Jumat, 13 December 2024 01:40 UTC
Ilustrasi pelajar. Sumber: istockphoto
Setelah sesi tanya jawab, Bu Dewi, guru IPA mereka, menghampiri Rara dan teman-temannya.
"Rara dan teman-teman, kalian luar biasa! Prestasi kalian ini menginspirasi kita semua," puji Bu Dewi.
Sejak memenangkan lomba sains di sekolahnya, popularitas mereka semakin menanjak. Banyak siswa lain yang mulai iri dan memandang mereka dengan sebelah mata. Beberapa teman sekelas bahkan mulai menyebarkan gosip tentang mereka, mengatakan bahwa mereka hanya beruntung atau mendapat bantuan dari guru.
"Aku dengar mereka menyontek jawaban saat lomba," bisik seorang siswa di kantin, Denis pun mendengar perkataan mereka.
Denis mengerutkan kening. "Itu tidak benar! Kami bekerja keras untuk itu."
"Iya, mereka sok pintar," sahut siswa lainnya.
Mendengar gosip tersebut, hati Denis terasa sakit. Ia menceritakan hal ini pada Rara, Gerry, dan Hana.
"Aku tidak peduli dengan omongan mereka," kata Rara tegas. "Yang penting kita tahu bahwa kita jujur dan bekerja keras."
"Tapi, aku khawatir mereka akan terus menyebarkan berita tidak benar tentang kita," ujar Hana. "Aku takut bisa merusak nama baik kita."
Gerry memutuskan untuk tidak ambil pusing. "Kita tunjukkan saja pada mereka kalau kita memang pantas menang," kata Gerry dengan semangat.
Untuk menghadapi situasi ini, Rara, Gerry, Denis, dan Hana memutuskan untuk tetap rendah hati dan terus berprestasi. Mereka juga mencoba untuk lebih terbuka dengan teman-teman sekelas yang lain, mengajak mereka untuk mempelajari ilmu sains lebih dalam bersama-sama.
Namun, upaya mereka tidak selalu berhasil. Beberapa teman sekelas tetap bersikap acuh bahkan menghindar dari mereka. Suatu hari, saat mereka sedang mempersiapkan presentasi untuk lomba sains tingkat kota, alat peraga eksperimen mereka tiba-tiba rusak. Mereka menduga ada yang sengaja merusak alat mereka.
"Siapa yang tega melakukan ini?" tanya Rara dengan nada kesal.
"Pasti orang yang iri sama kita," jawab Hana.
"Kita tidak boleh menyerah!" seru Denis. "Kita harus tetap semangat dan membuktikan bahwa kita bisa."
Dengan susah payah, mereka memperbaiki alat peraga mereka tepat waktu. Meskipun telah berusaha mencari tahu siapa pelakunya, Rara, Gerry, Hana, dan Denis akhirnya menyadari bahwa mungkin tidak akan pernah tahu siapa yang telah merusak alat peraga mereka. Hari lomba pun tiba. Saat presentasi, mereka berhasil memukau para juri dengan ide-ide inovatif mereka. Mereka berhasil meraih juara pertama dan mengharumkan nama sekolah.
Kemenangan Rara, Gerry, Hana, dan Denis dalam lomba sains tingkat kota bukan hanya membawa kebanggaan bagi mereka, tetapi juga menjadi titik balik bagi seluruh kelas. Berita kemenangan mereka menyebar dengan cepat di sekolah, memicu rasa kagum dan kekaguman dari teman-teman sekelas yang sebelumnya cenderung meremehkan mereka.
Awalnya, suasana kelas terasa canggung. Teman-teman sekelas yang dulu kerap mengejek mereka kini terlihat ragu untuk mendekati. Namun, Rara dan teman-temannya tidak ingin menyimpan dendam. Mereka sadar bahwa perubahan sikap teman-teman mereka adalah hal yang wajar.
"Kita tidak perlu marah kepada mereka," kata Rara kepada teman-temannya saat istirahat. "Mungkin mereka hanya belum mengenal kita lebih jauh."
Denis mengangguk setuju. "Kita tunjukkan saja bahwa kita tidak sombong karena menang. Kita tetap teman yang baik untuk mereka."
Hari demi hari, Rara dan teman-temannya berusaha mencairkan suasana kelas. Mereka dengan senang hati membantu teman-teman yang kesulitan memahami materi pelajaran.
Teman-teman yang dulu acuh tak acuh kini mulai tertarik pada dunia sains. Mereka sering bertanya kepada Rara dan teman-temannya tentang eksperimen-eksperimen yang mereka lakukan.
"Kalian hebat sekali bisa membuat alat peraga seperti itu," puji seorang teman sekelas bernama Andi. "Aku ingin sekali bisa seperti kalian."
Rara tersenyum. "Semua orang bisa kok, Andi. Yang penting mau berusaha dan belajar."
Rara tersenyum hangat, matanya berbinar. Kata-katanya sederhana, namun bagi Andi, terasa seperti suntikan semangat yang baru. "Terima kasih, Rara," balas Andi, senyum tipis mulai merekah di wajahnya.
Rara merasa sangat senang karena bisa berbagi ilmu dan membantu teman-temannya. Ia menyadari bahwa berbagi itu menyenangkan dan bisa membuat orang lain bahagia.
BERSAMBUNG KE:
CERPEN: Antara Dua Pilihan (Bagian 4)
Oleh: Nine Larasati H.A (Siswa SMPN 9 Kota Mojokerto)
