Logo

Sebelum Checkout, Coba Tunggu 24 Jam Dulu

Kemudahan membeli barang seharusnya diimbangi kemampuan berhenti sejenak dan bertanya: apakah benda ini benar-benar diperlukan?
Reporter:,Editor:

Senin, 05 October 2026 11:00 UTC

Sebelum Checkout, Coba Tunggu 24 Jam Dulu

Ilustrasi: Jeda Sebelum Belanja. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Belanja online semakin mudah dilakukan dari rumah. Barang yang sebelumnya membutuhkan perjalanan ke toko kini dapat dicari, dibandingkan, dibayar, dan dikirim hanya melalui telepon genggam.

Perubahan tersebut berjalan bersama meluasnya penggunaan internet. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024, meningkat dari 69,21 persen pada 2023. Pada tahun yang sama, 68,65 persen penduduk Indonesia tercatat memiliki telepon seluler.

Kemudahan digital memberikan banyak manfaat. Konsumen dapat membandingkan harga, menemukan barang yang sulit tersedia di daerahnya, hingga berbelanja tanpa menghabiskan waktu perjalanan.

Namun ada konsekuensi kecil yang sering luput: jarak antara “ingin” dan “membeli” semakin pendek. Karena itulah aturan sederhana menunggu 24 jam sebelum checkout barang yang tidak mendesak layak dicoba.

 

Belanja Sekarang Hanya Membutuhkan Beberapa Sentuhan

Dulu, membeli sebuah barang membutuhkan sejumlah tahapan fisik. Orang harus keluar rumah, mendatangi toko, melihat produk, bertanya kepada penjual, membawa uang, kemudian membawa barang pulang. Setiap tahapan menyediakan waktu untuk berpikir.

Belanja digital memangkas sebagian besar hambatan tersebut. Barang dapat ditemukan ketika seseorang sedang duduk di sofa, beristirahat setelah bekerja, atau sekadar membuka media sosial sebelum tidur. Perubahan ekosistem pembayaran ikut mempercepat prosesnya.

Bank Indonesia mencatat QRIS telah menjangkau sekitar 57 juta pengguna dan 39,3 juta merchant pada semester pertama 2025. Sekitar 93,16 persen merchant tersebut merupakan UMKM. Dalam enam bulan pertama 2025, transaksi QRIS mencapai sekitar 6,05 miliar transaksi dengan nilai Rp579 triliun.

Pada Juli 2025 saja, volume pembayaran digital Indonesia mencapai 4,44 miliar transaksi. Angka tersebut tentu tidak berarti masyarakat melakukan pembelian impulsif.

Pembayaran digital juga digunakan untuk berbagai transaksi produktif dan kebutuhan sehari-hari. Namun skala itu memperlihatkan satu hal: transaksi digital sudah menjadi bagian biasa dari kehidupan masyarakat.

Karena pembayaran semakin mudah, kemampuan membuat keputusan sebelum membayar menjadi semakin penting.

 

Diskon Bisa Mengubah Cara Kita Menilai Kebutuhan

Tulisan “diskon 50 persen” sering membuat perhatian pertama tertuju pada uang yang dianggap berhasil dihemat. Padahal ada pertanyaan yang lebih mendasar.

Apakah barang tersebut memang akan dibeli jika tidak sedang diskon? Jika jawabannya tidak, pengeluaran tersebut belum tentu merupakan penghematan.

Barang seharga Rp200.000 yang turun menjadi Rp100.000 memang memberikan potongan Rp100.000. Namun jika barang tersebut sebenarnya tidak diperlukan, konsumen tetap mengeluarkan Rp100.000.

Teknik promosi digital juga membuat keputusan terasa mendesak. Ada hitung mundur, stok terbatas, voucher dengan masa berlaku pendek, gratis ongkir, flash sale, hingga rekomendasi produk yang terus muncul.

Konsumen akhirnya tidak hanya mempertimbangkan barang. Mereka juga menghadapi tekanan waktu. Padahal sebagian kebutuhan rumah tangga tidak memerlukan keputusan dalam hitungan menit. Di sinilah jeda 24 jam berguna.

Masukkan barang ke keranjang jika memang menarik, kemudian tutup aplikasinya. Besok, lihat kembali.

Keinginan yang masih terasa masuk akal setelah satu hari biasanya lebih mudah dievaluasi secara rasional dibanding dorongan beberapa detik setelah melihat promosi.

 

Periksa Rumah Sebelum Membeli

Sebelum checkout, lakukan satu langkah yang sangat sederhana: cari barang serupa di rumah. Ingin membeli botol minum baru? Periksa lemari. Ingin membeli wadah makanan? Hitung yang sudah tersedia. Ingin membeli kaus baru? Lihat kembali pakaian yang jarang digunakan. Ingin membeli kabel pengisi daya? Periksa laci elektronik.

Langkah kecil ini penting karena manusia mudah lupa terhadap benda yang tidak terlihat. Barang yang tersimpan di bagian belakang lemari seolah menghilang dari ingatan. Akibatnya, seseorang dapat membeli benda dengan fungsi sama tanpa menyadari bahwa barang tersebut sebenarnya sudah tersedia di rumah.

