Logo

Ada Desa Mati di Ponorogo, Ini Ceritanya

Reporter:,Editor:

Rabu, 03 March 2021 06:20 UTC

Ada Desa Mati di Ponorogo, Ini Ceritanya

MASJID: Tampak bangunan masjid yang saat ini masih digunakan, empat bangunan rumah lainnya sudah ditinggalkan pemiliknya, Rabu 3 Maret 2021. Foto: Gayuh

JATIMNET.COM, Ponorogo – Ramai diperbincangkan di media sosial tentang sebuah Desa Mati di Ponorogo yang disebut Desa Sumbulan, karena ditinggalkan oleh para warganya, begini faktanya.

Dari penelusuran jatimnet.com, Desa yang dimaksud bukanlah sebuah desa seutuhnya, lokasinya terletak di Dusun Krajan Satu, Desa Plalangan, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo.

Lokasi lingkungan yang sering disebut warga Plalangan lingkungan Sumbulan tersebut terletak di-ujung jalan persawahan yang buntu karena terkepung oleh sungai dan persawahan.

Untuk menuju lokasi lingkungan Sumbulan sebenarnya tidaklah sulit, bahkan aksesnya dapat dilalui menggunakan kendaraan roda empat namun memutar jauh.

Baca Juga: Ucapan Ulang Tahun di Baliho Bikin Baper Warga Ponorogo

Untuk sepeda motor memang harus berhati-hati karena jalan masih beralaskan batu makadam dan tanah sehingga akan sangat licin jika sehabis turun hujan.

Jika ingin ke lingkungan Sumbulan juga bisa melalui sungai dengan meniti jembatan bambu dari Desa Singosaren, yang dibuat oleh warga untuk akses ke Persawahan ataupun menuju satu-satunya masjid yang berada di lingkungan Sumbulan.

Kepala Desa Plalangan, Ipin Herdianto mengatakan jika saat ini lingkungan tersebut memang kosong hanya tertinggal empat bangunan rumah dan satu bangunan masjid saja. Sebelumnya memang masih ada beberapa keluarga yang tinggal disitu namun akhirnya pindah juga.

“Keluarga terakhir pindah karena ikut anaknya, ada yang dibelikan perumahan juga ada, gk ada alasannya, kalau mistis hampir semua tempat sama aja, semua tempat ada,” kata Ipin, Rabu 3 Maret 2021.

Baca Juga: Warga Ponorogo Heboh, Temukan Bayi di dalam Masjid

Ipin menerangkan dulunya, lingkungan Sumbulan memang sempat ramai karena memang disana terdapat pondok pesantren. Sering dilakukan pengajian dan terdapat santri juga dari luar daerah, sehingga sempat menjadi penyebaran islam di lingkungan Sumbulan, warga Plalangan juga sempat ada yang merasakan mengaji di lingkungan Sumbulan.

Bahkan dulunya juga ada 15 bangunan rumah warga berada di sumbulan. Namun memasuki tahun 90an banyak warga yang mulai hijrah atau pindah dikarenakan pekerjaan ataupun mendapatkan jodoh.

Hingga akhirnya kini tinggal empat rumah saja yang masih berbentuk bangunan, namun sudah jarang ditinggal oleh pemiliknya. “Kalau masjid di lingkungan Sumbulan hingga saat ini masih dipakai, bahkan jika hari raya kurban sering dijadikan untuk sholat id,” terang Ipin.