Logo

Recovery Jadi Bagian Penting Rutinitas Olahraga

Tubuh yang aktif juga membutuhkan waktu untuk kembali siap bekerja.
Reporter:,Editor:

Senin, 31 August 2026 00:00 UTC

Recovery Jadi Bagian Penting Rutinitas Olahraga

Ilustrasi: Saat Tubuh Memulihkan Diri. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Pemulihan tubuh sering mendapat porsi paling kecil dalam rutinitas olahraga. Jadwal lari dicatat, repetisi latihan dihitung, target mingguan dibuat, tetapi waktu recovery kadang dianggap sebagai hari tanpa progres.

Padahal, latihan memberi tubuh beban yang memang dirancang untuk memicu adaptasi. Setelahnya, otot, tendon, simpanan energi, serta sistem tubuh membutuhkan kesempatan untuk pulih sebelum menerima beban berikutnya.

American College of Sports Medicine (ACSM) mencatat nyeri otot setelah aktivitas baru atau latihan yang lebih intens dapat muncul dalam 24–48 jam. Rasa pegal tersebut juga bukan syarat bahwa sebuah latihan telah berhasil.

Bagi orang yang sedang menikmati tren lari, gym, bersepeda, atau olahraga komunitas di Surabaya, bagian ini mudah terlewat. Semangat latihan kadang jauh lebih cepat daripada kemampuan tubuh beradaptasi.

 

Jadwal Penuh Belum Tentu Membuat Latihan Lebih Baik

Sore di Surabaya sekarang cukup mudah menemukan kelompok pelari, pesepeda, hingga orang yang berolahraga selepas bekerja. Aktivitas fisik semakin masuk ke agenda sosial, bukan lagi urusan akhir pekan semata.

Masalah muncul ketika olahraga berubah menjadi perlombaan kecil dengan diri sendiri. Senin latihan beban, Selasa lari, Rabu kembali ke gym, lalu akhir pekan mengikuti kegiatan komunitas. Kalender terlihat produktif, sementara kaki terasa berat sejak bangun tidur.

Pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberi gambaran yang lebih masuk akal. Orang dewasa dianjurkan melakukan 150–300 menit aktivitas aerobik intensitas sedang per minggu, atau 75–150 menit aktivitas intensitas berat, maupun kombinasi keduanya. Latihan penguatan otot dianjurkan setidaknya dua hari dalam seminggu.

Rekomendasi tersebut tidak berarti seluruh tujuh hari harus dipenuhi latihan berat. Bahkan CDC mencontohkan target 150 menit dapat dibagi menjadi sekitar 30 menit sehari selama lima hari. Aktivitasnya juga dapat dipecah menjadi bagian lebih kecil sepanjang minggu.

Jadi, konsistensi tidak perlu diterjemahkan sebagai latihan keras setiap hari. Tubuh justru membutuhkan variasi beban agar rutinitas dapat bertahan lama.

 

Pegal Bukan Medali Setelah Berolahraga

Ada kepuasan tersendiri ketika bangun pagi setelah latihan dan paha terasa kaku. Di media sosial, sensasi tersebut bahkan kerap diperlakukan seperti bukti bahwa sesi kemarin benar-benar bekerja.

Secara fisiologis, ceritanya tidak sesederhana itu. ACSM menjelaskan bahwa nyeri dapat muncul setelah olahraga baru atau peningkatan intensitas, tetapi soreness bukan komponen wajib dari recovery yang efektif.

Ini penting bagi orang yang baru kembali berolahraga. Mengejar rasa sakit setiap selesai latihan dapat mendorong seseorang menaikkan beban terlalu cepat, sementara kemampuan tubuh belum mengikuti ambisinya.

Pedoman aktivitas fisik Amerika Serikat justru menyarankan peningkatan latihan penguatan dilakukan bertahap. Pemula dapat memulai dari satu hari per minggu dengan usaha ringan atau sedang, kemudian berkembang menjadi dua hari dan menaikkan intensitas sedikit demi sedikit.

Recovery dengan demikian tidak identik dengan rebahan seharian. Jalan santai, mobilitas ringan, aktivitas rumah tangga, atau gerakan dengan intensitas rendah masih bisa membuat badan bergerak tanpa menambahkan beban latihan besar.

WHO pun menekankan bahwa seluruh aktivitas fisik dapat diperhitungkan, termasuk berjalan kaki, bersepeda sebagai transportasi, pekerjaan, olahraga, dan aktivitas sehari-hari.

