Jumat, 21 August 2026 07:00 UTC

Asap Karhutla di Kalimantan berdampak ke negara tetangga. Foto: X/@
JATIMNET.COM, Jakarta – Dampak kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan meluas menjadi persoalan lintas negara setelah kabut asap kembali memperburuk kualitas udara di Sarawak, Malaysia.
Sebanyak 591 sekolah ditutup dan kegiatan belajar hampir 200 ribu siswa terganggu, memperlihatkan bahwa karhutla Indonesia kini menimbulkan konsekuensi langsung terhadap layanan publik di negara tetangga.
Penutupan sekolah diberlakukan pada Kamis hingga Jumat, 20–21 Agustus 2026, setelah kualitas udara di sejumlah wilayah Sarawak memburuk.
Departemen Pendidikan Sarawak mencatat kebijakan tersebut mencakup 509 sekolah dasar dan 82 sekolah menengah di 10 distrik, dengan total 197.323 siswa terdampak. Langkah ini diambil setelah Air Pollutant Index atau API di sejumlah wilayah meningkat akibat kabut asap yang terpantau bergerak dari Kalimantan menuju Sarawak.
Wilayah yang terkena penutupan meliputi Kuching, Padawan, Bau, Lundu, Samarahan, Simunjan, Serian, Sri Aman, Lubok Antu, dan Betong. Sebanyak 107.590 murid sekolah dasar dan 89.733 pelajar sekolah menengah harus menghentikan sementara pembelajaran tatap muka.
Perkembangan tersebut menunjukkan eskalasi dibanding episode kabut asap sekitar satu pekan sebelumnya. Pada 12 Agustus, sekolah di Serian juga ditutup ketika API menembus kategori sangat tidak sehat. Data National Disaster Management Agency Malaysia saat itu mencatat 108 sekolah terdampak, sementara laporan media Malaysia menyebut 107 sekolah.
Deputy Premier Sarawak Douglas Uggah mengatakan di Kuching, 12 Agustus 2026, penutupan sekolah merupakan tindakan pencegahan untuk mengurangi risiko kesehatan akibat kualitas udara yang memburuk.
“This is a precautionary measure to protect the safety, health and wellbeing of students,” kata Uggah.
Kebijakan itu mengikuti National Haze Action Plan Malaysia. Sekolah, taman kanak-kanak dan pusat penitipan anak harus ditutup apabila API melampaui 200. Pada 12 Agustus pukul 16.00 waktu setempat, API Tebedu tercatat 212 dan Serian 202.
Kondisi udara sempat membaik setelah turun hujan. Namun, kabut asap kembali meningkat menjelang 20 Agustus. Pada pukul 17.00 waktu setempat, API Serian kembali mencapai 204. Kuching berada pada 195, Samarahan 182, Sri Aman 179, Sarikei 158 dan Sibu 152.
Data tersebut membuat dampak karhutla tidak lagi dapat diukur hanya berdasarkan jumlah titik panas atau luas lahan yang terbakar di Indonesia. Gangguan terhadap kegiatan pendidikan di Sarawak memperlihatkan biaya sosial dari kebakaran juga muncul di luar wilayah administratif Indonesia.
Indikasi sumber kabut asap terlihat dari pemantauan regional. Natural Resources and Environment Board Sarawak, berdasarkan data ASEAN Specialised Meteorological Centre, mencatat 7.286 hotspot di Kalimantan sepanjang 1–19 Agustus. Dalam periode yang sama, Sarawak mencatat 148 hotspot.
Pemantauan juga menunjukkan asap dengan intensitas sedang hingga pekat dari Kalimantan Barat bergerak ke arah utara dan memasuki bagian barat Sarawak. Pergerakan tersebut sejalan dengan kondisi angin yang sebelumnya dilaporkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana.
BNPB telah menyatakan citra satelit menunjukkan asap dari Kalimantan bergerak menuju Malaysia pada 4 Agustus serta 6–9 Agustus. Pola angin dominan dari tenggara menuju barat menjadi salah satu faktor yang membawa asap melintasi perbatasan.
Besarnya aktivitas kebakaran juga terlihat dalam pemantauan terbaru di Indonesia. Berdasarkan Satelit NOAA-20 pada 20 Agustus, BNPB mendeteksi 1.487 titik panas di seluruh Kalimantan.
