Cipayung Plus Minta Cebong dan Kampret Berhenti Saling Hujat

Baehaqi Almutoif

Rabu, 1 Mei 2019 - 12:46

JATIMNET.COM, Surabaya – Tujuh organisasi mahasiswa yang mengatasnamakan Cipayung Plus meminta seluruh elemen masyarakat menyudahi persaingan Pemilu 2019 yang sudah berlalu.

“Kita stop urusan Cebong dan Kampret. Karena di Negara ini tidak hanya ada dua kelompok itu. Masih banyak masyarakat yang menginginkan pembangunan Indonesia berjalan,” kata Ketua PKC PMII Jatim, Abdul Ghoni mewakili tujuh ormas mahasiswa yang tergabung dalam Cipayung Plus melalui keterangan resminya, Selasa 30 April 2019.

Abdul Ghoni menuturkan, situasi yang terus memanas ini sudah mengkhawatirkan. Antar tetangga dan teman terjarak oleh cap Cebong dan Kampret. Belum lagi munculnya narasi yang menyalahkan penyelenggara pemilu pada Pemilu 2019.

BACA JUGA: Jangan Ada Lagi "Cebong" dan "Kampret"

Banyak opini yang muncul seakan KPU serta Bawaslu dianggap tidak profesional, dan dianggap melakukan kejahatan struktural.

Karena itu, Abdul Ghoni mengimbau semua elemen masyarakat dan mahasiswa untuk saling menjaga negara agar tetap kondusif. Salah satunya dengan menunggu hasil ketetapan KPU, 22 Mei 2019. Tanpa itu, perdebatan dan saling klaim akan terus berlanjut.

Pada kesempatan itu, Cipayung Plus juga menyampaikan rasa duka cita atas meninggalnya penyelenggara pemilu akibat kelelahan saat mengawal proses demokrasi.

“Kami mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya para panitia pemilu dalam menjalankan tugasnya, mengawal demokrasi,” kata Abdul Ghoni.

BACA JUGA: Sembilan Petugas Penyelenggara Pemilu 2019 di Jatim Meninggal

Atas hal ini pula, Cipayung plus meminta pemerintah meninjau ulang Undang-undang Pemilu. Salah satunya, untuk proses penghitungan yang diharuskan selesai dalam sehari.

Apalagi pada pemilu 2024, ada potensi tujuh surat suara yang harus dicoblos. Dan pastinya akan membutuhkan waktu penghitungan yang lebih lama dibanding pemilu periode tahun ini.

Selain Abdul Ghoni, turut pula menyertai pimpinan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Yogi Pratama, Pimpinan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Rijal Rachman, Pimpinan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Nabrisi Rohid, Pimpinan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Ridwan, Pimpinan Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) Wayan dan Pimpinan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Aldo.

Baca Juga

loading...