Senin, 05 October 2026 10:45 UTC

Rapat Pleno Dharma Wanita Persatuan Kediri membahas dengan kesiapan lomba cipta menu ikan di Ruang Sekartaji, Pendopo Panjalu Jayati, Senin, 10 Oktober 2026. Foto: kedirikab.go.id.
JATIMNET.COM - Mengolah ikan air tawar menjadi hidangan keluarga yang sehat, menarik, dan terjangkau menjadi tantangan bagi 26 tim Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Kediri. Setiap tim harus menyajikan satu paket menu untuk empat orang dengan anggaran belanja maksimal Rp100 ribu.
Lomba cipta menu ikan tersebut digelar Dinas Perikanan Kabupaten Kediri bersama DWP Kabupaten Kediri untuk memperingati Hari Ikan Nasional ke-13 dan HUT DWP ke-27. Persiapan kegiatan mulai dimatangkan melalui rapat pleno di Ruang Sekartaji, Pendopo Panjalu Jayati, Senin (5/10/2026).
Ketua DWP Kabupaten Kediri Aviva Herawati Sari Solikin mengatakan, lomba ini menjadi wadah bagi anggota untuk mengembangkan kreativitas dalam mengolah ikan menjadi menu keluarga yang sehat sekaligus memiliki nilai ekonomi.
“Lomba ini nanti akan kita laksanakan dengan dukungan dari Dinas Perikanan. Hari ini sekaligus technical meeting dan pengundian kelompok peserta,” kata Aviva.
Dalam lomba tersebut, 26 tim akan dibentuk dengan komposisi tiga orang per tim. Setiap kelompok terdiri dari satu perwakilan kecamatan dan dua pengurus DWP yang mewakili instansi masing-masing.
Mengusung tema “Dari Dapur Keluarga Ciptakan Kelezatan Menu Ikan Tanpa Batas”, peserta ditantang mengolah ikan air tawar, seperti lele, gurami, nila, dan patin, menjadi menu utama untuk keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan dua anak.
Selain kreativitas dalam meracik hidangan, peserta harus memperhatikan prinsip B2SAH, yakni beragam, bergizi seimbang, aman, dan halal. Batas belanja Rp100 ribu juga menjadi tantangan untuk menyusun hidangan keluarga yang berkualitas dengan biaya terjangkau.
Kabid Usaha Perikanan Dinas Perikanan Kabupaten Kediri Ennisa Novia Amalian menjelaskan, setiap tim akan memasak langsung di lokasi lomba dengan waktu pengerjaan selama 90 menit.
Aspek penilaian mencakup kreativitas dan teknik pengolahan serta cita rasa, yang masing-masing memiliki bobot 30 persen. Sementara itu, pemenuhan prinsip B2SAH dan keamanan pangan berbobot 20 persen, begitu pula penyajian atau penampilan hidangan.
“Adapun penilaian lomba meliputi B2SAH dan keamanan pangan 20 persen, kreativitas dan pengolahan 30 persen, cita rasa 30 persen, serta penyajian atau penampilan 20 persen,” terangnya.
Melalui lomba ini, pengolahan ikan diharapkan semakin beragam dan dapat menjadi inspirasi bagi keluarga untuk menyajikan makanan bergizi dengan bahan pangan lokal. Selain mendorong kreativitas, kegiatan tersebut juga menjadi sarana mengenalkan ikan air tawar sebagai pilihan menu sehari-hari yang sehat dan terjangkau.
