Selasa, 14 January 2025 09:20 UTC
Tampak bekas makam diduga palsu yang sudah diratakan dengan semen di sekitar dua makam sesepuh Dusun Bendo, Desa Kumitir, Kec. Jatirejo, Kab. Mojokerto, Selasa, 14 Januari 2025. Foto: Hasan
JATIMNET.COM, Mojokerto – Atas desakan sejumlah organisasi dan komunitas pemerhati budaya nusantara, sejumlah makam ulama yang diduga palsu atau tak berisi jasad akhirnya dibongkar di area makam sesepuh Dusun Bendo, Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto. Area makam ini juga berada di area Situs Kumitir yang sedang diteliti Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur.
Sebelumnya, sesuai kesepakatan, sejumlah makam diduga palsu tersebut akan dibongkar pada Selasa, 14 Januari 2025. Namun, saat sejumlah pegiat organisasi dan komunitas budaya nusantara dari sejumlah daerah datang ke lokasi, ternyata 13 makam yang diduga palsu sudah dibongkar dan diratakan dengan semen.
Komunitas tersebut antara lain Pejuang Walisongo Indonesia (PWI), Laskar Sabilillah (LS), Pendekar Darah Garuda Mojokerto, Aliansi Putro Wayah Majapahit, Klampis Ireng Dharma Kasepuhan Mojopahit, dan Pasopati Nusantara. Mereka datang dari beberapa kota di Indonesia.
Kepala Dusun Bendo Nirawang Pahalila membenarkan jika makam sudah dibongkar atas inisiatif pemerintah desa dan disaksikan Kepala Desa Kumitir, Kepala Dusun Bendo, dan Kepala Dusun Kumitir pada Senin, 13 Januari 2025.
Di hadapan para pegiat budaya nusantara, Nirawang membacakan surat pernyataan yang ditandatangani Kepala Desa Kumitir Mokhamad Khoirun.
BACA: Makam Misterius di Tengah Hutan Lebakjagung Mojokerto Masih Diselidiki
“Alasan penertiban makam di luar makam Mbah Sagu tanpa kordinasi dengan pihak PWI dan LS Mojokerto dikarenakan untuk menjaga kondusivitas lingkungan dan masyarakat. Dan sesuai kesepakatan warga diserahkan ke desa sesuai rapat tanggal 7 Januari 2025. Yang menyaksikan pembongkaran tersebut adalah Kepala Desa, Sekretaris Desa, Kepala Dusun Bendo, Kepala Dusun Kumitir, dan kuli tenaga kasar,” kata Nirawang membacakan isi surat pernyataan tersebut.
Saat dikonfirmasi, Nirawang kembali membenarkan pembongkaran makam-makam tersebut. "Daripada gaduh ke depannya, makam palsu dibongkar, ada 13 makam palsu," katanya.
Namun, selain dari makam yang dibongkar, ada dua makam utama yang masih dipertahankan. Menurut Nirawang, berdasarkan cerita turun temurun dari sesepuh dusun, dua makam itu adalah makam sesepuh yang dulu berperan dalam membuka kampung.
"Dalam musyawarah Minggu 12 Januari 2025 malam, saya ambil keputusan yang intinya berdasarkan sejarah turun temurun masyarakat sini, memang ada makam Mbah Sagu dan Mbah Budiman. Tentu berdasarkan penuturan para sesepuh Dusun Bendo. Iya (yang membuka kampung ini)," katanya.
Area makam tersebut berada di Tanah Kas Desa (TKD) Kumitir dengan luas sekitar 263 meter persegi.
BACA: Mistis? Makam di Mojokerto Dibongkar Pihak Keluarga
Dua makam yang disebut sebagai makam Mbah Sagu dan Mbah Budiman itu sudah ada sejak lama. Namun tiba-tiba, ada beberapa makam tambahan di sekitarnya yang diduga palsu atau tak ada jasad di dalamnya.