Masalahnya bukan hanya uang. Setiap pembelian baru membutuhkan ruang penyimpanan. Barang datang bersama kemasan. Sebagian membutuhkan perawatan.

Beberapa bulan kemudian, benda yang jarang digunakan dapat berubah menjadi isi lemari yang kembali harus dibereskan. Karena itu, keputusan belanja sebenarnya juga merupakan keputusan tentang ruang rumah.

 

Buat Tiga Pertanyaan Sebelum Checkout

Aturan 24 jam akan lebih efektif jika disertai tiga pertanyaan. Pertama, apakah saya benar-benar membutuhkan fungsi barang ini? Fokus pada fungsi, bukan tampilannya. Dua benda dengan desain berbeda mungkin melakukan pekerjaan yang sama.

Kedua, apakah saya sudah memiliki sesuatu yang bisa menggantikannya? Tidak harus identik. Jika fungsi barang lama masih mencukupi, pembelian baru mungkin dapat ditunda. Ketiga, apakah saya tetap akan membelinya tanpa diskon?

Pertanyaan ketiga sangat berguna untuk membedakan kebutuhan dengan ketertarikan terhadap harga. Jika ketiga jawabannya tetap mengarah pada pembelian, transaksi bisa dilakukan dengan lebih yakin.

Cara ini tidak bertujuan membuat orang berhenti berbelanja. Konsumsi merupakan bagian normal kehidupan dan mempunyai peran penting dalam perekonomian. Yang diubah hanyalah urutannya: pikirkan dahulu, kemudian bayar.

 

Belanja Digital Sudah Menjadi Ekosistem Besar

BPS melalui Statistik E-Commerce 2024 mencatat aktivitas perdagangan elektronik telah berkembang menjadi bagian penting ekonomi digital Indonesia. Survei tersebut memotret profil usaha, tenaga kerja, aktivitas, hingga nilai transaksi e-commerce di berbagai provinsi.

Perkembangan itu berjalan bersama semakin besarnya ekosistem pembayaran digital. Bank Indonesia mencatat pada triwulan III 2025 terdapat sekitar 12,99 miliar transaksi pembayaran digital, tumbuh 38,08 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Transaksi QRIS pada periode tersebut bahkan tumbuh 147,65 persen secara tahunan. Angka sebesar itu memperlihatkan betapa normalnya transaksi tanpa uang tunai dalam kehidupan sehari-hari.

Namun teknologi pembayaran bekerja untuk mempercepat transaksi, bukan menentukan apakah transaksi tersebut diperlukan. Keputusan terakhir tetap berada di tangan pengguna.

Karena itu, keterampilan konsumsi pada era digital bukan sekadar kemampuan mencari harga termurah. Kemampuan menunda transaksi juga menjadi bagian dari kecakapan berbelanja.

 

Wishlist Lebih Berguna daripada Keranjang Belanja

Ada satu kebiasaan sederhana lain yang dapat dicoba. Jangan menjadikan keranjang belanja sebagai tempat menyimpan semua keinginan. Gunakan wishlist.

Secara psikologis, barang di keranjang terasa lebih dekat dengan transaksi. Wishlist memberi jarak karena fungsinya memang menyimpan sesuatu untuk dipertimbangkan kemudian.

Buat daftar berdasarkan kebutuhan. Ada barang yang perlu dibeli bulan ini, barang yang bisa menunggu, dan barang yang sekadar menarik. Setelah beberapa minggu, buka kembali daftar tersebut.

Menariknya, sebagian barang yang sebelumnya terasa sangat diinginkan mungkin sudah kehilangan daya tarik. Tidak terjadi apa-apa karena kita tidak membelinya. Itulah salah satu manfaat jeda.

 

Rumah Bisa Menjadi Pengingat Terbaik

Jika ingin mengurangi pembelian yang tidak perlu, rumah sebenarnya menyediakan data paling sederhana. Buka lemari. Lihat berapa banyak pakaian yang jarang dipakai. Periksa berapa banyak wadah makanan tanpa pasangan. Hitung tas yang hampir tidak pernah dibawa.

Lihat kabel lama, peralatan dapur, dekorasi, botol minum, dan benda kecil lainnya. Semua itu merupakan rekam jejak keputusan konsumsi masa lalu.Tidak perlu merasa bersalah melihatnya. Gunakan sebagai informasi untuk keputusan berikutnya.

Ketika sebuah produk menarik muncul di layar, kita tidak harus langsung mengatakan tidak. Cukup mengatakan: besok saya putuskan.
Jika setelah 24 jam barang tersebut masih diperlukan, anggaran tersedia, tidak ada benda lain yang dapat menggantikannya, dan kita tahu persis akan digunakan untuk apa, membeli tentu bukan masalah.

Namun jika keinginan itu hilang setelah satu malam, kita baru saja menghemat sesuatu yang lebih berharga daripada selisih diskon.
Kita berhasil menjaga uang, ruang rumah, dan satu barang lagi agar tidak berakhir menjadi benda yang suatu hari harus dipilah kembali.