Logo

Becaknya Dicuri, Sukarno Kembali Mengayuh Harapan

Reporter:,Editor:

Senin, 24 August 2026 02:00 UTC

Becaknya Dicuri, Sukarno Kembali Mengayuh Harapan

Wakil Wali Kota Mojokerto Rachman Sidharta Arisandi atau Cak Sandi menyerahkan becak bernuansa merah putih dan hitam kepada pak Sukarno. Foto: Wanto

JATIMNET.COM, Mojokerto – Senyum Sukarno, warga Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, kembali merekah. Setelah kehilangan becak yang menjadi tumpuan mencari nafkah karena dicuri, kini ia kembali memiliki kendaraan untuk bekerja.

Becak baru berwarna merah, putih, dan hitam itu diserahkan Wakil Wali Kota Mojokerto Rachman Sidharta Arisandi atau Cak Sandi. Bantuan diberikan setelah Sukarno mengalami sejumlah musibah.

Sebelumnya, becak miliknya hilang saat ia tertidur. Tak hanya becak, rumah Sukarno juga dibobol pencuri. Mesin jahit dan sejumlah perkakas kerja ikut raib dalam kejadian tersebut.

Kehilangan itu membuat Sukarno kehilangan sebagian sumber penghasilannya. Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya berhenti beraktivitas. Di tengah musibah, ia masih ikut membantu kegiatan lomba di kampungnya dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Sikap tersebut membuat Cak Sandi tergerak memberikan becak baru. Ia berharap bantuan itu bisa membantu Sukarno kembali bekerja dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sampean kena musibah pas bulan kemerdekaan, tapi sampean tetap bantu-bantu lomba di kampung. Tetap semangat mencari rizki yang halal dan barokah,” ujar Cak Sandi.

Menurut Cak Sandi, bantuan tersebut bukan sekadar mengganti alat transportasi yang hilang. Lebih dari itu, becak tersebut diharapkan menjadi penyemangat bagi Sukarno untuk kembali mencari penghasilan.

Aku gak njaluk opo-opo, mek njaluk sampean tetep dadi wong apik,” lanjutnya.

Selain becak, Cak Sandi bersama istrinya juga menyerahkan bantuan sembako untuk membantu memenuhi kebutuhan Sukarno setelah mengalami sejumlah musibah.

Cak Sandi menegaskan bantuan tersebut diberikan atas dasar kepedulian kemanusiaan dan tidak berkaitan dengan kepentingan jabatan maupun politik.

“Bantuan ini, becak dan sembako, ini murni urusan kemanusiaan, bukan urusan jabatan,” tegasnya.

Usai menerima bantuan, Sukarno langsung mencoba mengayuh becak barunya. Dengan wajah penuh haru, ia perlahan mengayuh kendaraan yang kini kembali menjadi tumpuan untuk mencari nafkah.