Senin, 11 May 2026 08:00 UTC

Pahu, badak Sumatera di Kalimantan Timur dirawat di Kelian Lestari, Kutai Barat, Kaltim. Foto: Dok. KLHK
JATIMNET.COM – Nasib badak Kalimantan kini berada di titik paling genting setelah pemerintah dan lembaga konservasi memastikan populasi yang masih teridentifikasi di Kalimantan Timur tinggal dua individu betina.
Minimnya populasi liar dan tidak ditemukannya pejantan membuat program reproduksi berbasis teknologi menjadi satu-satunya peluang realistis untuk mempertahankan keberadaan satwa langka tersebut.
Badak Kalimantan merupakan subspesies badak sumatera dengan nama ilmiah Dicerorhinus sumatrensis harrissoni. Satwa bercula dua itu sempat dinyatakan hilang dari hutan Kalimantan sejak era 1990-an akibat tidak adanya temuan lapangan selama bertahun-tahun dan masifnya kerusakan habitat hutan tropis di Pulau Kalimantan.
Keberadaan badak itu kembali terungkap pada 2012 hingga 2013 setelah tim gabungan WWF Indonesia, Dinas Kehutanan Kutai Barat, Universitas Mulawarman, dan masyarakat lokal menemukan jejak kaki, kubangan, gesekan cula, bekas pakan, hingga jalur lintasan satwa di kawasan pedalaman Kutai Barat dan Mahakam Ulu.
Temuan tersebut menjadi salah satu penemuan konservasi paling penting di Asia Tenggara dalam satu dekade terakhir karena membantah anggapan bahwa populasi badak di Kalimantan telah sepenuhnya punah.
Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) hingga kini menunjukkan hanya dua individu yang berhasil dipantau secara intensif, yakni Pahu dan Pari.
Keduanya merupakan badak betina yang hidup terpisah dan tidak memiliki pasangan pejantan teridentifikasi di habitatnya.
Kondisi itu membuat peluang reproduksi alami hampir mustahil terjadi. Situasi tersebut juga meningkatkan risiko penurunan kualitas genetik akibat populasi yang terlalu kecil dan terisolasi.
Pahu menjadi badak pertama yang berhasil dievakuasi hidup-hidup dari habitat liar Kalimantan Timur pada 2018. Badak betina itu kemudian ditempatkan di Suaka Badak Kelian, Kutai Barat, yang dibangun khusus sebagai pusat penyelamatan dan pengembangbiakan badak Kalimantan.
KLHK mencatat usia Pahu diperkirakan sekitar 30 tahun berdasarkan pemeriksaan struktur gigi. Saat pertama kali ditangani, berat tubuhnya sekitar 320 kilogram dengan panjang badan mencapai 200 sentimeter.
Dalam beberapa tahun terakhir, kondisi kesehatannya disebut stabil dengan berat tubuh meningkat menjadi sekitar 366 kilogram.
Sementara itu, Pari hingga kini masih berada di habitat liar kawasan Mahakam Ulu dan terus dipantau petugas konservasi menggunakan kamera jebak serta patroli lapangan.
Pemerintah sempat menyiapkan rencana translokasi Pari ke Suaka Kelian, namun proses tersebut berjalan sangat hati-hati karena tingginya risiko stres dan kematian saat evakuasi satwa liar berukuran besar.
Di tengah keterbatasan populasi, pemerintah mulai mempercepat penggunaan teknologi reproduksi modern. Pada akhir 2023, tim BKSDA Kalimantan Timur bersama IPB University berhasil melakukan pengambilan sel telur Pahu sebagai bagian dari program fertilisasi in-vitro atau IVF.
Program tersebut menggunakan metode intracytoplasmic sperm injection (ICSI), yakni teknik penyuntikan sperma langsung ke dalam sel telur untuk menghasilkan embrio.
Pemerintah juga mulai membuka kemungkinan pengembangan teknologi stem cell dan kloning sebagai opsi konservasi jangka panjang.
Langkah itu dinilai mendesak karena hingga kini belum ditemukan pejantan badak Kalimantan yang dapat digunakan dalam reproduksi alami maupun penyediaan material genetik.
Data International Union for Conservation of Nature (IUCN) menempatkan badak sumatera sebagai satwa dengan status Critically Endangered atau kritis.
Populasi global spesies ini diperkirakan kurang dari 80 individu yang tersebar di Sumatera dan sebagian kecil Kalimantan.
Tekanan terhadap populasi badak Kalimantan juga terus meningkat akibat menyempitnya habitat hutan.
Bentang habitat yang sebelumnya menjadi jalur jelajah badak kini banyak bersinggungan dengan aktivitas tambang batu bara, pembukaan jalan hauling, konsesi kayu, hingga ekspansi industri berbasis lahan.
Fragmentasi hutan membuat ruang hidup satwa semakin terpecah dan memperkecil kemungkinan antarindividu bertemu untuk berkembang biak.
Sejumlah peneliti konservasi menyebut ancaman terbesar badak Kalimantan saat ini bukan lagi perburuan, melainkan keterisolasian populasi dan hilangnya konektivitas habitat.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah bersama lembaga konservasi internasional mulai memperkuat patroli habitat, pemantauan kamera jebak, hingga pengembangan kawasan konservasi tertutup di Kalimantan Timur.
Namun dengan jumlah populasi yang sangat kecil dan seluruh individu terpantau berjenis kelamin betina, masa depan badak Kalimantan kini sangat bergantung pada keberhasilan teknologi reproduksi dan kecepatan penyelamatan habitat tersisa.
