Jumat, 13 December 2024 01:20 UTC
Ilustrasi stiker sekolah
Api unggun sudah menyala, mereka akhirnya berdiri melingkari api unggun dan menyanyikan lagu-lagu pramuka.
Setelah selesai mengikuti semua kegiatan di sekolah, Rara pun pulang dan beristirahat di rumah. Setiap malam saat makan malam, ia bercerita dengan antusias kepada orang tuanya tentang hal-hal menarik yang terjadi di sekolah hari itu.
"Bun, hari ini di sekolah kita belajar tentang tata surya," ujar Rara sambil menyuap nasi. "Aku jadi kepingin banget bisa pergi ke luar angkasa dan melihat planet-planet dari dekat."
Ayah Rara tersenyum mendengar cerita putrinya. "Wah, cita-cita yang bagus, Ra. Siapa tahu nanti kamu bisa menjadi seorang astronot."
"Bunda juga bangga sama Rara," tambah Ibu Rara sambil mengelus rambut putrinya. "Rara selalu semangat dalam belajar."
"Iya, Bun. Soalnya belajar itu menyenangkan," jawab Rara. "Aku jadi tahu banyak hal baru setiap hari."
Setelah makan malam, Rara membantu ibunya mencuci piring. Sambil mencuci, ia kembali bercerita tentang kegiatan pramukanya hari ini.
"Tadi di pramuka, Rara belajar cara membuat api unggun loh Bun. Susah juga, tapi akhirnya Rara berhasil!" kata Rara dengan semangat.
"Hebat, Nak! Teruslah belajar dan kembangkan minatmu," puji Bunda Rara.
Sebelum tidur, Rara membaca buku cerita tentang luar angkasa. Ia membayangkan dirinya sedang mengendarai roket dan menjelajahi galaksi.
Rara pun akhirnya mengantuk. Ia bersiap untuk tidur. Sebelum tidur, ia selalu berdoa dan mengucapkan terima kasih kepada Tuhan atas segala berkah yang telah diberikan.
Di dalam mimpi, Rara menjelajahi dunia yang penuh warna. Ia berpetualang bersama teman-temannya, bertemu dengan tokoh-tokoh favoritnya, dan belajar banyak hal baru.
Keesokan harinya di sekolah, Rara diberi tahu oleh Bu Dewi bahwa sekolah akan mengadakan lomba sains. Tema lombanya adalah "Penjelajahan Luar Angkasa". Rara sangat antusias karena ini sesuai dengan minatnya.
"Rara, kamu pasti bisa ikut lomba ini," ujar Bu Dewi sambil tersenyum. "Kamu kan suka sekali belajar tentang tata surya."
"Baik, Bu, saya akan ikut," jawab Rara semangat.
Setelah mengetahui ada lomba sains, Rara semakin bersemangat. Ia pun mengajak teman sekelasnya, Denis, Hana, dan Gerry yang juga memiliki minat yang sama dengannya untuk ikut berlatih bersama.
"Teman-teman, apa kalian mau ikut lomba sains juga?" tanya Rara.
Tentu saja, Ra! Aku juga tertarik dengan luar angkasa," jawab Denis antusias. Teman-teman yang Rara yang lain pun setuju dengan jawaban Denis.
Sepulang sekolah, Rara dan teman-temannya berkumpul di rumah Rara. Mereka langsung mencari berbagai informasi tentang tata surya dan penjelajahan luar angkasa. Ia membaca buku, menonton film tentang tata surya, dan mencari informasi di internet.
"Ayah, boleh bantu Rara dan teman-teman membuat model roket untuk lomba sains?" tanya Rara kepada ayahnya.
"Tentu saja, Nak. Ayah akan bantu sebisanya," jawab Ayah Rara.
Mereka pun bekerja sama membuat model roket dari bahan-bahan bekas. Rara sangat senang karena bisa menghabiskan waktu bersama ayah dan teman-temannya sambil mengerjakan hobinya.
