Selasa, 19 May 2026 02:14 UTC

Yesita Karel menunjukkan domba ternaknya di kandang Artisnya Domba Jember yang dirintis sejak kuliah di Unmuh Jember. Foto: Zain for Jatimnet
JATIMNET.COM, Jember – Dunia peternakan sering dianggap sebagai bidang yang identik dengan laki-laki. Namun pandangan itu berhasil dipatahkan oleh Yesita Karel, alumni Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) asal Sidomulyo, Kabupaten Jember.
Sejak masih duduk di bangku kuliah, Yesita telah membangun usaha peternakan dan penjualan domba bernama Artisnya Domba Jember. Keputusannya terjun ke dunia ternak menjadi pilihan yang berbeda dibanding kebanyakan mahasiswa yang fokus mencari pekerjaan setelah lulus.
Yesita mulai merintis usahanya pada 2017. Ia tumbuh di lingkungan keluarga peternak domba, sehingga sejak kecil sudah akrab dengan aktivitas di kandang, mulai dari pemberian pakan hingga proses jual beli ternak.
Lingkungan tempat tinggalnya di Sidomulyo yang mayoritas dihuni peternak juga membuatnya semakin memahami potensi bisnis tersebut. Melihat peluang yang besar, ia memberanikan diri membuka usaha sendiri sejak semester awal perkuliahan.
BACA: 7 Tahun Beroperasi, Transmart Jember Resmi Tutup: Ini Penggantinya
“Saya ingin punya penghasilan sendiri. Dari kecil sudah melihat peluang itu ada di sekitar rumah, jadi saya memberanikan diri untuk mulai,” ujarnya.
Menjadi peternak perempuan ternyata tidak mudah. Yesita mengaku sempat dihantui berbagai kekhawatiran, mulai dari takut dagangannya tidak laku, khawatir tertipu, hingga risiko pencurian ternak.
Ia juga harus belajar banyak hal terkait dunia peternakan. Mulai dari memahami usia domba, menentukan bobot ideal, mengenali jenis domba unggulan, hingga memilih jasa pengiriman terbaik untuk pembeli luar daerah.
Selain tantangan teknis, Yesita kerap menghadapi stigma bahwa bisnis peternakan bukan bidang yang lazim digeluti perempuan. Namun ia memilih membuktikan kemampuannya melalui kerja nyata.
Ia terus belajar langsung di lapangan dengan mengamati, bertanya, dan memahami seluk-beluk usaha ternak secara bertahap.
Ujian terberat datang ketika pandemi dan wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) melanda. Saat itu, pengiriman domba mengalami pembatasan, sementara sejumlah ternak di kandangnya terserang penyakit hingga mati.
“Pernah merasa sangat berat. Saat wabah PMK, pengiriman terhambat, beberapa domba sakit bahkan mati. Tapi saya memilih tetap bertahan karena saya percaya usaha ini bisa berkembang,” katanya.
Ketekunan Yesita akhirnya membuahkan hasil. Pada 2022, omzet penjualannya meningkat signifikan. Ia tidak lagi hanya menjual domba lokal, tetapi mulai menghadirkan domba jenis Merino, Dormas, hingga Sopas.
Perkembangan bisnisnya juga terlihat dari jumlah kandang yang dimiliki. Jika sebelumnya hanya memiliki satu kandang, kini Artisnya Domba Jember telah memiliki tiga kandang aktif untuk mendukung operasional usaha.
Dari bisnis tersebut, Yesita mampu membayar uang kuliah tunggal (UKT) secara mandiri sejak semester pertama hingga lulus. Ia juga berhasil membeli motor, handphone, serta membantu renovasi rumah keluarganya.
“Bangga sekali bisa sampai di titik ini. Saya sangat berterima kasih kepada kedua orang tua dan kakak-kakak saya yang selalu memberi support dan doa,” ungkapnya.
Bagi Yesita, perjalanan kuliah di Unmuh Jember bukan hanya tentang mengejar nilai akademik. Ia merasa kampus telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih disiplin, mampu berkomunikasi dengan baik, serta terampil mengatur waktu dan bekerja sama dalam tim.
Pengalaman paling membekas baginya terjadi saat semester akhir. Ketika itu, ia hampir mengalami kendala besar dalam proses skripsi akibat perubahan judul tanpa koordinasi penuh dengan dosen pembimbing.
BACA: Kejari Jember Prioritaskan Korupsi Besar, Kasus BOS Tetap Disidik
Situasi tersebut sempat membuatnya takut kelulusan tertunda. Namun dari pengalaman itu, ia justru belajar tentang pentingnya komunikasi dan tanggung jawab.
“Dari situ saya belajar, jangan seenaknya mengubah sesuatu tanpa komunikasi yang jelas. Dalam bisnis juga begitu, jangan diam-diam mengganti produk atau harga ke klien. Kalau salah, cepat minta maaf dan beri solusi,” jelasnya.
Yesita percaya keberhasilan tidak datang secara instan. Menurutnya, langkah awal menuju kesuksesan adalah keberanian untuk memulai.
“Mengambil langkah pertama adalah awal untuk mewujudkan cita-cita menjadi pengusaha. Saya percaya usaha tidak akan mengkhianati hasil, dan Allah SWT tidak menunda, tetapi menata,” tuturnya.
Kini, Yesita terus mengembangkan Artisnya Domba Jember dengan target menjadi ahli di bidang peternakan sekaligus pengusaha sukses yang mampu membuka peluang kerja bagi banyak orang.
Kisah Yesita menjadi bukti bahwa perempuan mampu sukses di bidang apa pun, termasuk peternakan. Baginya, keberhasilan bukan ditentukan gender, melainkan keberanian untuk memulai dan konsistensi untuk bertahan.
