Senin, 26 October 2026 11:41 UTC

Ilustrasi. Gedung Mapolda Jatim, Senin, 26 Oktober 2026. Foto: Khaesar/Jatimnet
JATIMNET.COM, Surabaya – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Airlangga (BEM UNAIR) menyebut presidennya, M. Rizqi Senja Virawan, merasa tertekan saat menghadiri kegiatan silaturahmi bersama Kapolda Jawa Timur setelah menjalani pemeriksaan polisi.
Pernyataan tersebut disampaikan BEM UNAIR melalui siaran pers pada 21 Oktober 2026. Organisasi mahasiswa itu menjelaskan, Rizqi dijemput dari rumahnya pada 19 Oktober 2026 sekitar pukul 07.00 WIB untuk menjalani pemeriksaan terkait dugaan ajakan melakukan kerusuhan.
Dalam proses tersebut, ponsel atau perangkat milik Rizqi disebut turut diamankan sehingga ia tidak dapat menghubungi keluarganya. Setelah menjalani pemeriksaan sekitar 1 x 24 jam, Rizqi kemudian dibebaskan pada pagi hari berikutnya.
BEM UNAIR menyebut Rizqi menerima undangan untuk menghadiri kegiatan silaturahmi BEM se-Jawa Timur bersama Kapolda Jatim pada 20 Oktober 2026. Ia menghadiri kegiatan tersebut sekitar pukul 13.30 WIB.
Namun, BEM UNAIR menyatakan Rizqi merasa perlu memenuhi undangan itu karena khawatir ketidakhadirannya dapat menimbulkan persoalan lanjutan.
BEM UNAIR menilai komunikasi antara aparat dan mahasiswa seharusnya berlangsung secara terbuka dan setara. Organisasi tersebut juga menekankan pentingnya menjaga independensi gerakan mahasiswa serta menghormati kebebasan menyampaikan pendapat.
“Gerakan mahasiswa harus tetap menjadi ruang bagi keberanian berpikir, kebebasan bersuara, dan kekuatan kolektif untuk memperjuangkan kepentingan publik,” demikian pernyataan BEM UNAIR dalam penutup siaran persnya.
BEM UNAIR juga mengajak mahasiswa menjaga solidaritas, memperjelas informasi, serta memastikan proses penegakan hukum berjalan profesional dan transparan dengan tetap menghormati hak asasi manusia.
Di sisi lain, Polda Jatim membantah adanya pemaksaan terhadap Rizqi untuk menghadiri kegiatan tersebut. Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Jules Abraham Abast menyatakan hasil pengecekan internal tidak menemukan indikasi pemaksaan dan menyebut undangan dikirim melalui WhatsApp.
Polda Jatim juga menjelaskan bahwa kegiatan silaturahmi tersebut dimaksudkan sebagai ruang komunikasi terbuka antara kepolisian dan mahasiswa, termasuk untuk menyampaikan aspirasi, masukan, maupun kritik. Pihak kepolisian menyatakan terbuka untuk mengklarifikasi perbedaan persepsi terkait komunikasi sebelum acara.
