Dinkes Kota Blitar: Bakteri Salmonella sebabkan Rawon Beracun

Yosibio

Reporter

Yosibio

Rabu, 7 Agustus 2019 - 22:07

JATIMNET.COM, Blitar - Hasil analisa sementara pihak Dinas Kesehatan Kota Blitar, penyebab kasus keracunan puluhan warga, dimungkinkan dari daging untuk bahan rawon. Kesimpulan sementara hasil penyelidikan epidimiologi, bahwa rawon relatif lebih besar terkontaminasi bakteri, daripada makanan lainya yang disajikan dalam acara tahlilan warga di jalan Kurma, Kelurahan/Kecamatan Kepanjenkidul beberapa hari lalu.

"Kesimpulan sementara nasi rawon mempunyai risiko relatif 2,8 berisiko dari makanan yang disajikan. Kemungkinan terkontaminasi, salmonella atau e-coli atau clostridium paringens," terang Didik Jumianto, Kabid Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Blitar kepada wartawan, Rabu 7 Agustus 19.

Kesimpulan sementara ini, diperoleh setelah petugas surveilans Dinkes Kota Blitar, mewawancarai semua korban keracunan. Petugas telah mendata satu per satu jenis hidangan, yang dimakan dan minuman yanag dikonsumsi para korban di acara mengenang 100 harinya seorang warga di Jalan Kurma.

BACA JUGA: Puluhan Warga Blitar Diduga Keracunan Rawon, Satu Korban Meninggal

"Itu masih kesimpulan sementara, bukan kesimpulan pasti. Untuk pastinya, kami tetap menunggu hasil uji laboratorium dari Surabaya yang bisa diketahui paling cepat sepekan," tambah Didik.

Dalam keracunan masal yang telah ditetapkan KLB ini, beberapa sampel dari rumah penyelenggara acara yasinan telah diambil untuk diuji laboratorium. Sejumlah sampel yang diambil untuk diuji laboratorium, yaitu, kuah rawon, air sumur, dan feses korban.

Sementara untuk daging rawon, tidak satupun yang masih tersisa untuk dijadikan sampel. Setelah memeriksa seluruh korban, dan masa inkubasi keracunan, disimpulkan sementara penyebabnya adalah bakteri jenis salmonella.

HASIL TES: Tabel kesimpulan sementara berdasarkan hasil Pe dari dinkes kota Blitar. Foto: Yosibio.

"Dari analisa ini, kami menyimpulkan dari masa inkubasi korban, yang memungkinkan adalah bakteri salmonella. Nah bakteri ini terdapat pada daging, jadi kemungkinan adalah daging rawonya. Karena bakteri lain, e-coli biasanya di air," imbuh Didik.

Sementara, seorang korban Warzuhdi (50), yang ditemui Jatimnet.com mengatakan bahwa saat mengkonsumsi hidangan rawon, sudah ada yang berbeda. Daging dan aromanya berbeda dari rawon umumnya. Zuhdi pun hanya mencicipi daging, kemudian dikembalikan ke sendok dan ditaruh kembali.

"Saya sempat merasakan dagingnya, cuma tidak saya telan. Rasa dan aromanya berbeda dari rawon umumnya. Pasca itu, sehari kemudian saya alami pusing, mual dan diare, namun sembuh setelah saya bawa berobat ke klinik," terang Zuhdi.

BACA JUGA: 23 Korban Dugaan Keracunan di Blitar Masih Dirawat

Hasil pendataan Dinkes Kota Blitar, jumlah total warga yang mengalami keracunan sebanyak 38 orang. Dari total itu, sebanyak 11 orang menjalani rawat inap dan selebihnya 27 orang menjalani rawat jalan.

Seperti diberitakan sebelumnya, Yuliani, alias Bu Anik, warga Jalan Kurma, RT 1/RW 1, Kelurahan Kepanjenkidul, menggelar hajatan tahlil Kamis 1 Agustus 2019 bakda Maghrib. Bu anik berhajat untuk memperingati kematian suaminya yang ke-100 hari, dengan mengundang sekitar 50-60 warga.

Pasca menyantap hidangan, mulai Jumat hingga Sabtu, sebagian warga langsung merasakan pusing dan mual serta diare, bahkan seorang diantaranya meninggal dunia. Keracunan masal ini masuk dalam KLB oleh Dinas Kesehatan Kota Blitar.

Baca Juga

loading...