 

Tidur Sering Kalah oleh Target Olahraga

Ada paradoks kecil dalam gaya hidup aktif. Seseorang rela bangun pukul lima pagi untuk berlari, tetapi malam sebelumnya masih menggulir media sosial hingga lewat tengah malam.

Latihan akhirnya mendapatkan tambahan waktu dengan mengambil jatah tidur.

American Academy of Sleep Medicine bersama Sleep Research Society merekomendasikan orang dewasa tidur setidaknya tujuh jam setiap malam secara teratur untuk mendukung kesehatan optimal. Konsensus para ahli juga menilai 7–9 jam sebagai durasi yang sesuai bagi orang dewasa sehat.


ACSM memasukkan tidur bersama nutrisi dan hari istirahat teratur sebagai bagian dari strategi pemulihan setelah aktivitas fisik. Alasannya praktis: tubuh perlu memperbaiki jaringan dan mengisi kembali sumber energi setelah menerima stres latihan.

Buat pekerja urban, bagian tersulitnya mungkin bukan memahami teori tersebut. Tantangannya adalah berani mengubah jadwal ketika tubuh sudah lelah.

Sesi olahraga pagi yang direncanakan sejak semalam tidak selalu harus dipertahankan ketika waktu tidur terpangkas jauh. Sesekali memilih tidur cukup lalu memindahkan latihan bukan berarti kehilangan disiplin.

 

Recovery Tidak Harus Mahal

Industri kebugaran membuat pemulihan terlihat semakin canggih. Ada massage gun, compression boots, berbagai perangkat monitoring, minuman khusus, sampai fasilitas recovery yang muncul di pusat kebugaran.

Sebagian alat memang dapat terasa nyaman. Namun fondasinya masih sangat sehari-hari: tidur yang memadai, asupan makanan, hidrasi, pengaturan beban latihan, serta hari dengan aktivitas lebih ringan.

Hal ini membuat recovery sebenarnya cukup relevan dengan ritme kota seperti Surabaya. Setelah lari pagi ketika matahari mulai terasa menyengat atau olahraga sore dalam udara tropis, kebutuhan cairan layak mendapat perhatian.

ACSM menjelaskan bahwa cairan dan elektrolit hilang melalui keringat dan peningkatan pernapasan selama aktivitas fisik. Kebutuhan cairan setiap orang tidak seragam.

Durasi latihan, cuaca, intensitas, tingkat keringat, dan kondisi individu ikut memengaruhinya. Maka, mengejar satu angka hidrasi yang sama untuk semua orang kurang berguna dibanding mengenali kebutuhan tubuh sendiri.

Recovery juga bisa dimulai dari keputusan sederhana: tidak menempatkan sesi kaki berat berdekatan, mengurangi intensitas ketika tubuh terasa belum pulih, atau berjalan santai pada hari tanpa latihan utama.

 

Tubuh Tidak Membaca Streak di Aplikasi

Smartwatch dan aplikasi fitness membuat latihan semakin terukur. Jarak, pace, detak jantung, kalori, hingga jumlah sesi dapat berubah menjadi grafik yang memuaskan untuk dilihat.

Namun tubuh tidak memahami streak. Tubuh merespons beban yang benar-benar diterimanya. Kurang tidur, aktivitas kerja, perjalanan panjang, cuaca panas, dan latihan sehari sebelumnya dapat membuat kesiapan seseorang berbeda meski jadwal aplikasi mengatakan hari ini waktunya berolahraga.

Prinsip yang lebih berguna adalah menjaga aktivitas tetap berjalan sambil memberi ruang bagi adaptasi. WHO bahkan menegaskan bahwa sejumlah aktivitas fisik tetap lebih baik daripada tidak bergerak sama sekali, dan peningkatan durasi, frekuensi, serta intensitas dapat dilakukan secara bertahap.

Batas antara lelah biasa dan masalah yang perlu diperiksa juga penting dikenali. Pegal setelah latihan baru dapat terjadi, tetapi nyeri tajam, pembengkakan berat, gangguan gerak, atau keluhan yang terus memburuk tidak layak diperlakukan sebagai konsekuensi normal dari olahraga.

Di tengah berkembangnya budaya lari, gym, dan olahraga komunitas, recovery dalam rutinitas olahraga mungkin terlihat sebagai bagian yang paling tidak menarik untuk dipamerkan. Tidak ada catatan personal best atau foto garis finis.

Namun besok pagi, ketika kaki kembali terasa ringan untuk berjalan menyusuri trotoar Surabaya atau melakukan sesi latihan berikutnya, fungsi recovery justru terasa paling nyata.