Rabu, 09 September 2026 12:30 UTC

Kondisi di Rusunawa Bestari Kota Probolinggo yang mayoritas status desil penghuninya masuk kelompok 6 hingga 10. Foto: Zulalif.
JATIMNET.COM, Probolinggo – Perubahan status desil dalam data penerima bantuan sosial membuat penghuni Rusunawa Bestari, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, resah.
Sekitar 80 persen penghuni rusunawa disebut kini masuk kelompok desil 6 hingga 10. Padahal, sebagian warga masih mengandalkan pekerjaan dengan penghasilan tidak tetap untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Mereka juga tidak memiliki rumah maupun tanah pribadi. Pekerjaan warga beragam, mulai dari pemulung, buruh, nelayan, pedagang kecil hingga pekerja serabutan.
Kondisi itu membuat warga mempertanyakan dasar perubahan status desil. Mereka khawatir kenaikan tersebut berdampak pada akses terhadap sejumlah program bantuan pemerintah.
Tutik Widyastuti, 60 tahun, salah satunya. Setiap hari, ia berjualan sayur keliling di lingkungan rusunawa.
Dengan berjalan kaki sambil membawa dagangan, Tutik berpindah dari satu blok ke blok lainnya. Namun, penghasilan yang didapat hanya sekitar Rp10 ribu hingga Rp20 ribu sehari.
“Saya jualan sayur keliling, jalannya kaki. Penghasilannya paling sekitar Rp10 ribu sampai Rp20 ribu sehari. Saya juga tidak tahu kenapa status desil saya bisa naik,” ujar Tutik, Rabu, 9 September 2026.
Penghasilan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bersama suaminya. Untuk menghemat pengeluaran, persediaan beras pun harus diatur agar tetap mencukupi.
“Beras satu kilo bisa untuk beberapa hari. Yang penting cukup untuk makan. Kalau tidak jualan, ya tidak punya uang,” katanya.
Tutik berharap pemutakhiran data tidak hanya melihat kondisi administratif, tetapi juga memperhatikan keadaan warga secara langsung.
Keluhan serupa disampaikan Joko Slamet, 48 tahun. Sehari-hari, Joko bekerja sebagai pengayuh becak dengan penghasilan yang bergantung pada jumlah penumpang.
“Saya sehari-hari mengayuh becak. Kalau ada penumpang ya dapat uang, kalau tidak ada ya tidak dapat. Selama ini saya juga belum pernah merasakan bantuan sosial,” ungkap Joko.
Kondisi ekonomi Joko bahkan pernah membuatnya kesulitan membayar tagihan air hingga sambungan air di tempat tinggalnya diputus.
“Untuk makan saja kadang pas-pasan. Bayar air juga tidak mampu, akhirnya diputus,” ujarnya.
Menurut Joko, kebutuhan utamanya sederhana, yakni memastikan keluarganya tetap bisa makan dan memenuhi kewajiban sebagai penghuni rusunawa.
“Saya tidak berharap banyak. Yang penting bisa makan dan bayar sewa rusun. Kalau ada bantuan, tentu sangat membantu,” katanya.