Kalimantan Tengah menjadi wilayah terbanyak dengan 767 hotspot, disusul Kalimantan Barat sebanyak 560, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur masing-masing 74, serta Kalimantan Utara tiga titik.
Angka hotspot harian tersebut tidak dapat dibandingkan secara langsung dengan akumulasi 7.286 hotspot sepanjang 1–19 Agustus karena periode pengamatan, satelit dan metode penghitungan berbeda. Namun, kedua data sama-sama menunjukkan tingginya aktivitas panas di Kalimantan selama Agustus.
Tekanan terbesar sebelumnya tercatat di Kalimantan Barat. Data pemerintah hingga 9 Agustus menunjukkan kebakaran di provinsi itu mencapai 28.680,47 hektare. Jumlah tersebut sekitar 58,7 persen dari 48.889,69 hektare kebakaran yang tercatat pada enam provinsi prioritas penanganan karhutla.
Risiko kebakaran sebenarnya telah diperingatkan beberapa bulan sebelumnya. BMKG sejak April memperkirakan periode kritis karhutla berlangsung Mei hingga September, sedangkan risiko di Kalimantan Barat diperkirakan meningkat pada Juli–Agustus.
Pada 10 Juni 2026 di Jakarta, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani juga menyampaikan puncak musim kemarau 2026 diperkirakan terjadi pada Juli–September. Sekitar 48,84 persen wilayah daratan Indonesia diproyeksikan mengalami puncak kemarau pada Agustus.
Pemerintah kemudian meningkatkan operasi setelah kebakaran meluas. Dalam rapat koordinasi di Jakarta pada 10 Agustus, enam provinsi ditetapkan sebagai wilayah prioritas, yakni Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.
Kepala BNPB Suharyanto dalam keterangannya yang dimuat Reuters di Jakarta pada 11 Agustus menegaskan faktor cuaca bukan satu-satunya persoalan. Ia menyebut faktor manusia, baik disengaja maupun tidak, sebagai penyebab utama kebakaran.
“The main cause is human factors, whether deliberate or accidental,” kata Suharyanto.
Pernyataan itu penting karena menempatkan karhutla bukan semata-mata sebagai konsekuensi El Niño dan musim kemarau. Pencegahan pembakaran, pengawasan kawasan rawan, pengelolaan lahan dan penegakan hukum menjadi bagian penting dalam menilai efektivitas pengendalian kebakaran.
Pemerintah telah mengerahkan 43 helikopter dan 15 pesawat fixed-wing untuk mendukung pemadaman serta operasi modifikasi cuaca. Namun, upaya penyemaian awan menghadapi keterbatasan karena tidak selalu tersedia awan potensial yang dapat menghasilkan hujan.
Dampak yang kembali muncul di Sarawak memperlihatkan tantangan lain. Penanganan karhutla Indonesia tidak hanya menyangkut perlindungan masyarakat dan ekosistem di dalam negeri, tetapi juga berkaitan dengan kewajiban mencegah pencemaran asap lintas batas di kawasan ASEAN.
Bagi Jawa Timur, situasi di Kalimantan juga menjadi peringatan menjelang periode kering. BMKG pada Dasarian I Agustus memasukkan sejumlah daerah Jawa Timur dalam kategori waspada hingga awas kekeringan meteorologis.
Penguatan pencegahan sebelum kebakaran membesar menjadi penting agar periode kemarau tidak berkembang menjadi gangguan lingkungan dan kesehatan yang lebih luas.
Perkembangan hingga Jumat, 21 Agustus, menunjukkan kabut asap di Sarawak belum sepenuhnya terkendali. Setelah penutupan sekitar seratus sekolah pada pertengahan Agustus, meluasnya dampak menjadi 591 sekolah dan 197.323 siswa menunjukkan bahwa konsekuensi karhutla dapat meningkat cepat ketika sumber kebakaran belum berhasil ditekan.
Situasi berikutnya akan sangat bergantung pada pengendalian titik api di Kalimantan, kondisi angin, curah hujan dan keberhasilan operasi pemadaman. Selama aktivitas kebakaran masih tinggi, risiko kabut asap kembali melintasi perbatasan Indonesia-Malaysia tetap menjadi perhatian.
