Rabu, 28 January 2026 00:54 UTC

Sejumlah Titik Lokasi Survei Untuk Rencana Lintasan Kereta Api Jember - Bondowoso. Foto: Humas Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Surabaya
JATIMNET.COM, Jember – Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Surabaya memulai langkah awal reaktivasi jalur kereta api nonaktif lintas Kalisat–Bondowoso–Panarukan dengan melaksanakan Survei Identifikasi Desain (SID), Selasa, 27 Januari 2026.
Survei yang dijadwalkan berlangsung selama satu pekan ini digelar sebagai respons atas tingginya aspirasi masyarakat di wilayah Jember, Bondowoso, hingga Situbondo yang menginginkan kembali beroperasinya layanan transportasi kereta api di jalur tersebut.
Melalui SID, BTP Surabaya berupaya memperoleh gambaran menyeluruh terkait kondisi eksisting jalur kereta api sekaligus memetakan potensi kendala yang mungkin dihadapi apabila reaktivasi dilakukan.
Dalam pelaksanaannya, tim survei menyusuri seluruh lintasan jalur nonaktif untuk meninjau kondisi trase rel, jembatan, stasiun, aset lahan perkeretaapian, serta titik-titik yang mengalami kerusakan maupun alih fungsi.
Selain pemeriksaan visual, tim juga mengumpulkan data teknis awal, mulai dari panjang lintasan, kondisi struktur bangunan perkeretaapian, hingga potensi hambatan di lapangan. Data tersebut akan menjadi dasar dalam penyusunan rencana lanjutan yang lebih detail.
Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Surabaya, Denny Michels Adlan, menjelaskan bahwa SID merupakan tahapan krusial sebelum masuk ke studi teknis lanjutan yang lebih komprehensif.
"SID ini menjadi fondasi awal sebelum dilakukan survei lanjutan yang lebih rinci dan komprehensif. Seluruh data dikumpulkan secara detail dengan metode pengambilan gambar serta pemetaan menggunakan teknologi GPS," kata Denny Michels Adlan saat dikonfirmasi di Jember.
BACA: Imbas Penutupan Jalur Gumitir, Kereta Api Jadi Andalan Warga Jember
“Kami mengambil gambar dan melakukan plotting dengan GPS sehingga seluruh kondisinya dapat terpetakan,” sambungnya.
Dari hasil pemetaan awal, BTP Surabaya mulai mengidentifikasi sejumlah tantangan yang memerlukan penanganan khusus. Denny mengungkapkan, beberapa bangunan stasiun di lintas Kalisat–Bondowoso diketahui telah beralih fungsi, sementara kondisi jembatan menunjukkan variasi tingkat kelayakan.
“Beberapa jembatan memang masih terlihat baik, tetapi tetap perlu dianalisis kembali apakah strukturnya masih kuat, cukup dilakukan penggantian bagian tertentu, atau harus dibangun ulang jika kondisinya sudah rusak berat,” ujarnya.
Tak hanya persoalan teknis, aspek sosial juga menjadi perhatian dalam survei ini. Meski trase jalur kereta api masih relatif mudah dikenali, sejumlah titik jalur kini berada sangat dekat dengan permukiman warga dan tidak lagi steril.
“Ke depan diperlukan koordinasi lanjutan dengan para pemangku kepentingan. Selain penertiban, juga perlu disiapkan jalan alternatif bagi warga, karena beberapa jembatan kereta api saat ini dimanfaatkan sebagai akses melintas masyarakat,” tuturnya.
BACA: Daop 9 Jember Catat Lonjakan Penumpang Kereta Api Selama Angkutan Nataru 2025/2026
Sebagai catatan historis, jalur kereta api Surabaya Kota–Kalisat–Bondowoso–Panarukan merupakan lintasan peninggalan era Hindia Belanda yang dibangun oleh Staatsspoorwegen pada 1897. Segmen Kalisat–Bondowoso–Panarukan resmi berhenti beroperasi pada 2004.
Upaya pelestarian aset perkeretaapian di jalur ini sebelumnya juga telah dilakukan. Pada 2023, BTP Surabaya bersama Komunitas Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) menyelamatkan alat peraga sinyal tebeng tipe Krian dari Stasiun Prajekan dan memindahkannya ke Stasiun Krian, Sidoarjo.
Sementara itu, pada 2022, jalur Kalisat–Bondowoso–Panarukan telah melalui studi kelayakan yang menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap rencana reaktivasi jalur kereta api tersebut.
