Jumat, 13 December 2024 01:00 UTC
Ilustrasi pelajar. Sumber: istockphoto
Setiap pagi, mentari menyinari bumi dengan sinarnya yang hangat. Cahaya itu juga menyinari kamar kecil Rara, gadis ceria berusia 15 tahun. Dengan semangat, ia bangkit dari tempat tidur, siap memulai harinya. Hati Rara selalu berbunga. Bukan karena hari libur tiba, melainkan karena ia akan segera bertemu dengan teman-temannya di sekolah. Baginya, sekolah bukan sekadar tempat belajar, namun juga rumah kedua yang penuh kehangatan dan keceriaan.
"Ra, sarapan dulu, Nak!" sapa Bunda dari dapur.
"Iya, Bun, sebentar lagi!" jawab Rara yang sedang bersiap diri di dalam kamarnya.
Rara bergegas menuju ke meja makan untuk menyantap sarapan bersama keluarganya.
"Sekolah hari ini ada apa?" tanya Bunda.
"Biasa, Bun. Ada ulangan Matematika," jawab Rara sambil menguap.
Setiap pagi, Rara dan keluarganya selalu berkumpul di meja makan untuk menyantap sarapan bersama sebelum memulai aktivitas.
Dengan langkah kecilnya, Rara keluar rumah. Udara pagi yang sejuk membelai rambutnya. Ia menghirup udara dan menikmati suasana di jalan sebelum tiba di sekolah dan memulai kegiatan pembelajaran. Rara tersenyum, membayangkan betapa serunya hari ini, karena dapat bertukar cerita dengan teman-temannya.
Di sekolah, Rara punya banyak teman yang selalu setia menemani. Ada Hana, gadis periang yang selalu ceria, ada Denis, anak pintar yang rajin membantu teman-temannya, dan ada juga Gerry, anak olahraga yang kuat dan lincah. Mereka berlima selalu bersama dalam suka dan duka. Saat istirahat, mereka bermain bersama.
Selain teman-teman, Hana juga sangat menyayangi guru-gurunya seperti ia menyayangi orang tuanya. Bu Risma, guru Bahasa Indonesia, selalu sabar mengajarkannya menulis cerita. Pak Doni, guru Matematika, membuatnya menyukai angka-angka dan menghitung. Dan Bu Lina, guru Seni, yang membantunya mengasah keterampilannya dalam bakat melukis. Guru-guru di sekolahnya tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga nilai kebaikan dan kedisiplinan.
Sesampainya di sekolah, Rara langsung bergabung dengan teman-temannya. Mereka bercerita tentang hal-hal seru yang terjadi kemarin, tugas sekolah yang belum selesai, atau gosip terbaru tentang artis favorit mereka.
"Ra, kamu sudah lihat soal matematika yang kemarin? Susah banget!" keluh Hana, sahabat dekat Rara.
"Iya, aku juga bingung. Tapi, nanti kita bisa tanya Bu Rina setelah pelajaran," jawab Rara sambil tersenyum.
Di sekolah, Hana tidak hanya belajar tentang pelajaran di buku, tetapi juga belajar tentang kehidupan. Ia belajar tentang arti persahabatan, kerja sama, dan pentingnya menghargai perbedaan. Ia juga belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Setelah istirahat, Rara dan teman-temannya kembali ke kelas. Hari ini, mereka belajar tentang sistem tata surya. Bu Dewi, guru IPA, menjelaskan dengan sangat menarik tentang planet-planet dan bagaimana mereka berputar mengelilingi matahari.
"Jadi, anak-anak, planet terjauh dari matahari adalah Neptunus. Planet ini sangat dingin dan berwarna biru," jelas Bu Dewi sambil menunjuk gambar di papan tulis.
Setelah Bu Dewi menjelaskan materi tentang sistem tata surya, Bu Dewi memberikan tugas secara kelompok kepada Rara dan teman-teman. Rara dan teman-temannya memutuskan untuk mengerjakan tugas kelompok di perpustakaan sekolah. Mereka memilih tempat yang tenang dan mulai membagi tugas. Hana mencari informasi tentang planet-planet, Denis membuat gambar tata surya, dan Gerry membuat model tata surya dari bahan bekas
Aku rasa kita sudah selesai," kata Gerry sambil menunjukkan model tata surya buatannya.
"Wah, keren banget, Ger! Kamu memang jago bikin kerajinan tangan," puji Hana.
"Terima kasih, ini berkat bantuan dari kalian juga," jawab Gerry.
Selain belajar di kelas, Rara juga sangat aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Setiap hari Rabu, ia mengikuti kegiatan pramuka. Di sini, Rara belajar tentang kedisiplinan, kerja sama, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Sore itu setelah pulang sekolah, Rara bersama anggota pramuka lainnya mengikuti kegiatan pramuka di lapangan sekolah.
"Hari ini kita akan belajar membuat api unggun," kata Pak Budi, pembina pramuka.Rara dan teman-temannya sangat antusias. Mereka mengumpulkan kayu bakar dan mencoba menyalakan api.
"Aku kira membuat api unggun sangat mudah, ternyata pikiranku salah, sulit sekali untuk menyalakan api unggun ini" keluh Rara saat kesulitan menyalakan api unggun
"Betul Rara, membuat api unggun ternyata membutuhkan kesabaran," jawab Riska teman se-anggota kepramukaan Rara.
Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya api unggun pun berhasil menyala.
"Yeay! Kita berhasil!" teriak Rara dengan gembira.
BERSAMBUNG KE:
CERPEN: Antara Dua Pilihan (Bagian 2)
Oleh: Nine Larasati H.A (Pelajar SMPN 9 Kota Mojokerto)
