Senin, 05 January 2026 06:00 UTC

Anggota Komisi A DPRD Jawa Timur Sumardi. Foto: Humas DPRD Jatim.
JATIMNET.COM, Surabaya – Mengawali tahun 2026, anggota Komisi A DPRD Jawa Timur (Jatim) Sumardi menilai kepemimpinan Gubernur Khofifah Indar Parawansa berhasil menciptakan iklim kerukunan antarumat beragama yang kondusif dan berkelanjutan sepanjang 2025.
Selama periode tersebut tidak tercatat ada konflik berlatar belakang suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Kondisi ini dinilai sebagai capaian penting di tengah dinamika sosial masyarakat yang semakin kompleks.
“Selama tahun 2025 nihil permasalahan SARA maupun konflik sosial lainnya. Ini merupakan hasil sinergitas Forkopimda Jawa Timur yang terkoordinasi dengan baik di bawah kepemimpinan Gubernur Khofifah,” ujar Sumardi di Surabaya, Senin, 5 Januari 2026.
Politikus Partai Golkar itu menyebut, keberhasilan menjaga harmoni sosial tidak terlepas dari pendekatan kepemimpinan yang inklusif serta komunikasi intensif antara pemerintah daerah, aparat keamanan, tokoh agama, dan elemen masyarakat.
"Dengan pola komunikasi dan pendekatan yang baik membuat masalah kerukunan umat bergama di Jatim lebih tenang," katanya.
Ia menegaskan bahwa kerukunan umat beragama bukan semata-mata persoalan keagamaan. Namun, juga menjadi momentum refleksi bersama untuk memperkuat nilai-nilai kemanusiaan universal.
“Kerukunan beragama adalah ruang untuk menumbuhkan solidaritas, empati, dan kepedulian sosial. Nilai-nilai tersebut sangat relevan dalam menjaga kohesi sosial dan memperkokoh persatuan bangsa,” jelasnya.
Sumardi menambahkan, sinergitas Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Jatim yang dipimpin Gubernur Khofifah menunjukkan komitmen nyata negara dalam menjamin rasa aman dan kebebasan beribadah bagi seluruh umat beragama.
Menurutnya, stabilitas sosial yang terjaga juga berdampak positif terhadap pembangunan daerah, investasi, serta kepercayaan publik terhadap pemerintah.
“Keberhasilan Jawa Timur menjaga toleransi dan kerukunan umat beragama bahkan telah menjadi model percontohan di tingkat nasional,” Sumardi menegaskan.
Ia berharap pola koordinasi dan pendekatan dialogis yang diterapkan di Jatim dapat terus dipertahankan dan direplikasi oleh daerah lain sebagai upaya memperkuat persatuan di tengah keberagaman Indonesia.
