Kamis, 19 February 2026 03:55 UTC

Jemaah Islam Aboge di Probolinggo saat melaksanakan Salat Tarawih perdana pada Rabu malam, 18 Februari 2026, sama dengan penetapan pemerintah. Foto: Zulafif
JATIMNET.COM, Probolinggo – Jemaah Islam Aboge tahun ini mengawali Ramadan 1447 Hijriah pada Kamis, 19 Februari 2026. Penentuan tersebut sama dengan keputusan pemerintah melalui Kementerian Agama.
Kesamaan ini menjadi peristiwa yang relatif jarang terjadi. Dalam beberapa tahun terakhir, awal Ramadan dari Jemaah Alif Rebo Wage atau Aboge kerap berbeda satu hingga dua hari dari ketetapan pemerintah.
Pada Ramadan 1446 Hijriah (2025), misalnya, sebagian komunitas Aboge memulai puasa sehari setelah pemerintah menetapkan awal Ramadan. Hal serupa juga terjadi pada 1445 Hijriah (2024), ketika terdapat selisih satu hari dalam memulai ibadah puasa. Bahkan pada 1443 dan 1444 Hijriah, perbedaan satu hingga dua hari juga sempat terjadi di sejumlah wilayah penganut Aboge di Jawa.
Perbedaan tersebut muncul karena metode perhitungan kalender yang digunakan Jemaah Aboge berbasis sistem penanggalan Jawa, bukan hisab dan rukyat sebagaimana digunakan pemerintah.
Di Kabupaten Probolinggo, penganut Islam Aboge tersebar di sejumlah kecamatan, seperti Dringu, Bantaran, Tegalsiwalan, dan Leces. Komunitas ini tetap konsisten menjalankan tradisi perhitungan warisan leluhur dalam menentukan hari besar keagamaan.
Tokoh Jemaah Aboge, Kyai Buri Bariyah, mengatakan jemaah di Desa Leces telah melaksanakan salat tarawih perdana di Musala Al Barokah pada Rabu malam, 18 Februari 2026.
"Penetapan awal Ramadan tahun ini dengan perhitungan Don Nem Ro (Romadhon 6-2), sehingga awal puasa ditetapkan pada hari Kamis, tanggal 19 Februari 2026," terang Kyai Bariyah, Kamis, 19 Februari 2026.
Ia menjelaskan, perhitungan dalam Kitab Mujarobat menunjukkan bahwa 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
"Jadi kami melaksanakan puasa secara bersamaan,” ujarnya.
Menurutnya, kesamaan awal Ramadan ini juga berdampak pada penetapan Hari Raya Idulfitri pada tahun ini.
BACA: Mengenal Perhitungan Don Nem Ro, Cara Jemaah Aboge Tentukan Awal Ramadan
“Karena awal Ramadan sama dengan pemerintah, bisa dipastikan 1 Syawal nanti juga akan sama,” tambahnya.
Gunakan Sistem Kalender Jawa
Islam Aboge dikenal menggunakan sistem kalender Jawa yang merujuk pada siklus windu (delapan tahunan) serta kombinasi hari dan pasaran (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon). Sistem ini merupakan hasil akulturasi antara kalender Hijriah dan kalender Jawa yang disusun pada masa Kesultanan Mataram.
Secara ilmiah, kalender Jawa merupakan sistem lunisolar yang memadukan unsur peredaran bulan dan siklus tradisional Jawa. Dalam praktik komunitas Aboge, pola perhitungan seperti Don Nem Ro menjadi rumusan tetap yang digunakan secara turun-temurun.
Meski berbeda metode, tahun ini hasil perhitungan Aboge bertepatan dengan keputusan pemerintah. Momentum tersebut memperlihatkan adanya titik temu antara tradisi lokal dan sistem penetapan nasional.
