Logo

Delapan Mortir di Ponorogo Diangkat dan Disimpan di Kodim Ponorogo 

Reporter:,Editor:

Senin, 01 March 2021 08:20 UTC

Delapan Mortir di Ponorogo Diangkat dan Disimpan di Kodim Ponorogo 

MORTIR:Delapan buah mortir yang ditemukan petani saat berada di lahan jagungnya, kini telah diamankan Polisi dan TNI dan disimpan di Kodim Ponorogo, Senin 1 Maret 2021

JATIMNET.COM, Ponorogo – Delapan buah mortir yang ditemukan petani saat berada di lahan jagungnya, kini telah diamankan Polisi dan TNI dan disimpan di Kodim Ponorogo.

Kasat Sabhara Polres Ponorogo, AKP Edy Suyono mengatakan jika kedelapan mortir sudah berhasil diangkat dan diamankan. Memang sebelumnya sudah ada empat mortir yang diangkat oleh warga dan TNI, sisanya emapt mortir juga telah berhasil diangkat.

Keempat mortir yang masih terpendam berada sekitar 30 sentimeter dibawah tanah. “Ditemukan warga sekitar pukul 9.00 WIB. Jumlah total ada delapan mortir, dengan besar dan panjang hampir sama,” kata Edy, Senin 1 Maret 2021.

Edy menuturkan jika kedelapan mortir memiliki ukuran berdiameter 10 sentimeter, panjang 40 sentimeter dan keliling lingkaran sekitar 34 sentimeter. Untuk itu pihaknya berkoordinasi dengan TNI untuk mengetahui apakah mortir tersebut masih aktif atau tidak. “Untuk aktif tidaknya masih perlu dilakukan pendalaman tentang jenis dan nomor serinya,” tutur Edy.

Baca Juga: Delapan Mortir Ditemukan di Lahan Jagung

Ia mengungkapkan secara kasat mata delapan mortir yang berhasil diangkat kondisinya memang cukup baik. Hanya bagian luar yang memang sudah nampak berkarat karena sudah lama terpendam didalam tanah. Bahkan kemungkinan masih bisa meledak jika ada pemicu dari mortir tersebut.

“Kemungkinan berasal dari proyektil mortir, bisa juga dari pesawat, atau senjata jenis rudal dan sudah puluhan tahun lalu kelihatannya,” ungkap Edy.

Ia pun berpesan kepada masyarakat apabila menemukan benda-benda mirip persenjataan militer pada zaman peperangan agar segera melaporkan kepada petugas.

Petugas juga saat ini telah memasang garis polisi agar warga tidak mendekat ke lokasi karena masih dilakukan penyisiran secara manual atau kasat mata. “Pada awalnya kemungkinan daya ledak cukup tinggi melihat ukurannya yang juga besar,” pungkas Edy