Rabu, 01 April 2026 22:30 UTC

Kampanye anti bullying. Foto: Pixbay
JATIMNET.COM, Jember – Kasus dugaan pengeroyokan terhadap remaja berinisial F (15) di Kabupaten Jember, Jawa Timur, menyisakan dampak psikologis serius bagi korban. Selain mengalami luka fisik, korban juga diduga dipermalukan melalui video yang beredar di lingkungan sekolah.
Peristiwa pengeroyokan itu terjadi pada Sabtu malam (28/3/2026) di wilayah Bulakan, Desa Keting, Kecamatan Jombang. Korban sebelumnya dijemput paksa oleh sejumlah temannya sebelum akhirnya dikeroyok oleh sekitar 10 orang.
Ibu korban, Samiati, mengungkapkan bahwa anaknya sempat direkam dalam kondisi tidak mengenakan pakaian lengkap saat kejadian berlangsung.
“Anak saya itu di videonya nggak pakai baju, cuma pakai sempak (celana dalam, red). Itu yang bikin dia malu dan takut,” ungkapnya dengan nada pilu.
Video tersebut diduga disebarkan ke dalam grup sekolah. Akibatnya, korban mengalami tekanan mental yang cukup berat.
BACA: Hendak Kunjungi Anak, Lansia Tewas Tertabrak KA Sri Tanjung di Perlintasan Sumberbaru Jember
Saat ini, korban memilih tidak masuk sekolah sejak Senin, 30 Maret 2026. Ia mengaku takut kejadian serupa terulang serta merasa malu atas kejadian yang menimpanya.
“Sekarang nggak mau sekolah dulu, takut dan malu,” tambah Samiati.
Selain itu, beredar sedikitnya empat video yang memperlihatkan dugaan aksi perundungan tersebut, yang semakin memperparah kondisi psikologis korban.
Sementara itu, dari hasil penelusuran sementara, insiden ini diduga dipicu oleh kesalahpahaman terkait penggunaan ponsel korban. Ponsel tersebut sempat digunakan pihak lain untuk mengirim voice note (VN) yang dianggap tidak pantas, sehingga memicu kemarahan.
Kasus ini telah dilaporkan ke Polsek Jombang dan saat ini masih dalam proses penanganan. Polisi juga telah melakukan visum terhadap korban.
Di sisi lain, peristiwa ini bermula dari aksi pengeroyokan brutal oleh sekitar 10 orang yang menjemput paksa korban pada malam hari. Korban bahkan sempat ditinggalkan di lokasi dan berjalan kaki sejauh tiga kilometer dalam kondisi luka untuk pulang ke rumah.
