Jumat, 13 December 2024 02:00 UTC
Ilustrasi stiker sekolah. Sumber: istockphoto
Sore itu, setelah pulang sekolah, Rara langsung berlari menuju kamarnya. Ia duduk di tepi ranjang, matanya berkaca-kaca. Ia teringat akan hari-harinya di sekolah, tawa canda bersama teman-teman, dan pelajaran-pelajaran yang seru. Rara mengeluarkan buku diary-nya dan mulai menuliskan semua perasaannya.
"Bunda, Ayah," panggil Rara sambil mengetuk pintu kamar orang tuanya.
"Iya, nak, ada apa?" tanya Bunda sambil membuka pintu.
"Bunda, Ayah, Rara sayang banget sama sekolah. Teman-teman di sana baik semua, guru-guru juga sabar. Rara merasa sekolah itu kayak rumah kedua," ucap Rara sambil memeluk Bunda dan Ayah.
Ayah tersenyum mendengar ucapan Rara. "Itu bagus sekali, Nak. Sekolah memang tempat kita belajar dan berteman. Ayah senang kamu merasa nyaman di sekolah."
"Iya, Nak," tambah Bunda. "Bunda juga dulu merasa begitu. Sekolah adalah tempat yang sangat berkesan dalam hidup Bunda."
"Bunda, Ayah, kalau sudah lulus nanti, Rara pasti akan kangen banget sama sekolah," ujar Rara dengan nada sedih.
Ayah mengusap kepala Rara. "Tenang saja, Nak. Meskipun nanti kamu sudah lulus, kenangan indah di sekolah akan selalu tersimpan di hatimu. Dan kamu akan bertemu dengan banyak teman baru di tempat yang baru."
Rara mengangguk pelan. Ia merasa lebih tenang setelah berbicara dengan Bunda dan Ayah. Ia sadar bahwa meskipun kelak ia akan meninggalkan sekolah, namun pelajaran berharga yang ia dapatkan dan persahabatan yang ia bangun akan selalu menjadi bagian dari hidupnya.
Setahun kemudian, setelah lulus dari sekolah, Rara melanjutkan pendidikannya di kota lain. Namun, kenangan indah di ruang kelas nomor lima selalu terukir di hatinya. Ia sering bermimpi kembali ke sekolah dan bertemu dengan teman-temannya.
Oleh: Nine Larasati H.A (Siswi SMPN 9 Kota Mojokerto)
