Logo

Tips Berkendara di Pegunungan Saat Cuaca Tak Menentu

Perjalanan yang aman sering ditentukan oleh persiapan sederhana sebelum kendaraan mulai bergerak.
Reporter:,Editor:

Rabu, 03 June 2026 05:00 UTC

Tips Berkendara di Pegunungan Saat Cuaca Tak Menentu

Ilustrasi: Aman di jalur pegunungan. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Tips berkendara di pegunungan semakin relevan ketika musim hujan datang atau cuaca berubah secara cepat. Peristiwa longsor yang sempat mengganggu akses jalan Trenggalek–Ponorogo menjadi pengingat bahwa perjalanan di wilayah perbukitan memiliki tantangan yang berbeda dibanding jalan perkotaan.

 

Banyak pengendara fokus pada tujuan akhir, tetapi sering mengabaikan faktor lingkungan yang dapat berubah dalam hitungan menit. Kabut, hujan deras, jalan licin, hingga potensi longsor menjadi risiko yang perlu dipahami sebelum memulai perjalanan.

 

Data Korps Lalu Lintas Kepolisian Republik Indonesia menunjukkan kecelakaan lalu lintas masih menjadi salah satu penyebab utama korban meninggal akibat kecelakaan transportasi darat setiap tahun. Faktor manusia tetap mendominasi penyebab kecelakaan, termasuk kurangnya antisipasi terhadap kondisi jalan dan cuaca.

 

Karena itu, memahami cara berkendara yang aman di jalur pegunungan bukan hanya penting bagi pengendara jarak jauh, tetapi juga bagi masyarakat yang rutin melintasi kawasan berbukit dalam aktivitas sehari-hari.

 

 

Mengapa Jalan Pegunungan Lebih Berisiko?

 

Kawasan pegunungan memiliki karakteristik yang berbeda dibanding jalur datar. Kemiringan jalan, tikungan tajam, jarak pandang terbatas, dan perubahan cuaca yang cepat membuat pengendara harus lebih waspada.

 

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah pegunungan cenderung mengalami perubahan cuaca lokal yang berlangsung lebih cepat dibanding daerah dataran rendah. Kabut dapat muncul secara tiba-tiba dan mengurangi jarak pandang secara signifikan.

 

Selain itu, data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan tanah longsor termasuk salah satu jenis bencana yang paling sering terjadi di Indonesia. Pada banyak kasus, longsor dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung dalam waktu tertentu.

 

Di Pulau Jawa sendiri, Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat banyak daerah berada pada zona kerentanan gerakan tanah menengah hingga tinggi. Kondisi ini membuat pengendara perlu memperhatikan informasi cuaca dan kondisi jalan sebelum berangkat.

 

 

Pastikan Kendaraan dalam Kondisi Prima

 

Persiapan kendaraan menjadi langkah pertama yang tidak boleh diabaikan. Banyak kecelakaan di jalur menanjak atau menurun terjadi karena masalah teknis yang sebenarnya dapat dicegah.

 

Kementerian Perhubungan secara rutin mengingatkan pentingnya pemeriksaan rem, ban, lampu, dan sistem kemudi sebelum perjalanan jarak jauh. Rem yang tidak optimal sangat berbahaya ketika digunakan pada turunan panjang.

 

Ban juga berperan besar dalam menjaga daya cengkeram kendaraan di jalan basah. Kedalaman alur ban yang sudah menipis dapat meningkatkan risiko tergelincir ketika melintasi permukaan licin.

 

Untuk pengendara motor, penggunaan helm berstandar nasional dan jas hujan yang tidak mengganggu pergerakan tetap menjadi perlengkapan dasar yang wajib digunakan. Sementara pengguna mobil perlu memastikan kondisi wiper dan lampu utama berfungsi dengan baik saat hujan atau kabut.

 

 

Jangan Memaksakan Kecepatan

 

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah mempertahankan kecepatan tinggi ketika kondisi jalan mulai memburuk. Padahal, keselamatan di pegunungan lebih banyak ditentukan oleh kemampuan membaca situasi dibanding kecepatan kendaraan.

 

Panduan keselamatan berkendara yang diterbitkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa peningkatan kecepatan kendaraan berbanding lurus dengan risiko kecelakaan fatal. Semakin tinggi kecepatan, semakin sedikit waktu yang tersedia untuk bereaksi terhadap bahaya.

 

Di jalur pegunungan, pengendara sebaiknya menjaga jarak aman lebih panjang dibanding kondisi normal. Tikungan tajam dan kendaraan dari arah berlawanan sering muncul tanpa terlihat lebih awal.

 

Saat kabut mulai menebal, lampu utama perlu dinyalakan meskipun masih siang hari. Tujuannya bukan hanya membantu penglihatan pengendara, tetapi juga meningkatkan visibilitas kendaraan bagi pengguna jalan lainnya.

 

 

Waspadai Tanda-Tanda Longsor dan Cuaca Ekstrem

 

Tidak semua pengendara memahami tanda awal yang sering muncul sebelum longsor terjadi. Padahal, beberapa indikasi dapat dikenali secara sederhana ketika melintas di kawasan rawan.

 

Badan Geologi Kementerian ESDM menjelaskan bahwa retakan tanah baru, batu kecil yang mulai berjatuhan, pohon miring secara tidak wajar, dan aliran air keruh dari lereng dapat menjadi sinyal adanya pergerakan tanah.

 

Ketika hujan deras berlangsung dalam waktu lama, risiko longsor biasanya meningkat. Dalam kondisi seperti ini, mencari lokasi aman untuk berhenti sementara sering menjadi pilihan yang lebih bijak dibanding memaksakan perjalanan.

 

Pengendara juga disarankan mengikuti informasi resmi dari BMKG, BPBD daerah, kepolisian, maupun pengelola jalan terkait kondisi terkini di lapangan. Informasi tersebut dapat membantu menentukan apakah perjalanan perlu dilanjutkan atau ditunda.

 

 

Keselamatan Dimulai Sebelum Berangkat

 

Perjalanan di jalur pegunungan menawarkan pemandangan yang indah, tetapi juga membutuhkan tingkat kesiapan yang lebih tinggi. Cuaca yang berubah cepat dan kondisi geografis yang menantang membuat setiap keputusan di jalan memiliki dampak besar terhadap keselamatan.

 

Karena itu, tips berkendara di pegunungan tidak hanya soal teknik mengemudi. Persiapan kendaraan, pemantauan cuaca, pengendalian kecepatan, dan kemampuan mengenali potensi bahaya merupakan bagian dari kebiasaan yang perlu dibangun sejak awal.

 

Ketika pengendara lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan, perjalanan akan terasa lebih tenang, lebih nyaman, dan tentu saja lebih aman bagi semua pengguna jalan.