Logo

140 Pasien Terdampak Dugaan Keracunan MBG di Mojokerto Dinyatakan Pulih

Reporter:,Editor:

Senin, 12 January 2026 00:30 UTC

140 Pasien Terdampak Dugaan Keracunan MBG di Mojokerto Dinyatakan Pulih

Sejumlah santri Pondok Pesantren Mahad An Nur, Dusun Jurangrejo, Desa Singowangi, Kecamatan Kutorejo saat mendapatkan perawatan. Foto: Hasan.

JATIMNET.COM, Mojokerto – Sebanyak 121 pasien yang mengalami gangguan kesehatan akibat dugaan keracunan hidangan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Mojokerto masih menjalani perawatan medis hingga Minggu, 11 Januari 2026.

Mereka merupakan bagian dari 261 siswa dan orang tua yang terdampak dugaan keracunan menu soto ayam yang dibagikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 pada Jumat, 9 Januari 2026.

Wakil Gubernur Jawa Timur (Jatim) Emil Elestianto Dardak mengatakan sebanyak 140 pasien di antaranya telah dinyatakan pulih dan dipulangkan dari beberapa fasilitas kesehatan (faskes) yang menjadi tempat perawatannya.

“Saat ini fokus utama adalah penanganan medis bagi 121 pasien yang masih menjalani perawatan intensif. Mereka tersebar di pondok pesantren, rumah sakit, dan Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM),” katanya, Minggu, 11 Januari 2026.

BACA: Dugaan Keracunan MBG di Mojokerto, Anggota DPRD Jatim Minta Evaluasi Total SPPG

Emil menyatakannya saat meninjau pasien yang mengalami gangguan kesehatan akibat dugaan keracunan MBG di Pondok Pesantren Ma’had An Nur dan RSUD Prof. dr. Soekandar, Mojokerto.

Menurutnya, penanganan medis difokuskan pada rehidrasi melalui pemberian cairan infus. Selain itu, pemberian obat-obatan penunjang, seperti zinc untuk mempercepat pemulihan fungsi pencernaan pasien yang mayoritas mengalami gejala mual akut.

Terkait penyebab keracunan, Dinas Kesehatan Jatim tengah melakukan investigasi epidemiologi terhadap menu soto ayam yang dikonsumsi pada Jumat, 9 Januari 2026. Penelusuran difokuskan pada rantai pasok bahan pangan hingga prosedur pengolahan.

Pemprov Jatim juga menemukan fakta tidak lazim, yakni korban tetap mengalami keracunan meski hanya mengonsumsi bagian tertentu dari menu, seperti daging ayam saja atau telur saja.

“Kami menemukan pola bahwa korban tetap terdampak meskipun hanya mengonsumsi bagian tertentu. Ini menjadi data krusial untuk menemukan akar permasalahan,” tegas Emil.