"Ayah, bahan apa saja yang kita butuhkan untuk membuat roketnya?" tanya Rara dengan senang.
"Wah, pertanyaan yang bagus! Kita butuh botol bekas yang kuat sebagai badan roket, kertas karton untuk sirip-siripnya, dan sedotan untuk noselnya. Oh iya, jangan lupa lem, selotip, dan cat warna-warni untuk mempercantik roket kita!" jawab Ayah Rara sambil tersenyum.
"Seru! Saya punya botol bekas minuman soda yang besar!" seru Gerry girang.
Mereka pun mulai mengumpulkan bahan-bahan yang dibutuhkan. Setelah semua bahan terkumpul, Ayah Rara mulai menjelaskan cara membuat roket.
"Pertama-tama, kita potong botol bekasnya menjadi dua bagian. Bagian bawah akan menjadi badan roket, sedangkan bagian atas akan kita modifikasi menjadi kepala roket."
Rara dan teman-temannya mendengarkan penjelasan Ayah Rara dengan seksama. Mereka sangat antusias dan tidak sabar untuk segera membuat roketnya.
"Ayah, boleh enggak saya yang cat kepala roketnya?" tanya Denis.
"Boleh sekali! Kamu mau cat warna apa?" tanya Ayah Rara.
"Saya mau cat warna biru, seperti roket luar angkasa!" jawab Denis semangat.
Mereka pun mulai bekerja sama membuat roket. Rara dan teman-temannya sibuk memotong kertas karton, menempelkan sirip-sirip, dan mengecat roketnya. Ayah Rara sesekali membantu mereka jika ada kesulitan.
Setelah beberapa jam, roket buatan mereka pun selesai. Rara dan teman-temannya sangat bangga dengan hasil karya mereka.
"Wah, roket kita keren banget, ya!" seru Rara.
"Iya, keren! Pasti juara di lomba nanti!" sahut teman-temannya.
"Semoga saja," kata Ayah Rara sambil tersenyum.
Hari lomba pun tiba. Rara dan teman-temannya sangat gugup sekaligus senang. Mereka membawa roket buatan mereka ke tempat lomba diadakan.
Saat giliran Rara dan teman-temannya meluncurkan roket, semua mata tertuju pada mereka. Dengan hitungan mundur, roket mereka meluncur ke udara. Roket mereka terbang tinggi dan jauh. Semua penonton bersorak gembira.
Dan ternyata, roket buatan Rara dan teman-temannya berhasil meraih juara pertama! Mereka sangat senang dan berterima kasih kepada Ayah Rara yang telah membantu mereka.
"Terima kasih, Ayah!" seru Rara sambil tersenyum lebar. Rasa bangga dan bahagia memenuhi hatinya. Bukan hanya karena kemenangan dalam lomba sains, tetapi juga karena dukungan penuh dari Ayah.
Keesokan harinya, setelah kemenangan dalam lomba sains, Rara dan teman-temannya menjadi bintang di sekolah. Mereka diundang ke depan kelas untuk menceritakan pengalaman seru mereka membuat roket.
"Rara, kok bisa sih bikin roket sebagus itu?" tanya Santi, salah satu teman sekelasnya.
"Aku dibantu Ayah, kok," jawab Rara sambil merendah. "Ayahku suka banget dengan eksperimen sains. Jadi, aku sering diajak bikin berbagai macam percobaan di rumah."
"Wah, seru banget!" timpal Beni. "Aku jadi pengen punya Ayah yang suka sains juga."
"Aku juga!" sahut Arin. "Ayahku lebih suka main game."
Rara tersenyum mendengar jawaban teman-temannya. Ia menyadari betapa beruntungnya ia memiliki Ayah yang mendukung minat dan bakatnya.
BERSAMBUNG KE:
CERPEN: Antara Dua Pilihan (Bagian 3)
Oleh: Nine Larasati H.A (Pelajar SMPN 9 Kota Mojokerto)
