Kamis, 19 February 2026 04:00 UTC

Ilustrasi: GIlas Audi.
JATIMNET.COM, Madiun – Potensi hujan deras disertai angin kencang di Kabupaten Madiun diprediksi meningkat pada bulan ini seiring berlangsungnya puncak musim penghujan.
Oleh karena itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Madiun mengimbau warga meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana alam.
“Wilayah Kabupaten Madiun masih berpotensi terjadi cuaca ekstrem. Kami mengimbau warga selalu waspada dan segera mencari tempat aman saat hujan deras disertai angin kencang,” kata Sekretaris BPBD Kabupaten Madiun Ageng Kurnia Wijayanto, Kamis, 19 Februari 2026.
BACA: Basarnas Surabaya Antisipasi Cuaca Ekstrem dan Bencana di Jatim
Mitigasi dini saat hujan deras disertai angin kencang, ia melanjutkan, warga dapat menjauhi pohon-pohon besar dan bangunan yang rawan roboh. Kemudian, segera melaporkan kejadian tersebut kepada pemerintah desa maupun instansi terkait jika kondisi darurat berlangsung.
“Kewaspadaan ini harus dilaksanakan hingga pertengahan Maret 2026 sesuai prediksi periode puncak musim penghujan,” ujarnya sembari menyebut, pihak BPBD senantiasa memantau dan siap siaga guna meminimalisasi risiko bencana, terutama berkaitan dengan keselamatan warga.
Salah satu peristiwa angin kencang yang mengiringi hujan deras terjadi di wilayah Desa Klitik, Kecamatan Wonoasri, Kabupaten Madiun, Rabu sore, 18 Februari 2026.
Beberapa rumah warga rusak yang mayoritas terjadi pada bagian atap. Genteng banyak yang rontok dan galvalum tersingkap setelah diterpa angin.
BACA: Peti Kemas Berjatuhan Akibat Kapal Miring di Tanjung Perak Menelan Korban Jiwa
Warga setempat mengaku sempat mendengar suara gemuruh sebelum atap rumah mereka terlepas dan berjatuhan. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, meski kerugian material ditaksir mencapai jutaan rupiah.
Salah satu warga terdampak, Samini, menuturkan angin datang secara tiba-tiba saat hujan deras mengguyur. “Awalnya hujan biasa, lalu terdengar suara gemuruh keras. Tiba-tiba atap rumah saya terangkat dan jatuh. Kami langsung keluar rumah untuk menyelamatkan diri,” ujarnya.
Keesokan paginya, relawan bersama personel TNI-Polri dan warga bergotong royong membersihkan puing-puing serta memperbaiki atap rumah yang rusak. Proses perbaikan dilakukan secara swadaya sambil menunggu pendataan dari pemerintah daerah.
