Penanganan terhadap keduanya juga perlu melibatkan keluarga, pihak pendidikan, serta instansi terkait. Koordinasi diperlukan agar keberadaan mereka di Mojokerto dapat ditangani dengan aman dan kepentingan terbaik bagi kedua remaja tetap menjadi prioritas.
Pendampingan juga penting agar keduanya dapat kembali memperoleh akses pendidikan dan lingkungan yang aman serta ramah bagi penyandang disabilitas.