Keberadaan makam-makam diduga palsu tersebut diduga diprakarsai seseorang yang disebut bernama Habib Sholeh asal Bogor, Jawa Barat, yang mengaku mendapat petunjuk dari mimpi dan informasi dari sejumlah kiai.
Selain diduga membangun makam palsu, makam Mbah Sagu dan Mbah Budiman yang diyakini sebagai sesepuh desa juga diberi papan nama yang tak sesuai dengan cerita turun temurun masyarakat setempat.
Makam Mbah Sagu diberi papan nama Syech Musthofa Raden Cokrobuono dan makam Mbah Budiman malah diberi papan nama seorang perempuan, Nyai Dewi Gondosari.
Para pegiat budaya nusantara menyayangkan keberadaan sejumlah makam yang diduga palsu tersebut dan penamaan dua makam sesepuh dusun setempat yang tidak sesuai dengan cerita masyarakat. Selain tidak ada bukti referensi sejarah yang bisa dipertanggungjawabkan, keberadaan makam palsu ini dikhawatirkan disalahgunkan untuk meraup keuntungan ekonomi semata.
Panglima Laskar Sabilillah Kabupaten Mojokerto Athourrahman menyayangkan makam yang sudah dibongkar dahulu sebelum waktu yang disepakati. Menurutnya, pihaknya bersama sejumlah pegiat budaya butu waktu tiga pekan untuk melakukan pendekatan dan musyawarah dengan Pemerintah Desa Kumitir dan warga setempat.
Pihaknya juga sempat dipanggil ke Polsek Jatirejo untuk rapat koordinasi. Usai melalui musyawarah yang cukup panjang, akhirnya disepakati bahwa hanya ada dua makam sesepuh dusun yang sudah lama ada, yakni makam Mbah Sagu dan Mbah Budiman. Sedangkan 13 makam di sekitarnya diduga palsu.
BACA: Komplek Pemakaman Ki Ageng Pengging Surabaya Dihibahkan
Menurut Athourrahman, Habib Soleh membuat makam buatan itu hanya berdasarkan mimpi dan mengaku mendapatkan petunjuk dari sejumlah kiai.
Namun, ketika pihaknya berniat mendatangi kiai tersebut, Soleh berdalih kiai itu sudah wafat. "Artinya, sejarah makam terputus sampai di situ. Jadi, ini tidak lagi indikasi, tapi memang benar makam palsu. Akhirnya saat musyawarah, Habib Soleh bersedia makam dibongkar dan dikembalikan ke desa," katanya.
Menurutnya, ketika pandemi Covid-19, makam palsu yang dibangun Habib Soleh tersebut diziarahi banyak orang pengikut Habib Soleh. Mereka menggelar tahlil dan istigasah di makam setempat. Namun, ia menduga ada kepentingan ekonomi di balik keberadaan makam-makam palsu tersebut.
"Yang kami sayangkan di situ ada iuran, kotak amal yang tidak jelas kemana. Setahu saya juga ada beberapa masyarakat yang dimintai iuran dana untuk membangun makam ini," ucapnya.
Pembangunan makam-makam yang diduga palsu itu juga sempat meminta bantuan dana ke pemerintah desa. "Termasuk pihak desa diminta sekitar Rp30 juta, tapi desa paham prosedur, sehingga tak sampai memberi dana desa ke Habib Soleh. Begitu menjadi polemik, mereka meninggalkan. Habib Soleh juga pernah tinggal di desa ini, tapi sudah pindah entah kemana," tuturnya.
Ia dan sejumlah komunitas pelestari budaya nusantara berharap tidak ada lagi makam-makam palsu atau peristiwa serupa di Bumi Majapahit yang dianggap mengaburkan sejarah leluhur.
"Harapan kami jangan ada lagi makam-makam paslu yang menyelewengkan sejarah leluhur dan dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Karena leluhur kita sudah jelas, bukan dari mimpi," katanya.
