Minggu, 17 May 2026 09:30 UTC

Totem harga menunjukkan BP Ultimate Diesel tembus Rp 30 ribu lebih. (JawaPos.com)
JATIMNET.COM, Surabaya – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi pada Mei 2026 mulai memunculkan tekanan baru terhadap sektor logistik dan distribusi barang di daerah.
Sejumlah produk diesel berkualitas tinggi bahkan telah menembus level Rp30 ribu per liter, memicu kekhawatiran meningkatnya ongkos distribusi pangan dan biaya operasional dunia usaha.
Berdasarkan pembaruan harga BBM per pertengahan Mei 2026, Shell V-Power Diesel tercatat berada di level Rp30.890 per liter. Harga serupa juga berlaku untuk Diesel Primus milik Vivo. Kenaikan tersebut menjadi salah satu lonjakan tertinggi pada produk BBM non-subsidi dalam beberapa bulan terakhir.
CNBC Indonesia pada Minggu, 11 Mei 2026, melaporkan harga Shell V-Power Diesel resmi berada di angka Rp30.890 per liter setelah penyesuaian harga dilakukan sejak awal Mei 2026.
Sementara, Bloomberg Technoz dan Detik Finance juga mencatat Diesel Primus Vivo mengalami kenaikan tajam dibanding April 2026 dan kini menyentuh level yang sama.
Kenaikan terutama terjadi pada jenis BBM diesel non-subsidi yang selama ini digunakan kendaraan distribusi barang, armada logistik, alat berat, hingga transportasi sektor industri dan perikanan. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memperbesar biaya rantai pasok nasional apabila berlangsung dalam waktu panjang.
Pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, menilai penyesuaian harga BBM non-subsidi masih berkaitan langsung dengan fluktuasi harga minyak mentah dunia dan nilai tukar rupiah.
“Kenaikan harga BBM non-subsidi memang tidak bisa dilepaskan dari harga minyak dunia dan kurs rupiah terhadap dolar AS,” ujar Fahmy Radhi seperti dikutip Metro TV News, Sabtu, 19 April 2026.
Menurut Fahmy, dampak paling cepat dari kenaikan diesel non-subsidi biasanya dirasakan sektor distribusi dan transportasi barang karena kendaraan niaga memiliki ketergantungan tinggi terhadap BBM diesel.
Di Jawa Timur, tekanan tersebut diperkirakan akan memengaruhi biaya distribusi antardaerah karena provinsi ini menjadi salah satu pusat logistik utama nasional. Distribusi beras, gula, telur ayam, hasil perikanan, hingga produk manufaktur menuju kawasan Indonesia timur sebagian besar bertumpu pada transportasi darat dan laut berbasis solar dan diesel.
Kenaikan biaya energi juga mulai menjadi perhatian di sektor perikanan dan transportasi laut. BBM selama ini menjadi komponen biaya terbesar aktivitas melaut dan pengiriman hasil tangkapan ikan dari wilayah pesisir menuju pasar distribusi regional.
Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat kelompok transportasi menjadi salah satu penyumbang inflasi nasional April 2026. Dalam rilis resmi BPS pada Jumat (2/5/2026), Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Pudji Ismartini menyebut komoditas bensin dan tarif angkutan udara memberi andil terhadap inflasi bulanan.
“Kelompok transportasi memberikan andil inflasi bulanan terutama disumbang oleh bensin dan tarif angkutan udara,” kata Pudji Ismartini dalam konferensi pers inflasi April 2026.
BPS mencatat inflasi tahunan Indonesia pada April 2026 mencapai 2,42 persen. Meski masih dalam rentang sasaran pemerintah, tekanan pada kelompok transportasi dinilai menjadi indikator penting karena berkaitan langsung dengan biaya distribusi barang dan mobilitas masyarakat.
Tekanan harga energi global sendiri masih berlangsung hingga pertengahan Mei 2026. CNBC Indonesia sebelumnya melaporkan pergerakan harga minyak dunia masih dipengaruhi ketidakpastian geopolitik dan dinamika produksi negara-negara eksportir minyak.
Kondisi tersebut membuat harga BBM non-subsidi di dalam negeri lebih cepat bergerak mengikuti pasar internasional.
Berbeda dengan BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar yang harganya masih dikendalikan pemerintah, produk non-subsidi disesuaikan mengikuti harga minyak mentah dan nilai tukar.
Di tengah kenaikan BBM non-subsidi, pemerintah hingga kini belum memberikan sinyal perubahan terhadap harga BBM subsidi. Kebijakan itu dinilai penting untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus menahan tekanan inflasi domestik pada semester pertama 2026.
Meski demikian, pelaku usaha logistik memperkirakan biaya distribusi masih akan menghadapi tekanan apabila harga energi global tetap tinggi dalam beberapa bulan ke depan.
Jawa Timur sebagai salah satu simpul distribusi nasional diperkirakan menjadi wilayah yang paling cepat merasakan dampak perubahan biaya bahan bakar terhadap harga barang dan rantai pasok pangan.
