Jumat, 11 September 2026 23:45 UTC

Ketua Komite BPH Migas, Wahyudi Anas saat memantau distribusi BBM di salah satu SPBU di Jember, Jumat malam, 11 September 2026, setelah sebelumnya terjadi krisis pasokan BBM. Foto: Hermawan
JATIMNET.COM, Jember – Badan Pengatur Hulu Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) angkat bicara mengenai krisis pasokan BBM yang kembali dialami warga Jember awal pekan lalu.
Gangguan distribusi BBM ke Kabupaten Jember beberapa hari lalu dipicu kepadatan arus kendaraan menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Kondisi tersebut menghambat perjalanan armada pengangkut BBM dari Integrated Terminal Tanjung Wangi menuju Jember.
Ketua Komite BPH Migas Wahyudi Anas mengatakan peningkatan volume kendaraan membuat perjalanan armada logistik menuju kawasan pelabuhan tersendat.
“Memang situasi kondisi kemarin terganggu karena terkunci pengiriman BBM dari Integrated Terminal Tanjung Wangi, Banyuwangi yang dikirim ke Jember ini ada hambatan,” ujarnya saat dikonfirmasi Jatimnet di sela-sela sidak yang dilakukan di SPBU Gajah Mada, Jember, Jumat malam, 11 September 2026.
BACA: BBM di Jember Sempat Tersendat, Pertamina Siapkan 15 Mobil Tangki dari Surabaya
Berdasarkan verifikasi BPH Migas, arus kendaraan logistik meningkat sekitar 12 persen. Sementara kendaraan angkutan penumpang, kendaraan barang roda empat, dan kendaraan pribadi naik sekitar 8 persen.
Lonjakan paling tinggi terjadi pada kendaraan roda dua dari Banyuwangi menuju Bali. BPH Migas mencatat peningkatannya mencapai sekitar 42 persen.
Peningkatan arus tersebut berdampak pada kendaraan logistik yang hendak menuju Pelabuhan Ketapang. Armada pengangkut BBM dari terminal di Banyuwangi pun ikut mengalami hambatan perjalanan menuju Jember.
Gangguan distribusi mulai terasa ketika antrean BBM muncul di sejumlah SPBU Jember sekitar 3-4 September 2026. Pada periode yang sama, konsumsi BBM masyarakat juga mengalami peningkatan.
Kondisi lalu lintas di Banyuwangi mulai membaik sekitar empat hari sebelum sidak. Pemerintah daerah bersama Forkopimda Banyuwangi melakukan sejumlah upaya untuk mengurai kepadatan.
Selain mengatasi kepadatan arus kendaraan, pemerintah juga meningkatkan kapasitas Dermaga Nomor 3 Pelabuhan Ketapang. Wahyudi mengatakan dermaga yang sebelumnya melayani kendaraan roda enam dengan muatan di bawah 25 ton kini dapat melayani hingga 50 ton.
“Ini di-upgrade menjadi 50 ton, sehingga itu untuk mengurai kiriman logistik,” katanya.
Peningkatan kapasitas tersebut diharapkan dapat memperlancar pergerakan kendaraan logistik di kawasan pelabuhan. Dengan demikian, distribusi berbagai kebutuhan, termasuk BBM menuju Jember, dapat berjalan lebih lancar.
BPH Migas juga memasukkan jalur Gunung Gumitir sebagai titik yang perlu diantisipasi. Gangguan seperti longsor di kawasan tersebut berpotensi kembali menghambat perjalanan kendaraan pengangkut BBM menuju Jember.
Kepadatan di Ketapang bukan satu-satunya hal yang diantisipasi BPH Migas. Untuk mengurangi ketergantungan pada jalur Banyuwangi, Pertamina Patra Niaga menyiapkan 15 mobil tangki yang dapat dikerahkan melalui jalur alternatif dari Surabaya.
Wahyudi mengatakan pengiriman BBM dari Surabaya ke Jember membutuhkan waktu sekitar 10 jam, sedangkan jalur Banyuwangi hanya sekitar 6 sampai 8 jam.
Di sisi lain, BPH Migas bersama Pertamina juga melakukan pengawasan terhadap penyaluran BBM bersubsidi. Salah satu SPBU di kawasan Tegal Besar mendapat pembinaan terkait penyaluran Biosolar dan Pertalite.
Upaya mengurai kepadatan kendaraan dan menyiapkan jalur alternatif diharapkan mampu menjaga kelancaran pasokan BBM ke Jember. BPH Migas juga meminta masyarakat tidak melakukan pembelian BBM secara berlebihan ketika terjadi antrean.
