Sabtu, 01 August 2026 05:24 UTC

Aksi teatrikal bayi raksasa yang tubuhnya dipenuhi sampah plastik dan popok bekas, Jumat 31 Juli 2026. Foto: Mozaik-Ecoton untuk Jatimnet
JATIMNET.COM, Surabaya – Aksi teatrikal berupa bayi raksasa yang tubuhnya dipenuhi sampah plastik dan popok sekali pakai menjadi sorotan dalam forum bertajuk "Dari Sungai Menuju Kesejahteraan: Pengelolaan Sampah Terintegrasi dan Penguatan Pekerja Sektor Persampahan Informal di Kota Surabaya", Jumat, 31 Juli 2026.
Instalasi tersebut menjadi simbol kritik terhadap pencemaran Kali Tebu yang masih didominasi limbah rumah tangga, khususnya popok sekali pakai yang dibuang ke aliran sungai.
Data Program Mission for Zero Plastic Leakage (MOZAIK) menunjukkan kondisi Kali Tebu masih memprihatinkan. Hasil pemantauan dan pemilahan sampah mengungkap bahwa 80,1 persen sampah yang berhasil dievakuasi merupakan sampah residu yang sulit didaur ulang.
Dari total sampah residu tersebut, sekitar 50 persen terdiri atas popok sekali pakai. Sisanya berupa plastik sekali pakai dan berbagai jenis limbah residu lain yang belum memiliki sistem pengelolaan memadai.
Manajer Program MOZAIK, Amiruddin Muttaqin, mengatakan dominasi popok sekali pakai mencerminkan masih lemahnya pengelolaan sampah domestik di tingkat rumah tangga.
"Dominasi popok sekali pakai menunjukkan persoalan pengelolaan sampah domestik yang belum terselesaikan. Sungai tidak boleh terus menjadi tempat pembuangan limbah rumah tangga. Dibutuhkan sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi, mulai dari pemilahan di sumber, pengangkutan, hingga pengolahan residu yang selama ini belum tertangani," ujar Amiruddin.
Menurutnya, penyelesaian persoalan sampah tidak cukup dilakukan melalui kegiatan bersih-bersih sungai. Upaya pencegahan harus dimulai dari sumbernya dengan mengurangi timbulan sampah residu di tingkat rumah tangga, menyediakan layanan pengelolaan popok sekali pakai, serta memperkuat kebijakan yang mendukung penerapan ekonomi sirkular.
Senada dengan itu, Manajer Data dan Informasi MOZAIK, Alaika Rahamatullah, menilai analisis komposisi sampah menjadi dasar penting dalam mengidentifikasi sumber utama pencemaran Kali Tebu sekaligus menyusun kebijakan penanganan yang lebih tepat sasaran.
"Data menunjukkan mayoritas sampah yang masuk ke Kali Tebu merupakan residu yang sulit didaur ulang. Popok sekali pakai menjadi komponen terbesar sehingga diperlukan intervensi kebijakan yang lebih spesifik. Data ini penting sebagai dasar penyusunan strategi pengurangan sampah dan evaluasi kebijakan pengelolaan sampah perkotaan," kata Alaika Rahamatullah.
Selain menyoroti persoalan pencemaran sungai, forum tersebut juga mengangkat pentingnya pemberdayaan pekerja sektor persampahan informal, seperti pemulung, pengepul, hingga pengelola bank sampah. Mereka dinilai memiliki kontribusi besar dalam menyelamatkan material yang masih bernilai ekonomi agar tidak berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).
Namun, tingginya volume sampah residu menyebabkan material yang masih bisa didaur ulang hanya menyumbang sebagian kecil dari total sampah yang mengalir ke Kali Tebu.
Melalui forum tersebut, MOZAIK mendorong kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, sektor swasta, dan pekerja sektor persampahan informal untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih terpadu, inklusif, dan berkeadilan. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menekan kebocoran sampah ke sungai sekaligus meningkatkan efektivitas pengelolaan sampah perkotaan.
Aksi teatrikal bayi raksasa yang menutup rangkaian kegiatan menjadi pengingat bahwa pencemaran sungai hari ini akan berdampak langsung pada generasi masa depan. Sungai yang bersih bukan hanya menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga menjadi fondasi bagi kesehatan, kesejahteraan, dan kualitas hidup masyarakat Surabaya.
